Hujan di Bumi Hijrah




"Palupi, seragamnya mau yang panjang atau pendek?" seorang wanita paruh baya menatap gadis di seberangnya.

"Panjang apa ya, Tante?" Gadis itu menyahut sembari mengerutkan kening. Jika memilih panjang berarti seragam sekolahnya selama tiga tahun harus panjang berkerudung dan konsekuensinya di luar rumah juga harus mengenakan kerudung. Namun Palupi ingin berubah. Gemuruh di dada gadis itu semakin bising. Oh Palupi ia merasa terlalu banyak menimbun masalah di rumah bahkan dosa pada orang tua. Ia ingin berubah tapi sebenarnya masih belum siap, takut dicemooh karena tingkah masih berantakan. Lalu bagaimana dengan almarhum bapaknya yang baru beberapa bulan lalu meninggal? Doa anak shalih adalah salah satu yang bisa memberinya kebaikan.

Shalihkah diri ini? Batin Palupi berteriak. Belum ada secuil pun kebaikannya yang bisa membayar kebaikan bapak. Terlalu banyak pengorbanan beliau. Beliau meninggal tepat beberapa hari setelah mendengar kabar bahwa Palupi diterima di salah satu sekolah swasta. Mereka bukan dari kalangan berada. Untuk membayar biaya uang gedung butuh biaya yang cukup banyak. Bapak rela jika uang untuknya operasi kanker dipakai saja membayar biaya sekolah anak sulungnya. Adakah yang bisa membuat decak kagum Palupi terhenti? Di saat Palupi seolah tidak peduli dengan bapak yang sedang sakit bahkan lebih mementingkan ujian sekolah bapak justru sebaliknya.

Pun demikian dengan seorang mamah yang belum lama sembuh dari pendarahan disusul sakit suaminya ia harus mengurus berbagai hal dan pada akhirnya sang suami pulang ke sisiNya. Mamah harus mengemban amanah 4 orang anak yang masih belia baru berusia 1 tahun. “Luka apalagi yang hendak saya goreskan padanya?” batin Palupi semakin membuncah sesak.

Ditambah lagi dengan rasa malu. Malu karena kedua adik yang sudah bersekolah mereka masuk pondok semua sejak TK dan saat itu adik pertamanya kelas 1 SD, adik keduanya kelas TK B. MasyaAllah. Sedangkan Palupi tidak pernah sekalipun sekolah formal berbasis agama islam. Dan bapak serta mamah pun masih dalam proses menguliti bagian demi bagian tentang islam. Bahkan mamah waktu itu masih berproses dengan kerudung pendek.

"Seragam panjang, Tante," jawab Palupi mantap begitulah kurang lebih percapakan antara mereka. Tante Adilah adalah adik perempuan mamah Palupi yang membantu mengurus pendaftaran jenjang sekolah baru Palupi, bolak-balik ke luar kota, tante juga yang mencarikan kosan sampai pernah berangkat di antar oleh tante padahal niatnya mau naik bis tapi kata beliau nanggung, akhirnya naik motor dan wuuush masyaAllah hanya 3 jam.

Ada hal yang melekat dalam ingatan Palupi ketika diantar oleh Tante Adilah yang kemudian menjadi inspirasinya untuk berhijrah dalam hal busana. Tante sudah terbiasa mengenakan pakaian syar'i. Jilbab lebar dan pakaian yang sederhana, tidak ketat pun tidak menerawang. Sewaktu naik motor, tidak nampak sedikitpun kerepotan karena pakai rok dan bisa dibilang ini bukan perjalanan jarak dekat, lumayan jauh dengan motor apalagi perempuan. “Ih tante kan mampu beli baju yang lebih ngetrend dari ini, kok malah memilih berpakaian ketinggalan zaman gini ya,” celoteh Palupi dalam dada. Apalagi melihat kaos kaki tantenya yang tinggi dan langsung menumpuk dengan celana bagian bawah, sedikit tampak karena kan naik motor bebek. Ah ya gadis itu terbiasa dengan lingkungan yang jauh dari islam. Palupi terlalu sering melihat teman-teman perempuan dan laki-laki yang berboncengan menggunakan motor dengan sang perempuan mengenakan baju panjang 3/4, namun celana mini, rambut direbonding. Dan itu adalah hal yang “wah” bagi ia dan teman-temannya, merupakan suatu kebanggaan jika memiliki teman laki-laki yang bisa antar jemput ketika perlu sesuatu atau sekadar main di rumah teman lainnya.

