Aksesibel Untuk Semua

[caption id="" align="aligncenter" width="285"] source img : dreamstime.com[/caption]

"Mereka bilang aku berbeda. Aku tidak mengerti kenapa. Padalah seperti anak-anak lain, aku dilahirkan dengan cara yang sama. Melalui perjuangan."
Sebuah kutipan dari film 'Ayah Mengapa Aku Berbeda?'

Film yang diangkat dari novel karya Kak AgnesDavonar ini sampai berulang-ulang diputar ngga bosen bikin terharu. Menghabiskan beberapa lembar tisu. Lebay? Tapi memang kenyataannya begitu. Kecuali waktu nonton bareng-bareng dan berusaha mengalihkan perhatian supaya ngga larut dalam cerita.

Dari pembukaan film, udah larut dengan kisah heroik sang ibu yang meninggal saat melahirkan. Kemudian anaknya, Angel ternyata mengalami tuna rungu. Dikucilkan teman-teman sampai dianiaya. Tak hanya itu, ia kembali diuji ketika ayahnya meninggal disusul sahabatnya pun meninggal karena kecelakaan. Bertubi-tubi ujian itu terus menghantam Angel.

Membaca cover novelnya, ada goresan Kak AD; "Kini Angel percaya, bahwa Tuhan menciptakannya ke dunia ini dengan suatu tujuan? Tujuan yang harus ia perjuangkan dengan segala keterbatasan fisiknya." Kalimat itu menggambarkan karakter Angel yang dibawakan Kak Dinda Hauw. Tentang bagaimana selanjutnya Angel bertahan dan terus melangkah.

Saya belum pernah bertemu dengan sosok seperti Angel. Sebelum menonton film ini, Angel masih absurd. Banyak orang hidup dalam kebisingan, namun ia hidup dalam keheningan. Bagaimana mereka menjalani keseharian, belum tergambar gamblang dalam benak.

Begitu merantau ke Bandung, saya mengenal lebih dekat tentang mereka.  Melalui BYF (Bandung Youth Forum) - Forum komunikasi antar komunitas kreatif dan saluran aspirasi pemuda yang bernaung di bawah DISPORA Bandung. 17 Agustus 2015, di Balai Kota. Mewakili FLP Bandung,  saya, Teh Dewi dan Kang Agus ikut Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kepemudaan. Ada yang menarik. Awalnya saya tidak tahu kenapa ada seorang wanita yang duduk di depan dan menghadap berlawanan atau searah dengan pembicara tapi tidak bicara. Beliau hanya menggerakan tangannya dan sesekali bola mata serta bibirnya seirama mengukir senyum.



Di sesi perkenalan, barulah saya mengerti. Namanya Teh Okti. Beliau adalah seorang penerjemah bahasa isyarat. Di barisan terdepan duduk teman-teman perwakilan dari BILIC (Bandung Independent Living Center). Ada yang tuna rungu ada pula yang cacat fisik. Tapi mereka istimewa. Mereka yang mampu membuat decak kagum. Mereka yang membuat saya merunduk malu.

Saat rapat, kami semua berkumpul dan menuliskan permasalahan-permasalahan terkait kepemudaan di Bandung. Semua disatukan. Selanjutnya diambil poin-poin terpenting untuk disampaikan ke pemerintah sore hari saat acara penurunan bendera merah putih, sebagai Deklarasi  Bandung Youth Forum. Saya, Teh Dewi dan Kang Agus terpisah dalam rapat. Saya pun kemudian mengajak berkenalan dua orang anggota BILIC yang perempuan. Keduanya mengenakan kerudung. Waktu itu ishoma. Nah, pas sekali sekalian ajak shalat bareng sehingga obrolan kami pun bisa lebih akrab. Jujur saja saya merasa miris terhadap diri sendiri. Sepanjang perjalanan menuju Masjid Al Ukhuwah, keduanya berbicara dengan bahasa isyarat. Saya tidak mengerti. Mencoba mengerti. Tetap tak mengerti. Telinga menangkap banyak orang berbicara. Namun pembicaraan keduanya sama sekali tak bisa diketahui. Saya merasakan keterasingan di antara mereka berdua.  Tapi, mungkin sebelum saya mereka pernah lebih merasa keterasingan ini. Keheningan. Hanya gerak-gerik yang bisa ditangkap. Rasa syukur itu yang perlu saya koreksi dari diri ini.

