Diary Pernikahan Bagian 4 - Pria yang Datang ke Rumah

diary pernikahan

 


 

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan."


-Lapis-Lapis Keberkahan, Salim A. Fillah-




Alhamdulillah di 131 hari pernikahan, selesai juga bagian 4...Ini kelanjutan dari kisah sebelumnya. Silakan yang belum baca dibuka dulu biar ngga loncat-loncat:

Diary Pernikahan Bagian 1
Diary Pernikahan Bagian 2
Diary Pernikahan Bagian 3

***


Pria itu mulai berjalan mendekat ke dalam rumah. Satu-satunya pria, yang tahu berapa usiaku saat itu, yang juga tahu bahwa aku belum lama memasuki bangku perkuliahan dan tahu bahwa aku belum dapat SIM alias Surat Izin Menikah (hal ini sudah kusampaikan ke teman akhwat itu, dan tentunya info ini sudah mengalir kepadanya) tapi malah datang ke rumah. Nekat? Entahlah.

Aku langsung memberi kode ke mamah yang saat itu kami sama-sama berada di toko. Singkat cerita, efek lupa, aku diminta mamah untuk mengantarkan tamu tersebut ke dalam rumah tepatnya di gudang yang kami jadikan ruang tamu dadakan. Maklumlah.. rumah kami di mana pun tempatnya bisa jadi gudang jajan apalagi menjelang Ramadhan. Rumah kecil dengan segala keriweuhan dan selimut debunya, tapi tetep selalu ngangenin dan jadi destinasi pilihan tiap liburan.

Setelah mempersilakan tamu tersebut duduk, tanpa basa-basi aku langsung undur diri meninggalkannya. Dari ruang tamu beralih ke dapur. Buru-buru menyiapkan teh dan cemilan cepuluh ala kadarnya. Berharap ada yang bantu-bantu di rumah jadi ngga perlu mengantarkan minumannya ke tamu itu. Tapi... Wah ini serasa di-diksar (read: pendidikan dasar, biasanya sering dijadikan sebagai syarat untuk bergabung di suatu organisasi sekolah) dan di hari itu mamah sudah tidak punya juru serba bisa lagi. Mau ngga mau aku yang harus nyeduh teh, masukin gula, nuangin ke gelas, menatanya di atas nampan lalu bergerak ala-ala puteri solo yang pakai sandal jepit (jalannya setengah lari) nemuin mas-mas yang lagi duduk sendirian.

Ngga!

Aku mengelak keras. Di dapur meracau seorang diri. Sambil mencari ide lain. Pokoknya ngga mau hal yang tadi dipikirkan terjadi, khawatir grogi, salting dan hm belum jelas juga tentang kedatangannya. Aku harus nemuin bareng mamah. Tapi di toko ngga ada yang jaga. Nah kalau mamah yang kuminta bawakan jamuan kan ngga memungkikan, berasa gimana gitu jadinya. Ngga ada maksud juga nyuruh-nyuruh mamah buat menjamu tamu kenalan anaknya ini.

Tips untuk perempuan jika ada pria yang datang ke rumah:

1. Doa
2. Kendalikan diri
3. Minimal bisa bikin teh


nah kalau
Tips untuk pria yang mendatangi rumah wali perempuan

Baca intisarinya dari cerita di bawah ini ya. Semoga saja yang melakukan entah kapan waktunya, mau ngeshare langsung pengalaman tersebut hehehe.

Akhirnya aku menemui mamah. Beberapa kali adu argumen sama mamah karena bagaimanapun menurut mamah itu kan tamu, masa ditinggalin. Mana jamuannya masih di dapur. Sedangkan mamah masih harus menyelesaikan beberapa urusan yang tidak bisa aku gantikan. Huah, aku mengoceh intinya plis ngga mau nemenin kan kita bukan mahram, ngga enak, bla bla bla. Plong. Mamah itu ngertiin banget. Dari musyawarah tersebut menghasilkan keputusan bahwa, aku jemput Mba Puspa, saudara sepupuku itu biasa mamah minta tolong untuk menggantikannya di toko jadi sepupuku itu lebih hafal setiap harga-harga barang. Nah kalau aku sendiri yang jaga, bisa-bisa baru sebentar ditinggal langsung teriak, "Mah.. ini berapa harganya? Kalau yang ini? Nah yang ini?"

Aku memacu motor dan menjemput Mba Puspa. Jamuan termasuk teh masih rapi di dapur hehe. Dan, satu sms masuk ke hp. Tamu yang sedang menunggu meminta waktu dengan mamah sebentar saja. Aku bingung balas apa. Sebenarnya kepikiran, kasihan juga tamunya datang dari jauh pakai nyasar di saat Brebes lagi semromong bahasa Jawanya alias panas eh malah tidak langsung disuguhi setidaknya segelas minuman dan tuan rumah belum juga memunculkan diri. Tapi yah tapi duh aku harus kabur dulu menjemput saudara dan berharap beliau bisa 'menunggu' beberapa menit lagi, hitung-hitung puasa sejenak.