Setapak awal #journeytosyari

Hari-hari sebagai siswa baru pun berlalu. Setelah pembagian seragam akhirnya Palupi memakai kerudung. Dulu ia hanya punya beberapa kerudung instan pendek. Kemudian Palupi membeli beberapa helai kerudung murah, sering disebut sebagai kerudung paris. Saat itu belum booming yang namanya bergo antem, phasmina instan, dll. Style celana pun kebanyakan celana pensil, sama sih sekarang juga ya... Dan saat peralihan itu Palupi belum memiliki banyak baju/celana panjang. Alhamdulillah ia mendapat hibah dari ex. pakaian sepupunya - beberapa celana jeans laki-laki yang kemudian dibawa ke penjahit untuk dijadikan celana pensil semuanya termasuk celana jeans milik Palupi sendiri yang model cutbray bertransformasi menjadi celana pensil.

Selama masa orientasi siswa, Palupi sempat tertarik dengan organisasi rohani islam dan ekstrakurikuler pecinta alam. Alasan kuat bergabung dengan rohis kembali lagi di awal, ia ingin berubah. Perubahan yang tidak muluk-muluk. Setidaknya naik satu tangga saja itu sudah cukup. Apalagi perubahannya  kini dimulai dari titik 0, pada lantai dasar atau bahkan underground. Palupi merasa memerlukan lingkungan yang mendukung, sahabat yang bisa saling berbagi ilmu, saling mengingatkan. Dan alasannya bergabung dengan pecinta alam karena ia memang tertarik dengan kegiatan alam.

Antusiasme Palupi pun berbuah manis. Sesuai harapan, ia bisa bergabung di dalam IRMA (ikatan remaja masjid), wadah bagi siswa kelas 1 yang sementara waktu menggantikan tugas anggota rohis yang terdiri dari siswa kelas 2 saat mereka harus melaksanakan praktik kerja industri selama 3 bulan. Di sisi lain Palupi juga berhasil bergabung dengan eskul pecinta alam.

Bergabung di IRMA setidaknya membuat Palupi minder tapi tidak mundur. Minder karena penampilan diri yang jauh dari lainnya. Memang ada di anggota IRMA yang belum mengenakan kerudung, tapi mereka yang membuat cemburu adalah mereka yang rapi, santun, tertutup dalam balutan kerudungnya. Sedangkan dirinya masih berada dalam tahap penyesuaian. Keluar kos dengan kerudung pun itu sudah peningkatan kebaikan yang luar biasa.

Amanah dan Topeng Diri

Naik kelas 2. Di sinilah saatnya kewajiban diemban. Kelas 2 umumnya menjadi pengurus inti dari setiap organisasi. Tidak disangka Palupi menjadi kandidat ketua akhwat rohis. Makdeg!  “Apa pantas anak seperti saya. Woy nyadar woy!” Palupi mematut diri di depan cermin. Ia sadar diri, beberapa teman yang lain ada yang lebih menonjol dari segi pengetahuan islam, penampilan syar'inya, kecakapan komunikasi, dll. Di samping itu Palupi juga tergabung dalam aktivitas pecinta alam. Tentu sudah banyak yang tahu bahwa kepribadan kelompok pecinta alam dan rohis yang kental itu berbeda – ada yang bilang sangat bertolak belakang. Kalau pengurus rohis biasa tentu tidak terlalu menjadi pusat perhatian. Nah, kalau benar-benar menjadi ketua rohis, apa kata anak rohis? Apa kata para senior? Apa kata yang lain? Palupi belum siap menjadi teladan. Sebab definisi perubahan baik bagi Palupi memang tidak muluk. Ia belum banyak mengenal quran dan sunnah waktu itu. Misalnya nurut jika disuruh orang tua, berpakaian sopan rasanya sudah cukup. Dan tentunya ibadah wajib sholat lima waktu yang full tanpa mulur itu adalah perubahan yang cukup melampaui target baginya. Dulu bapak sampai pernah menyabetkan sapu rotan ke tubuh anaknya nan bandel itu. Hingga setelah bapak meninggal, mimpi yang Palupi alami adalah tentang shalat, dikejar-kejar bapak tanpa henti kecuali kalau dirinya sudah selesai shalat.

