Diary Pernikahan Bagian 2 : Sebersit Rasa

Diary Pernikahan

Pernikahan adalah jalan di mana dua insan merapatkan barisan dalam penghambaan padaNya. Pernikahan bersarikan harapan, harapan tanpa paksaan, harapan tanpa kecelakaan, harapan tanpa kekeliruan, harapan yang membumbung tinggi mengalirkan energi-energi sehangat pagi.

Menyambung dari cerita sebelumnya yang pada akhrinya kami bertemu. Yang belum baca, baca dulu ya... Diary Pernikahan Bagian 1. Awal mula aku memutuskan untuk ikut kegiatan rihlah myquran di Bogor selain jalan-jalan di hari Sabtu, hari Minggunya aku bisa menjenguk adikku - Adam -  yang waktu itu masih kelas empat sekolah dasar dan mondok di Daqu Ketapang, Tangerang. Apalagi mamah jarang jenguk karena banyak keterbatasan dan pekerjaan yang beliau lakukan kadang hanya bisa nitip uang saku ke saudara dan sekedar bersapa dari jauh via telepon. Alhamdulillah Adam tumbuh sebagai anak dewasa yang mampu memahami keadaan keluarga dan tentunya ini pengorbanan juga bagi mamah. Siapa sih ibu yang mau tinggal jauh dari anak-anaknya. Beliau tentu mengorbankan itu karena itu yang terbaik untuk anaknya. Sehingga aku percaya apapun keputusan mamah, itulah yang terbaik untuk anaknya. Dan itu terjadi bukan hanya pada Adam, tapi dua adik perempuanku lainnya mondok di tempat yang berbeda-beda, pun aku sendiri merantau di Bandung.

myquran

Tahun 2014, myq pusat masih sering mengadakan agenda. Dan aku tak jarang ikut gabung karena ya sambil menyelam minum air. Bukan sambil ikut acara cari jodoh ya.. hehe. Ya itu tadi aku yang berdomisili di Bandung, sedangkan kegiatan myq seringkali diadakan di Jakarta, setidaknya tidak terlalu jauh dengan pondok tempat Adam menuntut ilmu. Jadi lepas acara atau sebelum acara mampir dulu untuk nengok dan ceritaan bareng lelaki satu-satunya dalam keluarga.

Aku pun sedikit demi sedikit mengenal beliau, meski tidak banyak interaksi. Beberapa kali mendengar cerita tentangnya dari obrolan para mbak-mbak yang lagi ngerumpi.. memang yaa namanya wanita ya gitu deh *ups*.  Seiring berjalannya waktu, beberapa kali tiap ada error di komputer/lapotop memberanikan diri tanya ke beliau, apalagi kalau ngga nemu solusinya dan udah bundet.

Pada suatu titik, aku pernah merasakan titik tersudut. Di mana bingung, sedih, semua bercampur baur. Aku tak mudah terbuka ke setiap orang. Hanya ada beberapa yang kupercaya yang bisa menjadi tempat bertanya. Tiap kali ada masalah, kadang telepon mamah dan sejenak bisa tenang. Tapi saat itu entah benar-benar semakin terpojokkan. Sudah kuceritakan dan minta pendapat ke keluarga atau pun sahabat, tak lupa Dia. Tetap. Masih saja ada yang mengganjal.

Saat itu aku membuka facebook. Entah bagaimana awalnya, aku membaca komentar beliau di salah satu status temanku yang berhubungan dengan apa yang sedang aku risaukan. Sebersit rasa itu hadir. Ingin bercerita ke beliau. Tapi, tidak mungkin. Nanti dikira modus deh. Lagian juga belum kenal banget, sebatas tahu di dunia maya dan dari beberapa myqers. Dan juga terlalu baik bagi setan untuk membuat celah.

Akhirnya aku yang saat itu baru bisa naik motor dan baru saja dikirimi motor ke Bandung, pergi ke Tanjungsari, Sumedang untuk datang ke kajian ustadz Habib, pembimbing di Thifan & Puteri Gading - beladiri khusus muslim. Padahal tiap empat bulan sekali ustadz hadir ke Pindad, lanah tempatku latihan dulu, untuk mengisi kajian saat ujian. Menunggu waktu itu tiba rasanya terlalu lama. Aku pun meminta petunjuk arah ke Teh Santi. Ahad pagi meski nyasar-nyasar, alhamdulillah masih kebagian kajian Ustadz. Aku masih bingung kapan waktu yang tepat untuk bertanya. Akhirnya sampai kajian berakhir aku masih terdiam. Tak bisa kuteruskan kesia-siaan menunggu itu. Akhirnya begitu Ustadz beranjak dari tempat duduknya dan satu per satu yang hadir pulang, aku memberanikan diri menyusul ke arah belakang masjid. Waktu itu di belakang ramai oleh thifaners yang sedang mempersiapkan diri untuk latihan. Tanpa pikir panjang aku langsung menceritakan sekilas dan minta pendapat Ustadz Habib.

