Pendakian Gunung Guntur Garut (2.249 MDPL)

Gunung Guntur Garut

Garut memiliki banyak keindahan alam. Salah satunya yang menjadi destinasi adalah Gunung Guntur yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Garut, selain Papandayan dan Cikuray. Tingginya mencapai 2.249 MDPL. Yang mengesankan dari Gunung Guntur dibandingkan dengan Papandayan adalah pemandangan dari puncak Guntur lebih mempesona. Kita bisa melihat bentang kokoh gunung-gunung lainnya.

Aku merencanakan perjalanan ini jauh-jauh hari. Sebelumnya hendak ikut trip bareng Mba Evrinasp. Beliau dari Bogor sedangkan aku berencana menyusul rombongan ke Garut dari Bandung. Tapi seiring berjalannya hari mikir lagi dengan budget yang ditawarkan karena Mba Ev ini perginya bareng temen-temen kantor dan ada guidenya jadi mmmm kayaknya sayang buat anak kos macam saya hehe. Ngga disangka lagi whatsappan sama Teh Lulu eh malah beliau nodong ngajak ke Guntur di minggu depan tepat setelah tripnya Mba Ev. Singkat cerita diputuskan ikut bareng sama Teh Lu saja biar bisa bareng juga dari Bandungnya. Aku pun mengajak Mba Cup salah seorang teman yang beberapa kali nagih minta diajak.

Sabtu, 6 Februari 2016. Setelah pamitan dengan Mba Dila - temen sekamar/mbak kos/ibu dosen dan semua persiapan lengkap, sekitar pukul 08.00 WIB aku keluar kos. Eh baca pesan di grup ternyata Teh Linda batal ikut karena sakit dan tidak diizinkan kanjeng romonya. Cepet sembuh teteh...
Agenda sebelum keberangkatan adalah ambil tenda di Alment tempat rental alat kemping di Jl Puyuh Dalam 2 No.5 tepatnya dari Jalan Surapati masuk ke Jalan Gagak nanti ketemu Sekolah Dasar nah di sebelah kiri SD itu Jalan Puyuh. Alment buka setiap hari dari jam 08.30 - 21.00 WIB kecuali Minggu buka dari jam 13.00 - 21.00 WIB. Oh iya Alment ini tempat rental atau peminjamanan alat kemping di Bandung yang lumayan recomended, banyak barangnya dan harga juga lumayanlah. Sebelumnya hari Jumat sore lepas kantor sudah kubooking tendanya jadi pagi tinggal ambil biar hemat biaya sewa. Setelah ambil tenda, langsung aku cus jemput teman di kosannya baru kemudian ke terminal Cicaheum. Kami telat cukup lama. Akhirnya kami bertemu Teh Lulu dan temannya yang baru kukenal - Teh Entin.

Dari awal naik bis, Mba Cup yang duduk di sebelahku tampak gusar. Hari ini lalu lintas cukup padat dan bis pun beberapa kali berhenti cari penumpang. Sampai di Cibiru, Mba Cup mulai keluar keringat dingin.

"Li, aku mau pulang aja."

Sontak aku terkejut dan tetap berusaha menenangkannya - kita sudah di perjalanan - dan mencoba mencari barangkali ada semangat di dalam dirinya yang bisa menyembuhkan semua itu. Tapi keringat dinginya begitu nampak apalagi ada riwayat pernah pingsan saat datang bulan. Mba Cup menelpon salah seorang teman untuk minta dijemput. Selesai telepon, Mba Cup minta turun dan memintaku tetap melanjutkan perjalanan. Piye jal..? Aku ngga bisa ninggalin beliau sendirian dalam kondisi seperti itu. Kalau Mba Cup pingsan tapi yang jemput belum dateng kan gimana gimana mana aku yang ngajak.

"Aku ikut turun sama Mba Cup."

Fix. Bismillah. Sebelum turun bis, aku pamitan dengan Teh Lulu dan Teh Entin serta menyampaikan pesan ke mereka, tetap melanjutkan perjalanan bareng teman-teman lain - Teh Wida dan Teh Inggrid (sebelumnya belum kenal dengan dua teteh ini. Hanya berinteraksi sebatas di grup WA) dan juga tenda dibawa oleh mereka. Jika memungkinkan insyaAllah aku menyusul di pos tempat kemah.