‘Ala kulli hal. Palupi terpilih menjadi ketua rohis. Dalam perjalanannya ia juga melibatkan diri ke organisasi di luar sekolah seperti kegiatan literasi offline, selain itu juga SAR setempat yang merekrut kebanyakan dari beberapa pelajar dan mahasiswa.

Teori drama turki memang benar. Selalu dan selalu ada topeng. Manusia memiliki lebih dari satu topeng. Termasuk Palupi yang entah berapa banyak dan ia merasa terlalu kontras perbedaannya. Misalnya, Palupi biasa saja bercanda hingga terbahak di depan teman seangkatan di pecinta alam, namun di depan anak rohis menguap saja begitu terjaga. Palupi biasa saja berboncengan dengan anak laki-laki di SAR bahkan pernah perjalanan jauh bertiga pakai motor- 1 laki-laki, 2 wanita (maklum badannya sososo selim macam anak kecil dan keadaannya kekurangan kendaraan, mohon tidak ditiru), namun di depan anak rohis rapat saja dipisah antara ikhwan-akhwat. Ia tidak ingin bermaksud menggeneralisir bahwa kelompok A adalah baik dan kelompok B adalah buruk. Ini hanya sebagai contoh topeng-topeng yang pernah dikenakan dirinya. Tidak menutup kemungkinan setiap orang bisa melekatkan topeng yang baik di mana saja.

"O, jadi kamu anak pecinta alam yang jadi ketua rohis."

Palupi bukan seorang siswa yang populer. Tapi entahlah saat bertemu salah seorang kakak kelas, ada saja yang mengatakan demikian. Sebagai seorang melankolis, rasa curiga pun muncul, apa maksud pernyataan tersebut? “Tidak, ini tidak mungkin sebuah bentuk pujian dan saya tidak bisa melambung terlalu PD merasa terkenal dengan predikat itu, saya justru khawatir bahwa itu adalah sebuah sindiran.” Terus saja batin Palupi mencerocos penuh selidik. Namanya juga melankolis, sedikit-sedikit curiga. Ah ya memang benar penting sekali mengenali diri sendiri.

Hujan Deras Sekali

Palupi seperti tersentil oleh-Nya. Ia merasa ini caraNya mendidik dirinya. Ditambah lagi dengan intensitas di kegiatan keislaman yang semakin padat. Dari rohis mengantarkannya mengenal beberapa teman pun organisasi keislaman lain. Setidaknya pernah sekali ada kegiatan antar rohis dan study banding dengan rohis di sekolah lain sehingga membuat langkahnya semakin luas. Palupi juga seringkali mencari kegiatan keislaman dari internet. Berawal dari lomba cerpen islami kemudian mengenal panitia atau peserta lain sehingga bisa menimba inspirasi.

Perlahan Palupi mulai mengurangi bersentuhan langsung dengan lawan jenis termasuk salaman dengan teman seangkatan maupun senior-senior pria. Selain itu juga mengurangi celana-celana ketat. Dan waktu itu ia hanya punya sebuah celana bahan yang formal itu pun dibeli karena butuh untuk kegiatan rohis dulu yang melarang pemakaian celana jeans, sisanya celana tidur dan training. Rok pun hanya beberapa. Seringkali ia mengenakan baju tabrak warna. Rok merah, kaos panjang ungu, kerudung putih. Sering juga kaos pendek dan dilapisi jaket.



