Menggapai Puncak Gunung Guntur 6-7 Februari 2016

Gunung Guntur

Gunung Guntur yang terletak di Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat tergolong sebagai gunung berapi. Gunung Guntur ini kata temen-temen senior tuh puncaknya rasa Semeru. Nanjak berbatu. Awalnya sih agak shock. Cuman karena gengsi juga kali ya *psst* kan nanjaknya bareng adik-adik tapi senior pengalaman baru kenal pula jadi ya munculin aja tuh semangat terus-terusan. Padahal mah baru beberapa langkah tanjakan ngoshngosh, berhenti sebentar, nanjak lagi ngoshngsoh. Saking banyaknya tanjakan dan persiapan yang mungkin kurang jadinya kram deh.

Baca cerita sebelumnya di sini >> Pendakian Gunung Guntur Garut

Melanjutkan cerita sebelumnya. Alhamdulillah sedikit demi sedikit kaki mulai terasa, kram mereda. Jempol ditekan-tekan sesekali betis digoyang ke kanan dan kiri. Akhirnya perjalanan pun mulai lagi meski jalannya cukup terseok karena masih berasa kakunya. Beneran deh ini Guntur tampak dari jauh itu gunungnya ngga begitu curam eh pas nanjak. Tanjak terus ngga nanggung-nanggung ke-vertikalannya, pedes. Semacam tahu jeletot yang dijual mamang-mamang pinggir jalan. Luarnya crispy dalemnya luar biasa pedes apalagi kalau orang rantauan yang belum tahu itu makanan apa terus main leb aja. Huhahhh...

Hujan rintik-rintik kecil masih kalah dari deras keringat yang merembes. Meski malam semakin larut rasanya gerah sangat apalagi tubuh sedang beraktivitas penuh. Aku memutuskan untuk melepas jas hujan. Ribet juga karena tanjakannya curam, gelap, harus angkat tubuh, beberapa kali jas hujannya nyangkut.

Kurang lebih tiga jam sudah kita berjalan. Kelap-kelip cahaya ada di mana-mana. Malam itu Gunung Guntur ramai, lebih ramai dari pasar malam yang ada di desa. Suara-suara yang entah mengucapkan apa seperti ucapan selamat datang. Jadi inget kaum anshar sama muhajirin. Mungkin gini ya rasanya kaum muhajirin yang lelah menempuh perjalanan jauh terus akhirnya sampai di Madinah.

Kami terus berjalan dan berjalan. Eh ternyata pos tiganya masih jauh. Tapi tenda-tenda sepanjang jalan yang tadi kami temui sudah banyak berdiri. Memang ramai sangat dan tempat terbatas pula kali ya. Aku kemudian mencoba menghubungi teman-teman yang sudah bertenda. Terakhir kali mereka mengabarkanku untuk mencari tenda biru di sebelah pos 3. Untuk memastikan lagi aku mencoba menghubungi tapi ngga ada yang bales. Di telpon pun ngga bisa. Sepertinya mereka sedang mengawetkan baterai hpnya.

Sampai juga di depan pos 3. Fajri dan Barkah tidak langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda padahal aku sudah meminta mereka untuk cari tempat saja karena beberapa rombongan pendaki semakin banyak yang berdatangan. Eh mereka malah memutuskan untuk mencarikan teman-temanku, pisahnya nanti aja kalau udah ketemu. Nyarinya bener-bener deh. Banyak tenda. Ada tenda biru deket banget sama pos tapi sepatunya guede-guede seperti ukuran laki-laki. Aku ragu. Tak lama kemudian alhamdulillah akhirnya ketemu juga tenda biru! Kemudian aku pastikan penghuninya. Dan ternyata benar!!! yuhuuuuu.. rombongan sudah ditemukan.

Kurang lebih tiga jam perjalanan bersama tim baru. Akhirnya kami berpisah. Cuman bisa doain aja semoga tetap cinta sama alam apalagi yang menciptakan alam, Fajri dan Barkah. Terima kasih untuk semuanya.

Aku langsung bergabung dengan teman-teman lainnya. Dan sudah kuduga barang bawaanku dan Teh Wida yang paling banyak. Teh Wida sih sampai bawa tas carrier, sedangkan aku bawa si blublu daypack 25 liter.
Daftar barang yang perlu dibawa :- Daypack dan tas kecil
- Alat sholat
- Matras
- Sleeping bag
- Jas hujan
- Pakaian ganti secukupnya
- P3K (minyak kayu putih wajib banget buat aku selain itu karena memang sedia ada juga perban, alkohol pembersih luka, betadine, hansaplast, dll)
- Air minum 1,5 liter dan 1 botol kecil (yang kecil untuk memudahkan kalau minum di jalan)
- Madu, coklat, dan konsumsi lainnya
- Tisu basah dan tisu kering
- Alat mandi (Optional. Kalau aku sikat dan pasta gigi perlu)
- Plastik (untuk packing biar aman saat kehujanan dan bisa juga nantinya untuk wadah sampah biar dibawa turun ngga numpuk di puncak)
- HP + charger/power bank
*beras, nasting, kompor ngga bawa soalnya diinstruksikan ngga akan ada acara masak-masak dan ngga punya juga siii. Hehe.