Lega. Ada rasa lega mendengar jawaban dari Ustadz Habib. Tapi di sisi lain ada rasa risih. Apa iya harus konsultasi terus menerus ke Ustadz Habib, kan beliau laki-laki. Rasanya kurang sreg. Muncul lagi sebersit rasa itu, tentang beliau - mas-mas yang komen di fb temen dan sekarang jadi suami -. Gimana ya kalau nikah aja. Kayaknya lebih leluasa kalau punya suami yang bisa membimbing istrinya dan sabaaaaar banget dengan istri (yang labil bin moodmoodan ini) tapi siapa? Mas itu? Langsung aku mengelak. Plis belum waktunya. Plis jangan ada apapun yang mencorat-coret hati.

Hah. Ternyata perintah menundukkan pandangan itu ngga mudah ya. Padahal datangnya pada saat tidak bertemu langsung. Baca komen itu loh.. Huwah godaan itu hebat banget sih. Hilang perkara A meski ngga seutuhnya hilang masih saja sesekali muncul, datang perkara B. Alhamdulillah, sebersit rasa itu pecah dan hilang. Kerisauan semakin memudar. Kucoba untuk menyibukkan diri dengan segala sesuatu. Ikut kegiatan  rutinan, mulai kenal dengan beberapa teman-teman dan gurunda akhwat yang menginspirasi dan selalu memberi semangat.

Kira-kira antara bulan Februari dan Maret 2015 ada sebuah chat masuk. Dari seorang teman akhwat. Yang pada intinya ada seorang ikhwan yang siap menikah, lalu bagaimana dengan kondisiku? Aku lupa bagaimana jelasnya jawaban itu tersampaikan. Namun saat itu aku pernah sharing sebelumnya dengan mamah, bahwa beliau belum memberi izin sampai minimal lulus kuliah dan waktu itu aku masih semester 2 (Perjalanan masih jauh, Kapten!). Singkat cerita ternyata sang ikhwan ingin jawaban langsung dan mau sowan ke rumah menemui mamah hal itu disampaikan via teman akhwatku itu. Aku yang membaca chat whatsapp bertanya-tanya siapa sih... soalnya ngga dikasih tahu namanya. Dan jawabanku silakan aja kalau mau ke rumah (*nggaya nantang banget padahal mah bingung mau ngomong apa dulu ke mamah sebelum mamah kaget kedatangan tamu.. deuh -__-" )

Beberapa hari kemudian ada chat masuk di BBM dari seorang ikhwan. Menanyakan alamat rumahku bener ngga setelah daerah ...... Nah, sontak aku menebak bahwa itu orangnya. Tapi tahu dari mana alamatku? Bener itu orangnya, atau dia mau nganterin temennya? Aku mencoba biasa aja dan jawab dengan datar tanpa tanya-tanya mau ngapain bisa aja kan cuma tanya, ceritanya ngga mau over kepedean hehehe.

Bersambung..

nb : kalau ada yang membingungkan mohon dimaafkan



Silakan baca kelanjutannya.. Diary Pernikahan Bagian 3

Komentar

  1. jadi ingat masa-masa taaruf hehe

    BalasHapus
  2. ehmmm ehmmm, sepanjang jalan kenangan niye... sampai ke bogor, sumedang segala.. Soal jodoh ini memang rahasia langit banget ya mba. Dan saya juga percaya kekuatan hati, hati itu selalu bolak balik. Kalau kita menyimpan suatu rasa pada seseorang, entah suka, tak suka, atau rasa apapun, biasanya org itu juga begitu pada kita... hmmm, so, kapan nih part 3 nya... :-)

    BalasHapus
  3. Trus trus?? Jadi dateng kerumah gak tuh?

    BalasHapus
  4. deg degannya udahan, mba.. hhhe

    BalasHapus
  5. sepanjang jalan kenangan kita selalu.. *malah nyanyi*
    apa iya sih mak? kalau kita ngefans sama seorang tokoh, dia ngefans balik ke kita gitu kah? hehehe *sambil ngaminin ngarep. Eh ada kata biasanya.. ngga semua berarti ya mak.
    Part3, insyaAllah segera..

    BalasHapus
  6. udah ada lanjutannya bang...

    BalasHapus

Posting Komentar