Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Daun pun Menangis

ANNIDA ONLINE 2014 “Ini gara-gara Kakak. Aku udah terkenal jadi anak cengeng di sekolah. Kakak jahat!” “Iyan...” “Brak!!!” Gebrakan pintu memberatkan langkah kakiku. Kubalikkan tubuh lusuh menuju sofa. Melepaskan ikatan tali sepatu namun seolah tali itu berpindah mengikat dada. Aku sudah biasa menjadi pelampiasannya saat ia diejek di sekolah. Namun belum pernah dengan cara seperti ini. Tak biasanya kepulanganku disambut dentum pintu bahkan dengan cerca adikku sendiri. Aroma tanah panas diguyur hujan menyedak hidung. Membuatku sedikit lega. Bukan karena aku beruntung bisa mengayuh sepeda dengan kencang dan sampai di rumah tanpa basah kuyup. Perjalanan yang sangat aku harapkan segera sampai tujuan. Sebab Iyan memberiku sms bahwa ingin menceritakan sesuatu. Andai saja anak itu mengalaminya. Tentang aroma ini. Wanginya yang khas. Setelah terik yang menyengat kemudian rintik-rintik air memberi kedamaian. Mungkin hanya aku saja yang berpikir demikian. Ada pula yang berpikir b

Hai masalah yang besar, aku punya Alloh Yang Maha Besar

Teruntuk saudariku yang dirahmati Allah (aamiin) Mendengar ceritamu aku terdiam. Tak bisa berkata. Takut-takut gumulan rasa yang terpendam dalam dirimu melonjak tidak karuan. Ya ukhti fillah, aku mengenal dirimu. Seorang wanita tangguh dengan segala keterbatasannya. Tapi engkau lebih mengenal siapa dirimu. Kau bercerita kepadaku bahwa kau jengkel! Marah! Merasa Alloh itu tidak adil. Alloh memang tidak adil! Itu yang akan kukatakan saat aku melihat teman-temanku memiliki banyak mainan, ayah dan ibu mereka yang selalu memanjakan anak-anaknya di pangkuan, menunjuk sekolah manapun yang sang anak pilih tanpa syarat, harta melimpah ruah, gadget canggih. Itu yang akan kukatakan dengan mata telanjang ini. Ya ukhti fillah, aku tidak pernah merasakan apa yang engkau rasakan. Rasa sakit secara fisikmu atau sakit yang melukai batinmu. Aku tidak bermaksud sok tahu dalam kehidupanmu. Karena sekali lagi kukatakan, aku tidak pernah merasakan apa yang engkau rasakan. Aku adalah aku, engkau adalah dirim

OPAPA

Apel merah ranum menggoda digigit Putri Salju cantik jelita kress lena-lena meliuk-liuk kilau mentereng kinclong silau Opapa cantiknya merah mempesona SiO berteriak lantang,"Woy, lihatlah di sini ada apel hijau." Sia berkilah, "Ah Sio, merah sajalah. Ia yang patut dibangga." TS Di depan R5405 06102014 ___________________________________________________________ SiP beranjak dari tidurnya "Hoaaam" lalat jelalat mencelat "Plak!!!" Sup mengayun raket manyunkan SiP Opapa si perut kuning mencumbui apel merah kedip kedap hening senyap "Apel tetap cantik, Kok." Sup melangikan senyum TS 08102014 ___________________________________________________________ Apel merah pun hijau adalah apel merah dibangga, hijau tak diaku apel merah penyek remuk renyek Opapa si APA tersenyum manis melemparkan akar pohon pada mereka; penyorak bangga kepada apel merah "Gigitlah!" Opapa... TS 22102014

Belajar dari Kuda

Perbincangan singkat dengan kusir kuda membuat renungan berharga. #1 Seekor kuda dengan usia +/- 2 tahun sudah bisa dimanfaatkan untuk menarik delman. Mengangkut penumpang dengan berbagai porsi tubuh. Meski dipecut tetap berjalan tanpa menciut. Terhenyak diingatkan tentang QS 7:179 "Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." Tergambar perumpamaan dari Allah tersebut. Bagaimana manusia bisa lebih 'sesat' dari binatang ternak. Na'udzubillah.. Dari kuda saya belajar. Bagaimana binatang bisa membawa manfaat. Sedangkan manusia yang lengah, terperosok jauh dari kem

Hanya untuk ALLAH

Gambar
Kita mungkin bisa mengelak saat orang menegur hati kita tengah menduakanNya dengan yang tak halal. Tapi, pernahkah bertanya pada nurani? Bahwa kita tengah terombang-ambing dalam kegelapan tanpa parafin? Sepi menjuntai halangi langkah mengejar mimpi. Seolah butuh semangat untuk diri. Berdiri tegak melangkah dengan genggaman erat si 'dia'. Dia yang bukan mahram. Dia yang parasnya mengelilingi setiap sudut. Dia yang... ah, semoga kau tahu maksudku. Hari ini aku tak bermaksud menggurui. Tapi, aku pun ingin menjadi pengingat diri sendiri. Inna Sholati Wanusuki Wamahyaya Wamamati Lillahi Robbil 'aalamiin Sungguh miris, jika engkau wahai teman, bersedia MATI untuk 'dia'. Sekali lagi kukatakan; Dia yang bukan mahram. Dia yang parasnya mengelilingi setiap sudut. Dia yang... ah, semoga kau tahu maksudku. Sesungguhnya.. sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah. ‪#‎selfreminder‬