Selesai rapat, kembali ke stand Forum Lingkar Pena Bandung. Semua komunitas yang terdaftar disediakan stand untuk pameran di halaman balai kota. Rame. Ada komunitas pecinta Korea, Jepang, komunitas Bahasa Jerman, komunitas Kewirausahaan, Forum Club Motor Bandung, dll. Kemudian saya berinisiatif mengajak Teh Dewi untuk berkeliling  ke setiap stand.

Kami pun mendatangi stand yang paling ujung. Ada stand dari BILIC! Wahhh di depan standnya ada petisi yang berhastagkan #JadikanBandungAksesibel.



Setelah ngobrol-ngobrol dengan ibu yang menjaga stand, kami pun ditawarin menandatangani petisi (macam artis nih hehe). Ternyata oh ternyata Pak Walikota Ridwan Kamil dan wakil Pak Oded sudah (paling awal) menandatangani. Bisa dilihat di fotonya yang paling gede hehe. Nah saat baca itu, kemudian kepo-kepo tanya segala macam. Lalu seorang bapak (lupa namanya, maafkan saya pak.. beliau sedang duduk di foto) menuturkan, "Tadi pagi setelah upacara Pak Walikota datang ke stand kami lalu setelah itu buru-buru pergi, sepertinya ada kepentingan lain. Pak Ridwan Kamil datang ke sini saja rasanya senang sekali."



Tak lama kemudian Teh Okti datang bersama rombongan yang ikut di rapat tadi. Salah satunya ada Teh Nirna. Bertemu mereka seakan sudah merasa akrab. Belajar dari Teh Okti, saya dan Teh Dewi memperkenalkan diri ke teman-teman BILIC.

"Nama."  Tangan kanan seolah sedang menulis di atas tangan kiri.

"Saya." Kedua tangan diletakkan mendekap dada.

"L." Telunjuk dan ibu jari tegak lurus

"I." Cukup mengacungkan telunjuk

"L."

"I"

Fyuhh. Daripada memperkenalkan diri dengan Tally, dipilihlah Lili biar lebih mudah hehe.

Setelah perkenalan dan berbagai obrolan, Teh Okti dan rombongan ternyata punya rencana yang sama. Keliling! Akhirnya kami pun touring bersama ke setiap stand. Teman-teman BILIC ini kadang suka ngobrol dan senyum bahkan ada yang ketawa. Bikin KZL! Aku kan ngga tau... sambil pasang muka cemberut. Eh mereka malah tambah seneng. Hehehe. Ah, mereka jadi pengin belajar bahasa isyarat tapi sampai sekarang baru bisa ABCD.. dan harus pelan. Kalau penerjemahnya macam Teh Okti, hmmm saya manggut-manggut aja deh. Super flash. Tapi hebatnya teman-teman BILIC ini paham banget.



Di sinilah saya mengerti. Ya kita sama, saya bisa mendengar tapi ketika bahasa itu tidak dikuasai, apalah artinya. Hanya bisa manggut-manggut. Orang ketawa kadang malah cemberut atau ikut ketawa padahal itu menertawakan diri sendiri (pengalaman pribadi saat kumpul sama akang-teteh yang suka nyunda. Tunggu saatnya ya Teh, Kang. Hehehe).

Kesombongan. Tidak ada yang bisa disombongkan. Bahkan sebagai muslim pun diingatkan, tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada kesombongan sekecil apa pun. Bertemu mereka, banyak pelajaran bisa dipetik.  Salut untuk teman-teman BILIC yang murah senyum dan menghadapi jalannya dengan tatapan optimis. Terima kasih semuanya...

Sore hari. Deklarasi Bandung Youth Forum disampaikan. Detailnya di foto ya..


***


Sebagai follower Pak Ridwan Kamil di instagram, tentunya update dong info terkait Bandung. Nah beberapa pekan yang lalu, Pak Walikota memposting foto sedang naik ayunan dengan caption "Pengecekan Taman terapi untuk disabilitas. Ini ayunan untuk yang berkursi roda. Menuju Bandung kota untuk semua." MasyaAllah... saya berdecak kagum. Kembali teringat saat bersama teman-teman dari BILIC.