Melihat teman-teman lainnya cuma bawa ransel kecil. Huwah berasa jadi pendaki rempong gini padahal pernah bareng grup lain tapi bawaanku paling simpel ternyata bersama mereka tuh kebalikannya. Hehe. Tapi ini sebagai antisipasi sendiri apalagi inget kejadian berangkat harus pisah dari rombongan jadi minimal perlengkapan pribadi terpenuhi. Ngga nyesel deh. Yang penting secukupnya aja ya kan ya kan?

Setelah bebersih, sholat, cek hp signal full. Alhamdulillah. Tapi perjalanan besok akan panjang. Demi hemat baterai dan memulihkan tenaga segera tidur deh.

Summit Attack Gunung Guntur


Sekitar pukul 04.30 WIB kami bersiap untuk summit attack! Jadi pemburu sunrise.Oh iya, mata airnya juga ngga jauh loh dari pos 3. Sebelah pos nanti ada jalanan menurun di situ ada sungai. Lumayan seger tapi kalau gelap serem juga jalanan kanan kirinya.

Menimang waktu sholat subuh itu mulainya sekitar pukul 04.39 WIB, kami memutuskan untuk shalat subuh di jalan sehingga bawa matras. Sebelumnya kami sudah diingatkan untuk hati-hati terhadap barang bawaan. Lebih baik tidak ditinggal di pos3 atau di tenda, khawatirnya hilang. Tapi karena untuk menuju puncak tidak memungkinkan bawa barang banyak, kami hanya membawa air minum, senter dan beberapa barang berharga yang tidak memungkinkan untuk ditinggal itu pun diminimalisir secukupnya banget.



Estimasi perjalanan dari pos 3 menuju puncak bayangan sekitar 2 jam tapi realisasinya lebih. Gunung Guntur memiliki 3 puncak. Perjuangan terekstrem adalah dari pos 3 menuju pos bayangan yang treknya berasa Semeru, katanya. Dan untuk menuju puncak bayangan ini, kemiringannya mencapai 70 derajat, hampir mendekati tegak lurus ya. Udah gitu pasir berbatu pula. Jadi sewaktu naik ke atas apalagi pas subuh, hari masih gelap harus hati-hati karena tak jarang beberapa batu menggelinding dari atas. Dan saat naik juga pijakan harus cari-cari batu yang bener-bener bisa buat landasan. Salah pilih batu yang goyang malah bisa kepleset.







Meski kami datang tidak disambut sunrise karena hari itu cuacanya mendung, tapi alhamdulillah ngga sampai hujan. Pun pemandangan di puncak bayangan cukup membuat kami bergetar mengingatNya. Betapa indah ciptaan Yang Maha Indah. Inget deh nasyidnya Shaffix...
Memandang biru langit tak bertiang
Atau hijau alam yang membentang
Ada apa tersirat disana
Coba renungkanlah

















Setelah beberapa waktu berlalu menikmati pemandangan di atas puncak dan bekal air minum juga sudah habis malah Teh Wida sampai minta ke rombongan lain. Inilah kadang saat-saat indah di gunung, ada kekeluargaan berbagi apa yang bisa dibagi. Kemudian kami memutuskan untuk turun. Melihat waktu saat itu juga sudah beranjak siang. Ya ada hikmah juga dibalik mendung, salah satunya jadi ngga kepanasan deh.

Untuk jalur turun sendiri sebenarnya sama dengan jalur mendaki namun dari pos bayangan, dibagi jadi dua jalan. Ada jalan yang berpasir banget -gersang- sampai bisa 'sosorodotan' alias seluncuran (ini yang dipakai untuk turun) dan ada pula jalan yang meski berbatu, pasir tapi masih ada rumputnya (ini yang dipakai untuk naik). *Dokumentasi trek turun ada di video.

Saat perjalanan pulang beberapa pendaki yang turun tidak jarang yang 'nggelosor' bahkan sampai ada yang 'ngguling'. Dan di jalur turun lebih sering ada batu yang meluncur dari atas. Makanya kita juga perlu hati-hati untuk menjaga diri sendiri maupun orang lain. Kalau kitanya merosot aja cepet-cepet bisa terjungkal atau ngedorong batu-batuan yang dinamis meluncur cepat sehingga bisa mengenai pendaki yang ada di bawah.

Pokoknya jalur antara pos 3 ke puncak itu akan diwarnai dengan seruan, "Awas batu!!!" baik naik maupun turun. Oh iya, penting banget nih temen-temen pakai alas kaki yang sesuai, kaos kaki, sarung tangan. Apalagi kaya aku yang ngga biasa mendaki dengan trek begitu. Bentar-betar pegangan, ngga seimbang, sampai kaki panas, lama-lama nggelosor kaya anak TK main perosotan.