Gunung Guntur Garut

Aku dan Mba Cup turun di depan sebuah salon. Kami menggelar matras dan istirahat di emperan. Berasa jadi musafir di film-film gitu deh. Berhubung sudah masuk waktu dzuhur, aku pun sholat terlebih dahulu. Tak lama setelah itu, Mr Triyad sampai menjemput Mba Cup. Super nih cepet banget. Kami dulunya satu almamater di SMK. Ya karena SMK di Purwokerto pada ngomong ngapak-ngapak kaya kuwe lah jadi jangan heran ya.

"Kyeh, nyong pan takon. Jane tujuane pada munggah gunung apa sih?" tanya Mr Triyad, "tujuane munggah gunung mbok bali?" lanjutnya. Takon dewek jawab dewek.

Tujuannya naik gunung kan pulang. berulang-ulang kalimat itu terngiang di kepalaku. Matur nuwun wejangannya Mister... Sampai atau tidak sampai puncak kita tetap harus pulang. Puncak bukan tujuan utamanya. Ada makna dalam setiap perjalanan. Seperti halnya hidup, kita harus berusaha untuk pulang dan kembali ke tempat di mana kita berasal. Bukan kampung halaman, tapi lebih indah dan lebih teduh dari itu, kampung surga.

Setelah mengemasi barang-barang karena tadi kami menggelar lapak di emperan salon orang dan mengeluarkan bekal supaya Mba Cup diisi dulu perutnya. Selesai itu, aku memperhitungkan waktu dan mencoba cari info pasti dan memantapkan diri melanjutkan perjalanan.

Pukul 13.00 WIB. Akhirnya kami berpamitan. Mr Triyad membantuku mencarikan bis yang ke arah Garut. Alhamdulillah ada bisnya dan masih kebagian tempat duduk. Tak lupa aku kembali baca chapter perjalanannya Mba Ev dan mencoba menghubunginya untuk tahu pasti di mana tujuan pemberhentiannku.

Estimasi perjalanan dari Bandung ke Garut menempuh waktu kurang lebih tiga jam (dulu sih pakai motor dari Bandung sama Emak). Dengan kendaraan umum ini dan kondisi jalan yang super padat aku mulai diliputi kekhawatiran apakah masih bisa menyusul teman-teman di pos 3 tempat berkemah atau tidak dan entah bagaimana cara menemukan mereka so pasti di atas sana kan luas bukan komplek perumahan yang ada satpamnya terus kita tanya nomor rumah sekian terus ketemu, tidak semudah itu, Li! Dan lagi ini pertama kalinya mendaki sendirian, belum tahu medan sebatas baca chapter dan cerita orang.

Adzan Ashar berkumandang, bis melaju 'alon-alon asal kelakon'. Jalanan renggang lalu bertemu macet, renggang, macet begitu seterusnya. Hari semakin sore dan langit tampak mendung. Sedangkan aku masih di dalam bis yang tampaknya belum memasuki daerah Garut. Teman-teman sepertinya sudah mulai pendakian. Mereka sudah tidak bisa dihubungi lagi. Hm...

Bismillah, kumohonkan perlotonganNya.

Saat kernet bus menarik ongkos, aku meminta untuk diturunkan di pom bensin tanjung yang ke arah Gunung Guntur. Pak kernet mengiyakan. Dari cibiru, aku hanya ditarik ongkos Rp 15.000,- sedangkan sebelumnya waktu dari terminal Cicaheum, aku ditarik ongkos Rp 20.000,-  namanya juga mahasiswa karena kami turun di jalan tidak sampai Garut ongkos sebagian kami minta lagi nitip via Teh Lulu.

Lewat pukul 16.00 WIB. Tak terasa ternyata aku sudah berada di daerah Garut. Saat sedang memerhatikan sebelah kanan jendela bus, aku membaca sebuah gapura Selamat Datang... Gunung Guntur. Aku mencoba memerhatikan lagi. Ya, tidak salah! tapi kok ngga ada pom bensinnya ya? Atau jangan-jangan sebelumnya? Pak kernetnya kok ngga ngingetin ya, mungkin beliau lupa apalagi bus nampak penuh sesak. Saat itu aku galau. Kemudian meyakinkan dan tanya ke orang sebelah. Ternyata benar. Bus melaju cepat. Aku mencari-cari pemberhentian yang pas biar ngga mirip orang hilang gitu. Tepat di depan Masjid Agung Garut aku langsung turun kemudian meneduhkan diri untuk memantapkan lagi langkah kaki sekaligus shalat ashar.