Seiring berjalananya waktu. Entah berapa kali Palupi dipertemukan dengan ayat tentang perintah menutup aurat dan seringkali kajian kemuslimahan membahas tentang pakaian syar’i yang mana termasuk juga membahas larangan bertasyabuh – menyerupai kaum laki-laki. Pakaian syar’i saat itu belum jadi trend di masyarakat. Tidak seperti sekarang ini di mana produsen pakaian syar’i benar-benar menjamur dan mudah sekali ditemui. Model-modelnya pun bervariasi, bahkan persaingan di antaranya membuat produsen giat berkreasi namun tidak lupa unsur syar’i seperti halnya ava.lable.
Palupi pun dipertemukan oleh-Nya dengan orang-orang seperti Kak Khoti di kegiatan literasi, Kak Ifa dan saudarinya, Mba Enis, Mba Laila dan lainnya. Mereka mengenakan pakaian yang rapi, syar’i membuat nyaman dipandang, serasa ada yang nyess.

Saat tekad itu bulat, masyaAllah ternyata di sudut bumi lain ada tekad yang bergerak seirama. Saat itu Palupi sudah kelas 3. Setelah beberapa kali diketuk tentang busana, selain itu juga menemukan artikel-artikel senada, akhirnya ia memantapkan diri untuk kembali lagi menapak tangga hijrah berikutnya. Bismillah. Menapaki tanah yang baru. Awalnya terasa hangat, barangkali terik baru saja mendarat. Dan lama-kelamaan terasa panasnya.

Palupi memutuskan untuk belajar mengenakan pakaian syar’i seperti gamis meski saat itu baru punya satu itu pun tipis jadi mesti direlakan melipir ke kardus pakaian tersisih. Ya, ketika tekad itu datang ia membereskan seisi lemari, memilah dan memilih. Sehingga tersisa beberapa rok dan atasan yang masih ‘layak’ membersamai hijrahnya. Dari 4 rak baju di lemari menyisakan sedikit saja itu pun karena ada seragam-seragam sekolah yang menumpuk.

Tentang seragam sekolah. Ada seragam olah raga dan seragam jurusan yang mengenakan bawahan berupa celana panjang. Jika seragam jurusan, masih bisa dialihkan dengan seragam lain karena jadwal pelajaran jurusan seringkali bercampur dengan pelajaran umum. Sedangkan seragam olah raga inilah yang menjadi sebab Bu Amanah - mamah Palupi sampai datang jauh-jauh untuk memenuhi panggilan dari sekolah. Selain Bu Amanah, ada juga orang tua dari Nida dan Kayla yang memenuhi undangan sama sepertinya.

Awalnya sekolah sudah menegur dan memberikan kesempatan untuk mereka – Palupi, Nida dan Kayla - membuat bawahan seragam berbentuk seperti kulot. Namun bawahan yang dibuat tidak sesuai dengan apa yang telah diperintahkan. Sisi sebelah roknya ada belahan sehingga melangkah lebih lebar dan leluasa, tapi sebelah lainnya tidak dibelah sehingga menimbulkan beberapa perdebatan. Singkat cerita mereka seringkali berurusan di kantor BK, hingga didatangkan salah seorang ustadz pun sampai pernah diajak ke rumah ustadznya.

Palupi dan dua teman lain yang tidak mengenakan seragam olah raga (lebih tepatnya tidak melepas rok, karena sebenarnya celana seragam terpakai namun dilapisi rok) setiap pemanasan, lari dua kali lipat dari yang lain dan telah menandatangai kesediaan tidak lulus dari sekolah plus materai. Orang tua mereka merasa keberatan dengan hal terakhir. Apalagi Bu Amanah, beliau sampai bilang ke keluarga besar. Heboh? Pasti. Tidak satu dua pesan masuk ke handphone qwerty Palupi. Bahkan Bu Amanah sampai datang lagi ke sekolah bersama Pak Arno salah seorang sahabat almarhum suaminya. Namun pihak sekolah tidak bersedia mencabut pernyataan yang sudah diberikan menimang hal itu memang menyalahi aturan sekolah yang mengharuskan siswa berpakaian seragam olahraga sesuai jadwalnya.

Akhirnya Bu Amanah dan Pak Arno pergi ke kos Palupi. Kata-kata pamungkas dari Pak Aro yang membuat Bu Amanah akhirnya luluh adalah, “Kalau bapaknya Palupi masih hidup, apa yang akan beliau lakukan?”

