Diary Pernikahan Bagian 3: Tamu Tak Diundang

Diary Pernikahan


Pernikahan bukan tentang siapa cepat. Pernikahan bukan tentang siapa hebat.
Pernikahan tentang seberapa taat. Pernikahan menghalau maksiat.
Ikhtiar itu perlu bukan untuk pernikahan semata.
Berbenah diri untuk kehidupan di kemudian hari.

Begitu rangkumanku tentang pernikahan dari keluarga, sahabat, gurunda.  Adakalanya dalam masa-masa sebelum menjejaki gaung akad, kehadiran orang lain begitu berarti. Ketika lena melupakan segalanya, niat yang terbangung kokoh bisa saja runtuh dengan jentikan kelingking nan mungil. Bukan hanya akad saja, tapi dalam setiap langkah. Oleh karenanya dianjurkan untuk memperhatikan dengan siapa kita berteman.

Dengan adanya orang yang mampu mengingatkan kita. Niat yang bengkok diluruskan kembali. Tapi tak jarang lirih godaan datang. Berbuat baik untuk dilihat orang lain. Saat ada dia, ya bisa jadi. Tiba-tiba ingin berbuat sesuatu yang menimbulkan peralihan perhatiannya. Atau mungkin saat ada teman, saudara, bahkan orang tak dikenal berharap apa yang kita kerjakan bisa berbuah cerita menawan hingga cerita itu mengantarkan kita pada jodoh impian. Misalnya teman kita punya teman yang kita kagumi, tiap bersama teman kita itu, semaksimal mungkin berusaha memberi kesan citra positif. Dengan harap teman kita itu bisa merekomendasikan dari apa yang kita lakukan ke temannya. Semoga kita dihindarkan dari niat yang bengkok. Seperti yang sering disebut Aa Gym, 'Bukan gelar atau jabatan yang membuat orang menjadi mulia. Jika kualitas pribadi buruk, semua itu hanyalah topeng tanpa wajah.' Luruskan niat.

Hal itu terjadi padaku. Beberapa kali. Ya, aku pernah mengalaminya. Entah bagaimana penyusupan itu, tiba-tiba tergerak untuk bersikap baik hanya karena ingin dilihat. Apalagi dengan adanya kabar ada seseorang yang akan datang. Bisikan-bisikan untuk tampil sempurna. Aku mengecam diri. Perjalanan ini masih jauh. Bukankah amal seseorang tergantung dari apa yang diniatkannya? Jika aku melakukan sesuatu hanya karena pernikahan - jodoh impian yang belum tentu dapat di dunia, khawatir akan ada kecewa dan bukan hanya itu, semua yang dilakukan menjadi sia-sia. Alhamdulillah, kadang apa yang kita rasakan di hati ngga tahunya dibahas di kajian atau obrolan dengan teman-teman. Jadi ngerasa pas dan jleb banget. Pernah ngalamin juga?

Intermezo sedikit meski ngga nyambung sama judulnya. Menyusup di lembar ini.

Jangan lupa yang belum baca diary pernikahan, baca dulu ya:
Diary Pernikahan Bagian 1
Diary Pernikahan Bagian 2



"Lelaki sejati bukan yang banyak janji, tapi yang berani datangi wali, atau menahan diri dari perkataan yang tak pasti." Dikutip dari Buku Udah Putusin Aja - Felix Siauw




Beberapa hari berlalu. Tiap kali bersapa jarak jauh via telepon dengan mamah, aku tak menyebut perihal akan datangnya 'tamu'. Aku masih bingung hendak dari mana memulai pembicaraan. Kalau bilang satu hal tentang 'tamu', berpuluh pertanyaan tentu akan mengarah padaku. Mau nyontek ngga bisa kan. Cari contekan di mana?

Aku terpaku di depan layar si telepon pintar. Mengutak atik otak mencari kata yang pas. Sesekali jemari bergerak ambil tindakan tapi tombol hapus lagi-lagi berperan. Detik, menit, jam, hari sudah terlewati. Masih saja rasanya ada tali yang mengikat, tangan yang membungkam. Aku kembali membuka percakapan dengan lelaki itu di BBM, Sabtu, 4 April 2015. Empat April Dua Ribu Lima Belas. Masih beberapa minggu lagi, pikirku enteng. Menghitung hari. 4 April 2015! Membaca berulang kali. Pun chat di whatsapp dengan teman akhwatku yang mengabarkan tentang kehadiran.
Pernikahan

Tiba-tiba ingat saat itu adalah bulan Maret. Ada satu hari spesial, Maret 1995. Di mana sejarah baru dimulai. Tinta lauhul mahfudz terbaca oleh semesta. Apakah benar kejadian itu? Aku langsung mengetik pesan ke mamah. Memastikan bahwa apa yang terjadi 20 tahun lalu adalah hari bersejarah antara mamah dan bapak. 20 Maret 2015, aku mencoba membuka percakapan. Tapi gagal. Ciut. Aku masih bingung mau melanjutkan kata apa lagi. Aku hanya mengabari mamah kalau Jumat, 2 April 2015, malam, sepulang kuliah mau pulang ke Brebes naik travel.