Belajar dari Kuda

Perbincangan singkat dengan kusir kuda membuat renungan berharga. #1 Seekor kuda dengan usia 1 tahun sudah bisa dimanfaatkan untuk menarik delman. Mengangkut penumpang dengan berbagai porsi tubuh. Meski dipecut tetap berjalan tanpa menciut. Terhenyak diingatkan tentang QS 7:179 "Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." Tergambar perumpamaan dari Allah tersebut. Bagaimana manusia bisa lebih 'sesat' dari binatang ternak. Na'udzubillah.. Dari kuda saya belajar. Bagaimana binatang bisa membawa manfaat. Sedangkan manusia yang lengah, terperosok jauh dari kemanfa

Yang Luput Saat Lebaran

Gambar
Ramadhan tahun ini tinggal beberapa hari lagi. Hal yang tak asing saat Ramadhan adalah acara 'salam-salaman' kegiatan silaturahmi antar keluarga, tetangga, sahabat, dll. Di situ saya termenung... WAHAI WANITA SIAPAKAH MAHRAM KALIAN ? Mereka adalah para lelaki berikut.. Mereka tidak boleh menikahimu selama lamanya. Mereka adalah: 1. Anak lelakimu 2. Cucu laki lakimu kebawah dari jalur apapun 3. Ayahmu 4. Kakekmu keatas dari jalur manapun. 5. Saudara lelaki sekandung 6. Saudara lelaki seayah 7. Saudara lelaki seibu 8. Anak laki dari saudara atau saudarimu (sekandung, seayah atau seibu). (Pokoknya si dia keponakan kita) 9. Pamanmu dari jalur manapun baik dari saudara ayah atau saudara ibu 10. Saudara kakekmu dari jalur kakek manapun. 11. Suami ibumu atau mantan suami ibumu( mantan suami yg pernah bersetubuh dg ibumu) 12. Anak laki suamimu yg ia bawa atau anak laki dari mantan suamimu. 13. Mertuamu ( baik ayah dia atau kakek keatas) atau mantan mertuamu 14. Menantumu atau mantan me

Cenningrara - LMCR 2013

Nominasi LMCR 2013 yang dibukukan: “Cenningrara” karya Inayah Syar “Balada Mbah Kondor, Tanjidor dan Super Junior” karya Arief Sunarya “Alegori Hujan” karya Resna J Nurkirana “Gamelan Dari Negeri Impian” karya Isma Farikha Latifatun Nuzulia “Memories of You” karya Annisa Ramadona “Senandika Cinta Passiliran” karya Faisal Oddang “Aku juga Suka Kamu” karya Ronie Permana “Bayangan Pohon Ranggas Sekarat di Permukaan Telaga” karya Vinny Erika Putri “Bintang dan Langit Malam” karya Ghina Zakia Nurjaman “Bisikan Pertanyaan” karya Wildan Ismail “Bisu Kata Sugih Berada” karya Tally Syifa “Cold Tea” karya Annisa Maria Nur Tri Pamungkas “First Love Regret” karya I Gusti Ayu Mita Cestalia Putri “Gadis Kecil di Taman Kota” karya Willy Aryanto “Gendut” karya Starin Sani “Leddi (Si) GaGa” karya Eti Rahmi “Rumawati” karya Rurin Kurniati “Sebuah Janji, Sebatang Coklat” karya Shela Puzi Dina “Tanah yang Kau Sebut Rumah” karya E

Wahai Hati, Bersabarlah

"Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan." QS. Ath Thur (51) ayat 16 Ada rasa kecewa saat apa yang sudah dikerjakan ternyata harus dirubah lagi. Mengulanginya dari awal. Menghapus noda-noda yang mewarnai si putih. Membuatnya bersih lalu menorehkan tinta kembali. Bukan sekadar memberi warna. Pun harus menatap satu demi satu nilai rupiah berbilang. Membuatnya seimbang meski 0,1 rupiah yang belum pernah kudengar cetakannya dari si BI. Ayat itu melegakan semuanya. Seolah menampar kelenaan hati dengan kekecewaan. Mengingatkan untuk bersabar semasih Allah memberi kesempatan untuk kita bersabar. Sebelum kesabaran tidak ada artinya. Dan banyak orang yang diuji dengan kesabaran lainnya. Apalagi mereka yang diuji ketaatannya pada Rabb namun mereka tetap sabar. Sungguh indah iman mereka, membuat diri iri kepadanya. Ishbir... Ishbir... Ishbir... Kata Abu Bakar ra,