Selesai shalat aku menanyakan ke orang-orang transportasi menuju gerbang pos guntur. Tenyata bisa pakai angkot atau elf. Karena saat itu sudah memasuki pukul 17.00 WIB, angkutan yang sesuai jurusan sudah mulai jarang dan tinggal elf. Aku menanyakan ongkosnya, kernet menjawab Rp 10.000,-. Wew, menurutku mahal banget kan rasanya tadi tidak jauh. Aku menawar jadi Rp 5.000,- kalau ngga mau yaudah mau cari angkot aja. Eh nyari angkot ngga ketemu-temu tapi akhirnya ongkos jadi Rp 5.000,- dari Masjid Agung sampai dengan Pom Besin Tanjung. Karena dari arah Garut, jadi aku tidak perlu menyeberang jalan. Kalau teman-teman berangkat dari arah Bandung, jangan lupa gerbangnya nyeberang jalan ya.

Belum sampai di Pom Bensin Tanjung aku melihat gapuranya, apa mungkin ada dua ya. Aku langsung minta turun.



Alhamdulillah sampai. Sore itu langit makin mendung. Aku bergegas menanyakan ke orang-orang jalan menuju ke Pos Pendakian Gunung Guntur. Ternyata dari gapura tinggal ikutin jalan. Untuk transportasi dari depan gapura, bisa pakai ojeg dengan ongkos Rp 10.000,- sd Rp 15.000,- tergantung tawar menawar. Aku memutuskan untuk jalan kaki saja, bismillah.

Sepanjang perjalanan senyum penduduk sekitar ramah menyapa. Tiap memasuki jalan bercabang tak lupa bertanya. Daripada malu bertanya sesat di jalan ya toh? Suasana pendakian pun makin terasa tiap kali ada orang-orang bertas keril besar menyalip dengan sepeda motornya. Dan harmoni kekeluargaan juga tak ketinggalan. Ada beberapa orang yang menawarkanku tumpangan. Aku berterima kasih atas kebaikan mereka, namun insyaAllah perjalanan tetap lanjut jalan kaki saja. Yang nawarin laki-laki semua si hehe. Alhamdulillah di tengah jalan berbatu menemukan seekor capung sebagai teman. Namun malang, kondisinya tidak bisa terbang. Karena ngga memungkinkan dibawa sampai ke puncak, di sebuah semak-semak aku dan si pungpung capung pun berpisah.

Gunung Guntur Garut

Kurang lebih 30 menit kemudian, aku sampai di pos pertama. Setiap pendakian harus ada unggah-ungguhnya alias permisi dulu. Jadi kita harus melaporkan identitas diri sebelum mendaki. Saat itu lapornya ke rumah Pak RT. Ngga di foto euy. Pokoknya mah jangan malu bertanya aja gitu ya. Ditunjukin rumah Pak RT, terus ngisi data diri habis itu dikasih peta. Nah berhubung sudah setahun yang lalu udah entah di mana nih petanya. Sempet ngobrol juga dengan Bu RTnya. Ditanya asal sama berangkat sama siapa. Alhamdulillah berangkatnya si sendiri tapi ada temen udah di atas hehe.

Beberapa rombongan pendaki lain berdatangan. Aku mencari-cari rombongan yang bisa buat tebengan. Eh pas jalan di depan mushola ada seorang laki-laki menyapa. Ngobrol-ngobrol-ngobrol. Ternyata mereka  mau mendaki berdua (Fajri dan Barkah), dari SMK mana gitu ya lupa-lupa ingat pokoknya masih daerah Garut lah. Rencananya habis mendaki Guntur mau lanjut ke Cikuray. Wih... sangar. Pantesan bawaannya kulkas guede. Akhirnya kami mendaki bersama, alias aku dipersilakan gabung dengan mereka. Lumayan lah ada adik-adik pengawal. Jadi malu, usia sih lebih senior tapi pengalaman masih cetek. Sebelum mendaki jangan lupa bayar tiket masuk dulu. Murah kok, biayanya Rp 7.500,-

Gunung Guntur Garut
Gunung Guntur Garut

Kami pun memulai perjalanan. Sepanjang jalan, Fajri yang paling aktif bicara jadi ada guide yang menjelaskan ini itu. Sendangkan Barkah lebih banyak diam. Mereka saling melengkapi hehe. Nah dari Fajri dapet penjelasan, ternyata di daerah ini banyak penambang pasir liar. Saat aku ke sana, beberapa wilayah penambangan telah ditutup sehingga tidak ada aktivitas tinggal alat beratnya saja. Syukurlah. Melihat kondisinya cukup prihatin juga si. Jalanannya pun masih banyak bekas gilasan roda-roda kendaraan berat.

