Nice HomeWork 3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Nice HomeWork 3


Nice homework kali ini edisi special tanpa telor. Ada tantangan mebuat surat cinta untuk suami. Saat nulis surat cinta, pas sekali kami sedang LDR-an. Saya sedang di rumah mamah di Brebes, suami masih di Bandung. Dag dig dug nulis sambil chattingan via telegram dengan suami padahal sebelumnya udah cerita ada NHW di IIP suruh bikin surat cinta (saya selalu sharing NHW sama suami malah beliau kadang mem-breakdown materi sebelum istrinya mengerjakan NHW :* ). Setelah selesai nulis surat cinta, kemudian kirim via email dan langsung pamit undur diri di telegram karena memang paket data minim.

Sambil menunggu cerita balasan, baca lagi materi 3 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional...

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.

Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

🙋 PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.

Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

👨‍👩‍👧‍👧 NIKAH

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

👩‍👧‍👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.

Karena

Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang

Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan

Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015

Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

Back to surat cinta. Setelah disuguhkan materi mengenai Membangun Peradaban dari Dalam Rumah selanjutnya adalah mengerjakan Nice Homework yang masing-masing bagi yang sudah menikah, yang singelillah maupun single parent berbeda-beda. Nah saya kebagian yang menikah dan ada hal tentang menulis surat cinta.

Selelsai mengirim surat cinta, besoknya mencoba mengintip email, masih belum ada balasan. Besoknya lagi ngintip email, masih juga belum ada balasan padahal kami (saya dan suami) masih menjalin komunikasi via telegram tapi tidak menyinggung sedikit pun tentang surat cinta. Jadi bikin bingung sebenarnya nyampe ngga sih surat cinta buat Abine Hafshah? Cek ke kotak Sent, ada kok emailnya. Hmmm. Apa jangan-jangan Abine mau bikin sureprise pas pulang ke Brebes? Atau jangan-jangan karena ini bagian dari NHW jadi kurang feelnya :'( padahal ya sambil menyelam minum air. Nulis surat cinta iya karena selama ini belum pernah, paling secara lisan atau via chat yang mudah tertumpuk dan tak terdokumentasikan plus sekalian ngumpulin Nice Homework, hehe.

Setelah beberapa hari menunggu kedatangan abine di Brebes sekaligus menunggu jawaban surat cinta akhirnya terkuak juga. Ternyata email jawabannya sudah masuk di inbox tapi belum terupdate sang email di hp. Huahahaha efek sinyal hp yang belum support 4G sepertinya mah. Nah dibelikan hp juga dadakan sehari sebelum mudik (kan hp umine Hafshah hilang, belum dapat rezeki beli baru). Itu pun hp yang minimal bisa sms-an biar pas mudik bisa kasih kabar sudah sampai mana atau kalau terjadi apa-apa, maklum mudik perdana hanya berdua dengan bayi. Walau bagaimana pun alhamdulillah, kado mini dari suami, bela-belain pulang kantor telat dari biasanya ternyata ada janji sama abang penjual hp. Jazakallahu khairan Abine Hafshah, semoga rezeki terus mengalir dengan keberkahan yang selalu menyertainya.

Kembali lagi ke surat cinta. MasyaAllah senyam-senyum sendiri baca balasan surat cinta dari Abine Hafshah. Romantis iya, lucunya juga iya. Bisaan aja, gendongan Umine Hafshah yang dijaga sepenuh hati sampai kalau ada pull ngomel-ngomel ikut terbawa ke dalam balasan surat cinta :D




Huah. Surat cinta selesai, melirik NWH ada sederet pertanyaan yang begitu tersusun rapi untuk membantu saya Membangun Peradaban dari Dalam Rumah. Ditulis dengan berbagai gaya bebas, khusus Abine, ngutip surat cinta saja ya. Bismillah…

1.Tentang Suamiku, Abine Hafshah
Dear Abi,
Jazakumullahu khairan, atas berbagai hal;
merajut kesabaran dalam setiap laku mendidik istri,
menghadirkan kelembutan kasih sayang ketika istri alpa,
memahami kerapuhan hati istri yang mudah hanyut oleh emosi,
selalu memenuhi kehadiran di saat apapun istri membutuhkan,
menjadi ayah teladan bagi istri maupun anak,
dan segala hal yang abi berikan.

