Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Aksesibel Untuk Semua

Gambar
[caption id="" align="aligncenter" width="285"] source img : dreamstime.com[/caption]

"Mereka bilang aku berbeda. Aku tidak mengerti kenapa. Padalah seperti anak-anak lain, aku dilahirkan dengan cara yang sama. Melalui perjuangan."
Sebuah kutipan dari film 'Ayah Mengapa Aku Berbeda?'

Film yang diangkat dari novel karya Kak AgnesDavonar ini sampai berulang-ulang diputar ngga bosen bikin terharu. Menghabiskan beberapa lembar tisu. Lebay? Tapi memang kenyataannya begitu. Kecuali waktu nonton bareng-bareng dan berusaha mengalihkan perhatian supaya ngga larut dalam cerita.

Dari pembukaan film, udah larut dengan kisah heroik sang ibu yang meninggal saat melahirkan. Kemudian anaknya, Angel ternyata mengalami tuna rungu. Dikucilkan teman-teman sampai dianiaya. Tak hanya itu, ia kembali diuji ketika ayahnya meninggal disusul sahabatnya pun meninggal karena kecelakaan. Bertubi-tubi ujian itu terus menghantam Angel.

Membaca cover novelnya, ada goresan K…

Story Blog Tour : PULANG

Gambar
*flashback*
Rekah senyumnya perlahan menjadi getir. Sepasang bola mata berkilau nyalang. Tangannya mengepal. Buku-buku teremas. Ruangan itu hanya bercahayakan dari bohlam 5 watt yang menggantung di tengah. Sarang laba-laba bergelayutan membuat larik sinar berbayang gerak-gerik serangga abu-abu itu.
Ia mengambil sebuah linggis yang terletak di rak lemari dekat jendela.
"Pergilah kau!"
Tangannya mengacungkan linggis, sejajar dengan dagu lancip dan sudut pandang mata yang menyerong ke atas. Gerahamnya mengeram.
"Apa ha? Pulang? Ini bukan rumahmu. Pergilah! Aku tidak mau berteriak-teriak dan membangunkan Ana. Pergi!" desahnya penuh tekanan.
Jendela rumah tua yang berada di lantai dua itu berderit saat ia paksa untuk terbuka. Engsel mulai longgar bergerak. Dan... baaah! Kelebat angin malam menempa wajah, mengacak-acak rambut panjangnya.
"Pergi sekarang juga!"
"Greeebbb!!" Jendela berkaca itu tertutup oleh angin kencang. Namun kacanya tak sampai pecah. Ia ban…

Apa kabar semesta? (4)

Gambar
berdiri pada lembar kalender baru
titis titis langit jatuh membumi
gerecaknya merembes tiap nadi
menembus hingga lubuk hati
begitu jendela terbuka
sebu geliat aroma tanah basah
gamit lengan
sungging kerling
seakan mengajak berdansa
sesumir senyummu
manis
kita mulai melangkah
ke manakah?



TS
Bdg, 07012015

Menikmati Januari

Gambar
Aksara berkelindan dalam sebuah cangkir
kucur air hangat menyeduh
sendok mungil mengaduk lembut
lalu sepasang bibir mesra menyeruput

TS
Tng, 03012016

Menunggu di Bulan Januari

Gambar
hanya perlu menikmati hujan tanpa payung
aku tahu kau
belum tentu datang
membawa secangkir teh hangat
dan sosis bakar berpoleskan barbeque
seperti itukah menunggu?
langit masih abu
kami bersama merenung
henti hujan tak menunggu pelangi
senyum pelangi tak menunggu hujan
lalu aku menunggu siapa
siapa menungguku
TS
Bdg, 01012016