[caption id="" align="aligncenter" width="500"]Gunung Guntur Garut Fotonya diambil saat perjalanan turun, waktu naik cukup ngos-ngosan dan ngga enak juga kalau bikin lama perjalanannya Fajri dan Barkah.[/caption]

Diingat-ingat. Kami memulai perjalanann sekitar pukul 18.00 WIB sedangkan estimasi Fajri dan Barkah biasanya mereka mendaki Guntur hanya dua jam. Ini karena bawa anggota tim baru jadi lebih deh. Hari semakin gelap dan hujan rintik-rintik mulai turun. Ada tiga pos yang harus kami lalui. Di pos tiga adalah tujuan untuk berkemah. Sebab dilarang untuk berkemah di puncak, infonya banyak kejadian tersambar petir. Nah, nah... yuk mari mengindahkan himbauan ini. Di Guntur sendiri jangan khawatir kehabisan bekal, insyaAllah banyak warung yang buka. Apalagi di tiap posnya. Banyak warung, bisa jajan, jangan lupa bawa pulang sampah. Ok!!!

Bekal aman, signal juga alhamdulillah lumayan. Meski bukan pakai si merah telk*s*l signal lumayan lancar cuman ya namanya juga di hutan baterainya lebih boros. Aku manfaatkan hal itu untuk menghubungi Teh Lulu dkk via Whatsapp yang kabarnya sudah mendirikan tenda.

[caption id="" align="aligncenter" width="640"]Gunung Guntur Garut Dua adik senior ini malu-malu difoto alhasil udah gelap ngeblur deh fotonya[/caption]

Beberapa kali kami berhenti untuk istirahat sejenak. Setelah dari warung yang ada di foto itu, begitu selesai minum, ngemut permen. Kami langsung beranjak lagi. Formasinya aku di tengah. Dan baru beberapa langkah, tanjakannya cukup curam. Begitu berada di tanjakan, kakiku kram lumayan kenceng. Karena ngga ada perempuan, la haula wa la quwwata illa billah. Kedua adik itu memberi instruksi supaya lebih relaks. Perlahan-lahan aku bertumpu pada kaki lainnya dan melemaskan kaki yang kram. Satu detik, lima detik, beberapa detik awal kaki kaku digerakan.

Kram ini bisa jadi karena aku belum melakukan peregangan sebelum mendaki. Baiknya pemanasan dulu ya, jangan dicontoh. Tapi kalau udah kejadian, ada beberapa tips yang bisa dilakukan saat kram. Ini didapat dari teman-teman saat kegiatan di alam sebelumnya dan untuk memastikan juga cari referensi di beberapa situs. Mohon maaf seadanya, kalau ada yang ahli, share ya...
Tips menangani kram:
1. Lemaskan bagian kaki yang kram
2. Perlahan tarik ibu jari kaki ke arah tubuh
3. Kaki diletakkan di atas jantung
4. Pijat perlahan bagian yang kram

 

Saat itu karena aku berada di tanjakan, sehingga aku berdiri relaks (beruntung sebelah kanan bebatuan yang ada saluran air jadi bisa sedikit bersandar) menekuk ibu jari kaki sambil berdiri seperti penari balet namun jempolnya tertekuk sambil digoyang ke kanan-kiri biar ngga terlalu sakit.

 

Bersambung...

Baca : Menggapai Puncak Gunung Guntur 6-7 Februari 2016

Komentar

  1. Seru kayaknya ya. Saya malah belum pernah euy mendaki gunung

    BalasHapus
  2. mbak tally, aku awam soal mendaki gunung. Tapi aku ada curious question sebenernya: kalo kita udah di gunung begitu, pas mau BAK dan BAB terutama untuk wanita, biasanya gimana sih? Asli gak pernah tau...hehehe maafin pertanyaannya rada ngeselin ya mbak. Salam kenal

    BalasHapus
  3. Saya juga masih awam, Mba :D Pertanyaannya ngga asing kok sering ditanya soal itu.