Diary Pernikahan Bagian 3

Kamis, 1 April 2015, tepat di hari lahir adikku. Mamah yang awalnya kirim sms doa untuk Zaqiyah. Aku mencoba memulai kembali percapakan. Hendak memberitahukan niatku pulang karena akan ada seseorang, sebelum hari H yang sebentar lagi! Hahaha. Sebenarnya aku tidak suka basa-basi. Tapi saat itu kepo juga karena selama ini mamah belum pernah cerita mendetail tahap-tahap jungkir baliknya sebelum menikah dengan bapak. Pertemuan. Pendekatan. Kehadiran. Teman. Mantan. Suka. Duka. Semua rasa. Pernikahan. Barangkali kisahku bisa belajar dari kisahya, kisah mereka. Ada udang di balik bakwan. Alih-alih minta diceritain, padahal pengin cerita. Ya, seperti yang sudah dirisaukan. Anggap saja itu blueberry muffin sebagai appetizer, sebelum menuju ke main course rasa nano-nano.

Setelah mengumpulkan kesadaran dan keberanian, bicaralah ke mamah via telepon. Meski topik itu bukan hal asing antara kami, tapi karena ini akan mengakibatkan 'kehadiran' aku merasa perlu hati-hati menyampaikannya. Mengenai siapa, kenal darimana, dimana tinggalnya, dimana kuliahnya, kerjanya dan hal-hal umum lainnya ditanyakan. Aku mengatakan secara jujur bahwa aku tidak yakin lelaki itu yang akan datang dan punya maksud tertentu, tapi orang itulah yang memastikan alamat dan permisi hendak main - silaturahmi dengan mamah. Pun aku tidak yakin kehadirannya bermaksud untuk hal-hal yang mengarah ke pernikahan. Kehadiran yang dikabarkan akan datang ke rumah 4 April 2015.

Huahhh rasanya itu campur aduk. Setelah cerita dengan mamah ada yang plong. Tapi kemungkinan berbagai pertanyaan masih ada. Belum lagi kalau keluarga besar tahu. Satu pertanyaan sih sebenarnya, yang pada intinya menanyakan 'kesiapan', ya kan pastinya? Apalagi seumuranku dimana pada umumnya perempuan menikah di atas dua puluhan tahun atau minimal selesai kuliah. Karena kebanyakan yang menikah saat usia muda di desa kesannya yang sudah tidak melanjutkan sekolah.  Risih juga dengan pandangan seperti itu, tapi akhir-akhir ini kuperhatikan mulai berkurang barangkali faktor kebiasaan saja di masyarakat.

4 April 2015

Sabtu sepertiga malam, aku sampai di rumah. Selesai beres-beres, cuci muka dan sebagainya, langsung tidur. Karena cuma berdua di rumah, aku biasa tidur dengan mamah. Kecuali kalau ada kurcil - kurcil, ya mau gimana lagi harus ngalah tidur sendiri.

Aku saat itu mencari-cari waktu yang pas dan menyakin diri. Di kamar, aku mencoba 'pdkt' lagi sama mamah. Tanya berbagai hal kembali dan lebih detail saat pertama kali mamah bertemu bapak, hingga bapak sampai ke rumah mbah untuk menyampaikan niat baiknya.
***

Sabtu pagi hari aku beraktivitas seperti biasa. Bantuin mamah buka warung, dan lain-lain. Di mana pun kadang handphone tidak standby di tangan. Apalagi di rumah dengan seabrek aktivitas kecuali kalau memang perlu. Kehadiran yang dijanjikan pukul 09.00 WIB belum ada tanda-tanda sejam sebelumnya. Mamah menanyakan perihal itu, kujawab cuek saja. Ya kalau jadi datang yaudah kalau ngga jadi yaudah. Hehehe. Dan ternyata ada pesan di kotak masuk yang telat kubuka.

Aku lupa tidak memberitahu sebelumnya kalau rumahku berada di dusun jauh dari desanya malah lebih dekat ke desa tetangga. Kalau dicari dengan alamat nama desa banyak yang sering nyasar termasuk sales atau pengirim barang stokis toko. Wah... ini mah udah tanda-tanda...







Beberapa menit setelah itu tampak seorang lelaki yang penampilannya bukan bakul jajan memarkirkan motor di depan toko. Sebelum ia membuka helm aku sudah menebak pasti itu orangnya. Begitu helm dilepas den aksesoris mengemudi lainnya. Yap. Itu. Itu iya itu! Aku memandangi keluar memastikan kedatangannya bersama siapa. Tak ada lagi orang yang muncul di sebelahnya.



Bersambung ...

Next --> Diary Pernikahan Bagian 4

Komentar

  1. Blognya sederhana tapi cakep...
    Tulisannya juga bagus :-)

    BalasHapus
  2. Saya penasaran dengan kisah selanjutnya :)

    BalasHapus
  3. Penasaran juga kelanjutannya. Adek ini umurnya past msh muda ya, mamanya aja menikah th 95. Salam kenal :)

    BalasHapus
  4. Menanti kisah selanjutnya ya kalau begitu hehe

    BalasHapus
  5. Terima kasih sudah berkunjung, Mba Afra..

    BalasHapus
  6. terima kasih sudah membaca

    BalasHapus
  7. terima kasih sudah membaca

    BalasHapus
  8. Terima kasih sudah membaca. Masih bau kencur ya, Mba. Hehe. Mohon bimbingannya. Salam kenal..

    BalasHapus
  9. sisain energi deg2an buat 'nanti' tiw.. hehe

    BalasHapus
  10. Clara A Meytasari26 Desember 2016 16.07

    Nyenengin baca blog nya dari awal sampe blog yg ini, jadi ikut ngerasain cengar cengir ceritanya

    BalasHapus
  11. Hehehe. Makasih udah mampir, Clara. Ditunggu kabar baiknya sama jodoh terbaik ^^

    BalasHapus

Posting Komentar