Mendengar kata-kata dari Pak Arno, Palupi pun turut larut. Pak Cahya – almarhum bapak Palupi -  seringkali melakukan tindakan-tidakan di luar prediksi bahkan ada yang menyebut beliau ‘gila’. Meski pun di sekitarnya tidak ada yang mendukung, Pak Cahya tidak akan goyah jika beliau sudah menggenggam apa yang dianggap benar. Dan pilihannya pun bukan asal pilih, beliau tentu mencari kebenaran tersebut sebelum mengakar dalam dada. Entahlah bagaimana jika ia saat itu mendapati jalan yang telah dipilih anaknya.

Palupi merenung. Ucapan Pak Arno menggugah kenangannya bersama bapak. Ia membayangkan bapak ada di sampingnya. “Ada di antara mereka yang bilang begini pak. Palupi itu pintar, tapi keblinger. Kok kita sama ya Pak. Hehehe.”

Ada pula yang mengatakan pada Palupi, “Sudahlah pakai rok-rokannya nanti saja kalau sudah lulus. Kamu kenal si A? Dulu dia olah raga pakai celana, lho. Dan setelah lulus sekolah subhanallah solehah sekali pakai jilbab.”

Dan sederet penyataan maupun pertanyaan lain banyak yang memburu hari-hari Palupi. Entah itu pertanyaan tentang jilbabnya pun pertanyaan lain yang tidak ada sangkut pautnya yang mencoba menelisik penuh selidik.

Pahit? Iya, barangkali itu adalah obat yang membuat diri semakin kuat. 

Kenapa di antara banyaknya orang yang mengumbar aurat mereka dibiarkan saja tapi saat ada yang mencoba memperbaiki diri justru diperlakukan seperti ini? Kalimat-kalimat pamungkas yang membuatnya tenang biasanya cuitan Ustadz Felix Siauw dan Kak Benefiko di twitter. Beliau saat itu sering bercuit tentang hijab dan tentang pacaran.


Checklist Hijab Syari oleh Kak Benefiko - sumber: pinterest



Di hari yang lain Palupi sendirian dipanggil ke ruang BK. Ada Ustadz Hasan yang sebelumnya pernah didatangkan untuk diskusi dengan Palupi dan dua temannya, kemudian guru-guru yang lain ke luar menyisakan Palupi dan Ustadz Hasan di ruangan. Mereka berdiskusi kembali tentang berbagai hal. Ustadz Hasan pun menjelaskan pada intinya bahwa posisi beliau berusaha tidak memihak, beliau senang melihat siswi-siswi memiliki kemauan untuk menutup aurat. Namun beliau memiliki kekhawatiran, apakah ada ‘hal lain’ yang mendorong keinginan Palupi. Topik diskusi pun merambah tentang pergerakan-pergerakan organisasi yang mengatasnamakan islam, ada yang lurus dan ada pula yang bengkok. Ustadz Hasan menasihati untuk belajar dengan guru. Ya, itulah keinginan Palupi dari dulu. Pada akhirnya Ustadz Hasan tidak pernah sekali pun bilang, “stop!” Mereka pun mengakhiri pertemuan itu, dan seolah ada sekeping damai yang menggenapi puzzle dalam jiwa gadis yang kini semakin menikmati terik yang menyengat di bumi hijrahnya.

Kegiatan keislaman di lingkungan sekolah Palupi saat itu terasa gersang. Sebuah selebaran terpasang di masjid tentang ciri-ciri perekrutan terorisme. Setelah dzuhur yang biasanya ada kajian pun jarang. Palupi teringat sesuatu, “Barangkali ini yang Ustadz Hasan maksud.”

Sebuah lagu dari Bunda Asma Nadia menyentak Palupi,“Aku anak rohis, selalu optimis bukannya sok narsis kami memang manis...Kami aktivis benci anarkis, walau kantongku tipis kubukan teroris.”