Sampai aku di rumah bareng sepupuku itu. Mamah langsung bertukar posisi dengan Mba Puspa. Setelah kupastikan jamuan masih dalam keadaan baik-baik saja, meski teh sudah agak dingin, aku langsung membawanya dan mengikuti langkah di belakang mamah. Eng ing eng. Singkatnya, aku dan mamah duduk berlawanan arah dengan si tamu tapi bukan saling membelakangi -yaiya- tapi saling berhadapan. Dep. Kok deg-deg ser lagi ya padahal selesai bikin teh udah mendingan.

Oya, sebenarnya ada hal lain yang aku persiapkan. Susun strategi. Ini penting apalagi kalau si 'dia' sudah ada tanda-tanda kemunculannya. Meski saat hari H, di jam H, menit M, detik D belum tahu seperti apa kegiatannya. Rekam. Antara jiwa pembelajar atau keisengan yang entah tiba-tiba ide tersebut muncul. Jadi, kan dari kedatangan pria tersebut sebenarnya hati sudah condong kalau beliau bukan seseorang yang 'main' - sowan ke rumah untuk tujuan tidak jelas, tentu ada maksud lain yang sangat penting dan bilangnya itu untuk bertemu mamah bukan anaknya (catat!). Kenapa ngga sekalian pasang cctv terus videoin deh. Mahal. Lagian juga ngga punya cctv di rumah. Jadi saat itu sengaja pakai baju gamis bersaku depan dan di dalamnya sudah disiapkan hp jadul si nona symbian. Masalahnya nih aku bukan seseorang yang bisa mengingat secara persis plek jiplek apalagi kalau tiba-tiba groginya tambah parah. Nah daripada lupa momen itu, aku pikir lebih baik direkam dan siapa tahu juga dari lisannya banyak hikmah yang bisa dishare untuk yang lainnya di kemudian hari jika tertakdir momen baik.

Momen pun dibuka. Beliau sebagai tamu memperkenalkan diri. Perkenalan mulai dari nama, asal-usul, awal mula kami saling mengenal dan hal-hal pengantar lainnya. Pembicaraan mengalir renyah. Disaat seperti itu ingat bapak. Kontrol diri... ngga mungkin kan tiba-tiba mewek. Mamahku super tenangnya. Mamah adalah seorang ibu terbaik, temen mbolang terbaik, pun pada saat seorang tamu pria datang ke rumah aku tahu beliau melakukan sesuatu yang terbaik untuk anaknya.

Dan tibalah saatnya pria tersebut mengatakan, "Sebelumnya mohon maaf, saya ingin bicara empat mata berdua saja dengan ibu ..."

Krek!!! *emot retak* Aku memandangi sekitar. Berusaha menyelami lebih dalam maknanya.

"mungkin Tally bisa ke belakang dulu," lanjutnya pelan dengan sedikit intonasi ragu.

Dor!!! *emot benda absurd pecah*

Belum juga aku secara sembunyi-sembunyi menekan tombol rekam di hp. Eh udah 'diusir'. Rasanya campur aduk. Tapi ingat lagi pesannya sebelum sowan ke rumah itu mau main - silaturahim dengan mamah. Oke, fine. Beliau kan mau ketemu hanya dengan mamah. Aku mencoba melegakan diri kemudian beranjak dan pergi.

***


Tidak lama, sekitar 15 - 20 menit aku melihat sang tamu dan mamah bergantian melangkah ke luar rumah. Agaknya pertemuan hari itu telah berakhir. Mamah mencari-cari handphone untuk bertukar nomor dengan tamu tersebut. Padahal anaknya sendiri sudah punya, tapi ya biarlah mereka sepertinya sudah menjalin 'hubungan' sendiri. Maksudnya dari hasil silaturahim itu.

Keduanya masih terlibat pembicaraan yang tak dapat kudengar dari tempatku duduk. Aku hanya berdiam diri di dalam toko, meski tahu sang tamu sebentar lagi beranjak pergi. Lah wong tidak ada maksud ketemu denganku yasudah ngapain mengajukan diri dan mengiring kepulangannya.

Akhirnya pria dengan sepeda motor matic biru itu benar-benar telah meninggalkan rumah kami. Mamah kemudian masuk ke toko, mendekat ke arahku, lalu mencoba mengutarakan apa yang telah disampaikan tamu yang baru saja pergi.

"Jadi tadi Mas Tohir bilang, 'Saya punya minat ke puteri ibu. Dan bermaksud untuk menikahinya.'" Ucap mamah dengan nada datar tapi serius.

***


Bersambung...

Komentar

  1. Aaaaak tally, ini bikin aku speechless! :3

    BalasHapus
  2. Aaaa.. jangan speechless, Tiw. Ntar kalau pangeranmu dateng harus bisa ngomong :D

    BalasHapus

Posting Komentar