Sampai...Sampai... Teh, Kang. Suara hati itu sampai!

Mungkin saya tidak begitu mengerti. Mungkin jauh sebelum ini, mungkin lebih banyak dari ini dorongan dari pemerintah. Tapi lewat informasi barulah saya mengetahui.


***


Difabel ataupun bukan. Mereka mempunyai kesempatan sama. Ada salah seorang yang pagi ini baru saya kenal. Melalui broadcast Mba Kiki, seorang tumblr setia penyuka bunga matahari. Ini tentang seseorang yang di blognya memperkenalkan diri, "I am a disabled. I am unable to use my hands to perform certain actions including handwriting." Di baris pertama blog beliau menuliskan, "I am a Ph.D researcher, independent journalist, and disability advocate based in Qatar and the UK."

Orang luar negeri ya? Hmmm. Orang luar negeri yang istimewa begitu memang banyak yang terkenal luar biasa. Semacam Albert Einstein, Nick Vujicic - seorang motivator terkenal, Thom Wittaker - pendaki difabel pertama yang menaklukan Mt. Everest.

Eits, siapa kira. Indonesia juga banyak lho mereka yang berprestasi. Di antaranya Om Gola Gong, beliau hanya memiliki satu tangan secara fisik tapi tulisannya banyak bertebaran yang sudah dibukukan terus ada lagi, Pak Sobar Gorky, Kak Stephanie Handojo, Pak Sugeng Siswoyudono, dll.

Nah kalau yang dishare Mba Kiki adalah Muhammad Zulfikar Rahmat. Seorang pemuda yang mengalami gangguan motorik di tangannya.  Lanjutan perkenalannya di blog, "I am originally from Indonesia, but I have lived in the Middle East for the past eight years and have traveled extensively across the region."


 

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=p0u1AOX50W0[/embed]
*sumber video : Muhammad Zulfikar Rahmat - youtube com

 

Mereka yang biasa terasa lebih dari itu ketika bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri apalagi ini membuat saya berdecak kagum. Beliau dahulu ditolak sekolah di sekolah umum namun perjuangannya didampingi kedua orang tua tak berakhir begitu saja. Ujar Kak Fikar, bahwa perjuangan hanya akan berhenti setelah ajal. Ini tamparan bagi saya pribadi. Dan lagi, motivasi yang beliau sampaikan melalui judul setiap bagian sharingnya di muhzulfikar tumblr com dengan "Allah memberikanku kesempurnaan."

 




Semoga suara-suara hati teman-teman semakin banyak didengar dan harapan itu terealisasikan
For all of you, dear...



 




 

Komentar

  1. Support dan wujud nyata pemerintahn (daerah) dan kita semua harus terus ditingkatkan. Salut ah kalo Pak Walkot punya concern dan kontiunitas utk mensupport difabel person.
    Sebagian besar mereka tuh daya juangnya luar biasa dibanding kita yg alhamdulillah lebih sempurna. Meski tidak sedikit juga yg harus benar2 kita support utk bs bangkit dan setara.

    BalasHapus
  2. Amiin. Suka kagum sm mereka yg bs bhs isyarat..kan susah y menurt sy yg normal. Tp itulah..menurut kita mereka kurang pdhl mereka pny kelebihn

    BalasHapus
  3. Semoga mereka dikuatkan dengan mereka juga bisa menikmati fasilitas seperti teman-teman lainnya .... Amin. Sedih banget ama kisah yang di filmkan :(

    BalasHapus
  4. Iya mba... saya pas merhatiin malah bingung sendiri. Salut salut salut pada mereka

    BalasHapus
  5. ah kalian keren, anak2 muda yang mengispirasi, aku kenal penyandang disabilitas tapi keliatan produktif banget di kursi rodanya, sebagai manusia yg dianugerahi kelengkapan jadi erasa malu, eh salam buat bapak wali ya

    BalasHapus
  6. Betul, mbak.. motivasi banget ya untuk diri sendiri. Semoga baik pemerintahan maupun individu banyak yang tergerak untuk mereka

    BalasHapus
  7. Wah keren.. Semoga keberkahan meliputi beliau.
    Salamnya disimpen aja ya mba. Ngga tau cara nyampeinnya hehe.

    BalasHapus

Posting Komentar