Tulisan ini rasanya tidak cukup menyampaikan apa yang dulu pernah terjadi pada Palupi (nama sengaja disamarkan dan beberapa tulisan barangkali tidak 100% sama namun berusaha tidak mengurangi inti dari kisahnya). Tentunya masih banyak kisah Palupi-Palupi lainnya yang belum lama ini terdengar di berbagai sudut bumi hijrah. Kisah ini sebagai catatan bahwa setiap kita memiliki ujiannya masing-masing. Setiap kita memiliki jalannya masing-masing. Tidak luput, setiap kita diperciki hujan yang turun membawa keberkahan. Derasnya pun berbeda-beda. Palupi, seorang gadis yang masih meraba menuju tangga berikutnya juga bukan penjuru yang segalanya pantas ditiru. Ia merasa dirinya masih harus belajar, belajar dan belajar.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat. Palupi lulus dari sekolahnya dan bertemu dengan komunitas pecinta alam muslim. Yang mana membuatnya semakin dan semakin mantap bahwa jilbab tidak menghalangi ke mana pun kakinya melangkah. Pun ia kembali mendapatkan sahabat-sahabat sefrekuensi yang saling menguatkan bukan saling menjatuhkan yang lain, meninggikan diri sendiri. Saling rangkul bukan saling sikut. Bergenggaman tangan, melangkah bersama. Saling menyediakan pundak. Saling menyediakan ruang.





Sebab meniti tiap lekuk bumi hijrah bukan hal yang mudah. Nasihat Ustadz Salim A. Fillah ada 4 bekal yang harus dimiliki dalam berhijrah.









Komentar

  1. Baca cerita hijrah orang sering bikin tertohok, huhu. Orang bertekad kuat yang luar biasa. Apalagi kalau hijrahnya sejak mudah banget.

    BalasHapus
  2. Aku juga sedang belajar menuju tahap ini. Bismillah...

    BalasHapus
  3. Akhirnya lulus juga ya sekolah nya... Alhamdulillah

    Setiap naik gunung, sering ketemu pendaki muslimah dan mereka tetap menutup aurat. Mereka bilang, Islam itu memudahkan, bukan menyulitkan

    BalasHapus
  4. Suka aku baca kisah kisah kayak gini, hijrah nggak kenal waktu dan usia ya. Allah SWT menyediakan semuanya, kita tinggal pilih. Mau bagaimana ujung kisah perjalanan hidup kita nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mba... Dan memilihnya itu yang tidak mudah. Harus selalu minta petujuk sama Yang Maha Tahu #ntms banget nih buat diri yang suka lupa

      Hapus
  5. Ini kisah nyata perjalanan hijrah Mbak atau cerpen ya...? Hehe... berhijrah memang tak mudah yah, selalu ada tantangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. True story yang disamarkan namanya, Mba :)

      Hapus
  6. InsyaAllah semangat berhijrah wanita muslimah tidak kendur, istiqomah dan selalu dibawah perlindungan Allah Swt aamiin

    BalasHapus
  7. Masya Allah terbawa hanyut dg ceritanya :")

    BalasHapus
  8. Selalu suka baca cerita hijrah teman-teman. Semoga Mba (dan saya juga) selalu istiqomah dalam berpakaian muslimah yaa, amiiin

    BalasHapus
  9. Bagus bangat cerita ini, perjalanan hijrah Palupi luar biasa, semoga banyak anak2 perempuan yang mengikuti hujrah ini. Aamiin...

    BalasHapus
  10. Kisah yang menginspirasi, memang benar setiap orang yang melangkah ke jalan hijrah akan menemukan ujiannya masing-masing

    BalasHapus
  11. True storykah ini? Sangat menginspirasi untuk tetap teguh pada apa yang telah menjadi keyakinan apapun yang akan terjadi ya..salut..

    BalasHapus
  12. Kalau sudah dapat hidayah hrs langsung ditangkap terus selalu dijaga agar tidak lepas. Senangnya membaca proses hijrah seseorang :)

    BalasHapus
  13. Mengobati rasa kangen baca cerpen yg dah lama banget gak baca. Pas lg nya kisah nyata.. Ah suka, jadi menginpirasi

    BalasHapus
  14. Saya pake jilbab dr kelas 1 SMA. Tahun 1999 waktu itu. Selebrasi hijrah baru kerasa 5 tahun belakangan ini. Mudah2an hijrah gak dlm bentuk penampilan aja. Sebab pakaian jilbab saya masi sama dgn dulu namun perjalanan spiritual dalam hati nampak2nya cuma saya & Allah yg tau. Heuheu.

    Nice story, Teh.

    BalasHapus

Posting Komentar