2.Tentang Anakku, Hafshah

Dear Salihah Umi,
Kini usia Hafshah sudah 9 bulan. Tiap perkembangan Hafshah membuat decak kagum dan tak lepas syukur padaNya. Alhamdulillah. Hafshah tumbuh sebagai bayi perempuan yang aktif, energik, periang dan penuh cinta, masyaAllah.

Di usia 8 bulan, Hafshah mulai mengenal mana uminya. Waktu itu kita tengah mengikuti kajian, lalu Hafshah dititipkan pada salah seorang teman karena saat itu umi akan bersiap untuk shalat, tidak biasanya Hafshah menangis-menolak. Hal tesebut memang membuat umimu kewalahan, namun di sisi lain mewangikan cinta yang kian mekar. Ya, anakku telah mengenal mana uminya. Anakku tidak ingin jauh dari uminya.

Dear Salihah Umi,
Terima kasih atas kecupan dan peluk yang tiba-tiba datang saat umimu sedang terpuruk. Meski usiamu masih sangat belia, namun beberapa kali bahkan sering kali Hafshah melakukan hal-hal yang membuat umi sadar, kita terengkuh dalam cinta yang tak mampu diungkapkan. Hafshah sering tiba-tiba datang mendekat, merangkak kemudian mencoba berdiri dan memeluk umi yang sedang duduk lalu mendaratkan kecup meski berlumuran air liur, hehehe. I love you, Nak.

Dear Salihah Umi,
Semoga Hafshah tumbuh menjadi anak salihah, cerdas, penyayang, menggenggam dunia di tangan dan akhirat di relung hati terdalam. Mampu menyelamatkan kedua orang tua di akherat kelak. Selalu menghiasi diri dengan iman dan taqwa yang menawan. Aamiin.

3.Tentang Nurhikmah Taliasih
Mencoba berkenalan dengan diri sendiri. Yess, I am Nurhikmah Taliasih. Berat sebenarnya jika menuliskan tentang diri ini. Bukan berat tentang aib tapi berat khawatir salah jika ada sesuatu yang berlebihan atau bahkan merendah untuk meninggi. Bismillah, semoga dihindarkan dari hal demikian.

Nurhikmah Taliasih. Seorang ibu rumah tangga yang masih menjabat sebagai mahasiswa. Ibu muda dengan penuh lika-liku dan naik-turun mood yang tidak karuan. Berkaca dari hari-hari yang telah dilewati, ia seorang yang mudah terpancing emosi namun punya kemauan untuk belajar memperbaiki diri.

Nurhikmah Taliasih, penikmat film maupun novel, sesekali buku non fiksi seperti sejarah atau motivasi tapi teuteup pilah pilih yang kata-katanya enak dinikmati. Seperti tulisan Salim A. Fillah, Afiffah Afra, dll. Selain membaca, ia juga senang menulis. Beberapa goresan penanya memenangkan lomba hingga tingkat nasional, baik cerpen maupun artikel. Namun di balik itu semua, ada kekalahan dalam lomba yang lebih banyak dari kemenangannya. Tapi yang diposting atau dicuitkan ya hanya yang menang saja. Hehehe.

Nurhikmah Taliasih. Anak pertama dari empat bersaudara. Sudah lama sebelum menikah, mencoba belajar caranya belajar untuk mendampingi peran ibunya yang single parent. Sehingga setiap pulang kampung selalu menyusun rencana untuk melakukan hal tertentu bersama adik-adiknya. Seperti strategi bermain sambil belajar sains berbekal tutorial di youtube.

4.Tentang Lingkungan Tempat Kami Tinggal
Hidup di tanah rantau, berstatus sebagai kontraktor yang baru beberapa bulan dengan lingkungan tetangga yang ramah membuat kami merasa cukup nyaman.

Bandung coret saya menyebutnya. Tempat kami tinggal bukan berada di Kota Bandung melainkan di perbatasannya dan sudah masuk kabupaten. Makanya setiap naik travel pak supir kadang suka minta biaya tambahan padahal ngga jauh-jauh amat dari bandung kota. Meski demikian kami tetap bisa menikmati suasana Kota Bandung yang kaya akan tempat nyaman bahkan komunitas positif pun tak terelakan banyak tokoh ataupun teman-teman yang kapasitas ilmunya begitu unggul tidak pelit berbagi. Namun tantangannya adalah waktu dan kemauan kuat saya pribadi untuk melangkah. Kadang ingin berguru pada si A, tapi kapan ya kapan? Urusan domestik rasanya tidak pernah ada akhirnya (perasaan oh perasaan :D).

Komentar