Merasakan Gunung Guntur jadi nostalgia pertama kalinya ndaki bareng sama temen-temen Sapupala ke Gunung Slamet tahun 2012 (kalau ngga salah). Mendakinya bareng mereka tapi bukan dalam rangka acaranya Sapupala (penegasan barangkali ada yang salah sangka :D). Di mana ngerasain kram, nyut-nyutan, lemes, hampir mau nyerah. Udah bikin jalan tim lambat, yang bawa barang berat makin berat karena jalannya alon-alon asal klakon. Nah pas ngalamin turunan sering dikoreksi, 'jalannya jangan gitu, gini nih!' kata salah seorang temen sambil meragakan kaki bagian luarnya dimiringkan. Inget saran itu, jadi dipraktikan deh.



Akhirnya sampai juga di tenda. Meski hampir nyasar saking banyaknya tenda dan memang pas turun kepencar-pencar sama rombongan. Alhamdulillah keinget patokannya deket pos. Rehat sejenak di tenda, ishoma, beres-beres kemudian kami pun memutuskan untuk pulang.

Kami ber lima semuanya perempuan, sewaktu berangkat teman-temanku ini dikawal salah seorang teman laki-laki Teh Wida. Nah pas perjalanan pulang Teh Wida minta tolong lagi ke salah seorang temannya yang laki-laki tepi beda dengan sebelumnya, beliau memang banyak kenalannya yang jadi relawan di Guntur jadi baru dihubungi bisa langsung dateng deh. Musim hujan, turunan ekstrem, licin itu yang jadi pertimbangannya belum lagi pengalaman yang minim.

Dan di perjalanan turun hujan besar mengguyur Gunung Guntur. Kami pun berteduh sampai hujan sedikit reda...







Monggo saksikan dokumentasi videonya di bawah ini...



Pendakian Gunung Guntur pertama kali adanya kondisi yang sangat di luar prediksi. Pendakian sendiri. Ya ngga sendiri juga si karena insyaAllah pas memutuskan 60% ada keyakinan bakal ketemu pendaki lain yang akan menampung dalam rombongannya. Ini pertama kalinya. Namun menjadi pendakian terakhir sebelum masa single berakhir. Hehehe. Meski demikian, terus jadi alesan nyesel nikah? Hmmm. Ngga ada kata nyesel. Kalau udah nikah mah kemana-mana ada yang nganterin lebih aman, insyaAllah.

Dalam kehidupan, kita memang sudah merencanakan sedemikian rupa. Tapi prosesnya ternyata belum tentu sesuai rencana. Kata Pak Suami,
"Kita punya rencana, Allah juga pasti punya rencana. Kalau rencana kita sama dengan rencana Allah maka syukur kita tiada kira. Jika ternyata tidak sama, maka tetap disyukuri dan yakini bahwa rencana Allah adalah yang terbaik."

Komentar

  1. ramai-ramai git.. naik gunung lebih semangat..liat pemandangan diatas guning..indah banget ya..ilang lelah..kalo udah gitu..

    BalasHapus
  2. Ak pengen banget loh mba sekali kali ngerasain naik gunung. Ngebayangin seru dan indahnya pemandangan dari atas. Tapi langsung drop begitu liat tas para pendaki gunung yang gedenya ampun2an. Bisa2 aku kelelep dan kebanting ngegembol tas segiti gedenya.

    BalasHapus
  3. Hai mba
    Pemandangan indah bangeeet
    Belum pernah ke gunung guntur nih :)

    BalasHapus
  4. Edaaan.. Bagi saya anak2 gunung keren2 dan cita2 yg belum kesampaian cuma naik gunung, krn masuk hutan udh pernah, sensasinya pasti beda ya jeng

    BalasHapus
  5. Aku tahun ini sedang menantang diri buat naik gunung dan sedang memantapkan niatnya nih, mumpung belum berkeluarga kan masih ada waktunya hihi

    BalasHapus
  6. Duh asyik ih bisa ke gunung...sy belum pernah, kalau sekarang ngerasa sdh ketuaan hehe..

    BalasHapus
  7. Syifa, katanya Gunung Guntur sedang ditutup ya awal tahun ini, mau ngembaliin ekosistem dulu katanya

    BalasHapus
  8. subhanaAllah cantik bangeeet...
    keren iiih bs naik gunung...
    klo aku amsih muda mau deh naik gunung (lagiii)

    BalasHapus
  9. Pemandangannya... Subhanallah...
    Kalau udah nikah, naik gunungnya sama suami :)

    BalasHapus
  10. Iya, Mba. Infonya Gunung Guntur tutup dari 18 Januari 2017 sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

    BalasHapus
  11. Hehehe. Masih awet muda gitu kok mak..

    BalasHapus
  12. Pinjem mesin pemutar waktunya doraemon ya mak hehe

    BalasHapus
  13. Iya mba.. semoga *tapi belum kesampaian2

    BalasHapus
  14. asal ngga buang sampah sembarangan biar kerennya ngga ilang :D

    BalasHapus
  15. yuk mari diicip pemandangannya, mba..

    BalasHapus
  16. huehehe. Nyari relawan buat bawain tas, mba *eh*

    BalasHapus
  17. iya mba.. tapi tergantung destinasinya mana dulu

    BalasHapus
  18. Wah asyek cuci mata, cuci paru dan cuci hati 😄😍👍

    BalasHapus

Posting Komentar