    Mohon maaf jika harus bahas ini. Semoga bisa diambil manfaatnya...

    Sebenernya kalau ndaki enaknya ada temen sesama wanita. Jadi kalau kita mau BAB atau BAK ada yang bisa diajak kerjasama. Plus kalau ada apa-apa ngga risih mau minta tolong apalagi beberapa temen ada yang ditemenin pasangan halalnya jadi misal kram bisa langsung ditolongin sama pasangannya. Wah, ini bahasannya bisa melebar hehe.

    Ini dapet dari temen dan sedikit pengalaman pribadi, hal-hal yang perlu diperhatikan kalau mau buang hajat mendaki:
    1. Cari tempat yang sesuai dan pastikan bukan jalan yang dilalui pendaki.
    Contohnya sungai kan jadi bisa sekalian bebersih pakai air sungainya. Selain sungai, bisa juga di tanah deket semak-semak. Kalau mau BAB, usahakan digali dulu tanahnya terus habis itu timbun lagi (jangan lupa bawa tisu dan air secukupnya untuk bersih2) terus taruh tisu di tanah tadi (optional *cmiiw), ini sebagai penanda. Tisu kan terbuat dari bahan alam jadi dia akan terurai seiring berjalannya waktu. Aku juga baru tahu gara-gara mau lewat atau duduk ya di semak-semak eh ada tisu terus diingetin sama temenku itu. Ya memang sebaiknya kita bener-bener cari tempatnya jadi ngga deket sama daerah jalur yang dilewati pendaki.

    2. Penutup
    Aku biasanya bawa sarung sengaja buat keadaan urgent begini. Jadi nanti kita minta tolong temen yang nemenin buat nutupin pakai sarung. Selain sarung kalau ndaki juga kan biasanya bawa ponco/jas hujan itu juga bisa dipakai buat penutup.

    3. Jika memungkinkan, cari waktu yang pas
    Nah, kalau masih memungkinkan ditahan bisa memanfaatkan waktu sebelum matahari terbit sekalian buat muslim/ah wudhu buat sholat subuh. Kalau bisa sebelum subuhnya kan masih sepi jadi cari spotnya ngga susah. Kalau kesiangan dikit orang-orang udah pada bangun jadi rame, se-terpencil-pencilnya hutan ada aja orang lewat dari berbagai arah.

    Pengalaman aku sendiri kalau ndaki belum pernah *maaf* BAB. Mungkin karena dingin dan makan pun ngga banyak terus bawaan bawah sadar yang risih juga kalau harus berada di tempat terbuka. Terus dalam perjalanan lebih banyak ngemil madu daripada makan besar. Minum juga secukupnya. Tips dari senior dulu kalau haus banget minumnya setenggak aja terus ditahan di kerongkongan beberapa detik jangan langsung ditelan supaya kita ngga sering pengin minum.

    *cmiiw

    BalasHapus
  4. Teh Mita mah belum mendaki gunung. Tapi mendaki pelaminan kan udah... hehe

    BalasHapus
  5. kalau mau nanjak tuh emang bener harus inget pesennya Mbah Triyad ituh. Tujuannya emang untuk pulang kan. :D

    Jadi mba taly tuh nyusul sendirian yah, sementara Mbah Triyad itu nganter pulang Mba Cup.

    Pertama kali nanjak aku stress lho, Mba. Padahal cuma ke Gunung Gede yang banyak trek landainya. :D

    BalasHapus
  6. Terakhir mendaki waktu jaman kuliah. Setelah punya suami, belum pernah naik lagi. Asik ya kayanya kalau mendaki sama pasangan....

    BalasHapus
  7. Kalau liat foto atau baca cerita orang naik gunung suka ngiri dech,, soalanya aku penegen banget naik gunung tapi sampai sekarang belom laksana juga,,

    BalasHapus
  8. berarti aman untuk urusan makan, ya karena banyak warung :)

    BalasHapus
  9. Ajak Kak Fathurnya, Teh Git.. hehe

    BalasHapus
  10. Kudu ada yang ngajakin kali ya Teh..

    BalasHapus
  11. Iya, Mba. Kalau bawa anak-anak jadi ngga repot kebanyakan bekal. Tapi treknya yang kurang bersahabat dengan anak

    BalasHapus
  12. Kalau jalan-jalan aku malah seneng, Mba. Jadinya justru ngilangin stres ehehe

    BalasHapus

Posting Komentar