Story Blog Tour : PULANG


*flashback*


Rekah senyumnya perlahan menjadi getir. Sepasang bola mata berkilau nyalang. Tangannya mengepal. Buku-buku teremas. Ruangan itu hanya bercahayakan dari bohlam 5 watt yang menggantung di tengah. Sarang laba-laba bergelayutan membuat larik sinar berbayang gerak-gerik serangga abu-abu itu.


Ia mengambil sebuah linggis yang terletak di rak lemari dekat jendela.


"Pergilah kau!"


Tangannya mengacungkan linggis, sejajar dengan dagu lancip dan sudut pandang mata yang menyerong ke atas. Gerahamnya mengeram.


"Apa ha? Pulang? Ini bukan rumahmu. Pergilah! Aku tidak mau berteriak-teriak dan membangunkan Ana. Pergi!" desahnya penuh tekanan.


Jendela rumah tua yang berada di lantai dua itu berderit saat ia paksa untuk terbuka. Engsel mulai longgar bergerak. Dan... baaah! Kelebat angin malam menempa wajah, mengacak-acak rambut panjangnya.


"Pergi sekarang juga!"


"Greeebbb!!" Jendela berkaca itu tertutup oleh angin kencang. Namun kacanya tak sampai pecah. Ia bangkit langsung mengunci jendela. Menutup tirai, mendorong sebuah lemari menghalangi muka jendela. Kakinya berjalan mundur. Tubuhnya membentur tembok. Seketika itu ia luruh, tangisnya pecah.


"Pergi ... pergi ... pergi ..." ceracaunya dalam ringkuk dan selimut dingin malam.


"Kapan kau pulang? Kapan kau kembali? Tetaplah di sini. Kau yang selalu mengukir tawa, mengobati luka. Bagaimana bisa kubiuskan kebencian di dalam dada, atas namamu. Bahkan pada mereka yang mengayun cambuk pun kaubisikkan kata-kata cinta dalam telinga. Harapan. Ia tumbuh dalam jiwa. Merambat. Kuat menghunjam. Tapi semuanya berubah. Kau berubah. Atau caraku memandangmu yang berubah. Kita saling muak. Namun hati lebih muak pada diri sendiri. Muak atas kemuakan. Aku selalu menunggumu. Aaaaarggh! Tidak. Kau telah membunuh putri pertama kita, Bella. Bella ...."


Jam berdentang sebelas kali. Diusap butir-butir yang mengalir di pipi.


"Aku harus bangkit. Ana sayang, kau aman di sini. Malam ini kau harus tidur. Besok hari pertamamu ujian di sekolah. Dan setelah itu kau harus cepat pulang. Pulang, Ana. Pulang, anakku. Kembali ke rumah." Tatapannya kosong ke depan. Ia menarik nafas panjang. Tubuhnya bangkit. Kakinya mulai melangkah, meninggalkan ruang berpenghuni laba-laba. Senandungnya mulai mengalun.


“Flowers in my hair
Demons in my head
Madness in my mind
Darkness in my soul
And storm in my heart"


*end of flashback*


1 message received


"Selamat malam, Ana. From: Ditya."


 




to be continued >> lempar ke Mister Izzy!!!!



Tulisan ini bagian dari Story Blog Tour yang diadakan Komunitas OWOP (One Week One Paper). Beberapa member OWOP yang sudah mendaftar, sesuai urutannya membuat story di blog pribadi masing-masing. Kemudian member berikutnya melanjutkan cerita di blog pribadinya juga. Nah, Ini merupakan tulisan bersambung ke-6.



Episode 1 :  Senandung Malam - Nadhira Arini

Episode 2 : Rumah tua - Rizka Zu Agustina

Episode 3 : Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan - Cicilia Putri Ardila

Episode 4 : Kunci yang Diputar Tengah Malam - Rizki Khotimah
Episode 5 : Tamu Tak Diundang - Dini Riyani

Komentar

  1. Poongan cerita yang hilang, pas di dalam kamar tua ya. Good Tally :*

    BalasHapus

Posting Komentar