Sambutan Istimewa di Curug Nangka (Bogor)



Ceritanya dua bulan yang lalu bertamu ke Bogor. Eh ada saudari yang mau nampung. Hatur nuhun pisan Mba Agis. Udah dirusuhin rumahnya terus dianterin jalan-jalan pula. Padahal kita ketemu baru sekali, waktu open tripnya MyQpala yang ke Papandayan. Dan ngga nyangka beliau ini punya julukan Miss Curug. Curug mana sih di Bogor yang belum dicicipi sama Mba Agis? Semuanya udah kali ya? *colekyangngrasaditanya Salah satunya Curug Nangka.

Nah, pilihan kami jatuh ke Curug Nangka yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Untuk menuju ke lokasi diperlukan waktu sekitar satu jam. Berbekal niat, tekad dan tak lupa nasi padang kami pun berangkat dengan menggunakan kendaraan pribadi roda dua.

Bagi para angkoters, mengutip dari situs Sites Google:
Untuk yang menggunakan angkutan umum dapat menggunakan trayek 03 jurusan Bogor-Ciapus dari terminal Ramayana Bogor. Berhenti di tujuan akhir yaitu pertigaan sebelum pintu gerbang. Di pertigaan ini ada papan penunjuk jalan, bila belok kiri kearah Curug Nangka, dan belok kanan kearah Curug Luhur. Selanjutnya dari pertigaan di atas (pemberhentian akhir angkot) perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju pintu gerbang sejauh 700 meter. Konsisi jalan lumayan menanjak dan sudah diaspal meskipun tidak mulus lagi. Dari pertigaan ini juga tersedia ojek yang dapat disewa hingga ke pintu gerbang

Selain dari Ciapus, dapat juga ditempuh dengan kendaraan umum dari pertigaan Ciherang (bagi yang tinggal di wilayah Bogor Barat (Darmaga, Ciampea dll.) Dari pertigaan Ciherang naik angkot ke jurusan Nambo. Turun di pertigaan sebelum Nambo ( orang daerah situ menyebutnya Pangkalan di Desa Sukajadi). Dari pertigaan Ciherang sampai Pangkalan Desa Sukajadi hanya membutuhkan waktu sekitar 35 menit. Selanjutnya dari Pangkalan tersebut naik angkot kembali dengan jurusan Ciapus (Warung Loa) yang melewati Curug Nangka dan membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai di pertigaan menuju Curug Nangka.

Letak Curug Nangka itu sendiri tidaklah terlalu jauh dari pintu masuk sekitar 500 m atau hanya membutuhkan waktu 15 menit berjalan kaki, namun lokasi curug ini yang cukup tersembunyi di dalam lembah yang curam dan dibatasi tebing-tebing tinggi. Medan untuk menuju ke lokasi Curug Nangka tersebut tidaklah sulit, dari pintu gerbang atau lapangan parkir harus melewati camping ground dengan terlebih dahulu menyebrangi jembatan sebelum hutan pinus. Dan dari camping ground kemudian menanjak sebentar hingga tiba di sungai. Sungai ini merupakan bagian atas (hulu) dari Curug Nangka yang mana airnya mengalir ke bawah membentuk air terjun dengan dasarnya tidak terlihat.

Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang berlika-liku naik-turun, kami sampai di pintu gerbang pertama. Untuk memasuki gerbang ini kami membayar Rp 7.500 per orang.

 

 

Selanjutnya di gerbang ke dua, kami membayar Rp 10.000,- per orang.

 

 

 

 

Nah di sini lah tempat parkirnya. Tarif parkir Rp 5.000,- per motor.

 

Karena sudah waktunya dzuhur, sebelum menuju curug kami sholat dulu. Dan memang letak mushola juga berada dekat dengan parkiran. Dekat mushola juga ada toilet.


Usai shalat jamaah bareng Mba Agis, baru mengucapkan salam ada suara grusak-grusuk dan bisik-bisik orang dengan nada sedikit cemas. Saat nengok ke belakang ternyata kami dikepung beberapa monyet. Penyebabnya ada dua orang pengunjung yang membawa barang dengan menggunakan kresek. Mungkin sama halnya dengan kami yang diingatkan penduduk yang berjualan di parkiran bahwa tidak dianjurkan membawa kresek apapun isinya meski bukan makanan. Sebab daerahnya banyak monyet. Dan si monyet-monyet ini akan merebut kreseknya karena sudah termindset di dalamnya ada makanan. Kedua pengunjung itu langsung memasukkan kreseknya ke dalam tas.


Sebenarnya monyet-monyet lebih banyak dari yang di foto. Karena foto pakai handphone susah ngezoomnya dan mereka juga tersebar bergelantungan ke sana-ke mari.

     

     


Setelah berjalan kurang lebih lima belas menit. Sebenarnya lebih sih karena kami jalan sambil foto-foto dan sesekali duduk (buat pose). Oh iya, di curug ini setiap beberapa meter akan ada tempat duduknya. Mungkin sengaja disediakan untuk istirahat kali ya. Akhirnya kami sampai di curug. Tapi karena belum masa penghujan debit airnya kecil. Tapi tetep cantik kok #modelnya (lho!!! dijitak pembaca)



Curug yang berada di Kaki Gunung Salak ini memiliki ketinggian sekitar 10-20 meter.

Setelah puas berpose di bawah air terjun. Kami pun memutuskan untuk pulang sekalian cari tempat buat makan berhubung perutnya keroncongan. Nah sejak awal masuk Mba Agis udah berencana metik daun poh-pohan buat lalap. Dan.. terpenuhilah keinginan itu. Bener-bener hijau banget seger..

 

Di tengah danau kami menemukan batuan yang lumayan datar. Kami putuskan untuk makan di sana. Ditemani gemericik air, udara yang sejuk dan nasi padang yang sedap tak lupa lalapan daun poh-pohan yang baru dipetik.
Tidak ada prasangka akan monyet-monyet yang menyambut kami sewaktu datang. Karena kami pikir monyetnya lagi sibuk main-main di depan sana. Alhamdulillah begitu nasi bersih habis beserta lauk-pauk kemudian masuk ke kantong kresek. Seekor monyet datang.





Eng ing eng. Saat itu saya tengah mengemasi bekas bungkus nasi padang yang kumasukkan dalam kresek. Kresek! ya, mata seekor monyet mengarah padaku. Mba Agis berusaha menghalau monyet-monyet. Mba yang satu ini mah berani sangat.

Langsung saya umpatkan kresek ke dalam tas kemudian bergegas membuangnya ke tempat sampah, tak jauh dari posisiku. Nah inilah yang kadang terlupakan di tempat wisata. Kalau di Curug Nangka banyak tersedia tempat sampah. Jadi jangan beralasan untuk buang sampah sembarangan ya. Dan ulah kami yang kelaparan pun lalu memutuskan makan, sebaiknya tidak dilakukan juga. Kalau mau makan coba ke parkiran saja di sana banyak warung. OK

Setelah pertemuan dengan monyet kami pun memutuskan untuk pulang. Alhamdulillah....

Perjalanan kali ini berasa disambut khusus saat kedatangan maupun pulang. Hehehe. Matur nuwun..

***


Sahabat, setelah menulis tulisan ini. TS membaca artikel tentang kera. Bukan maksud mengutuk kera yang dijumpai di curug. Semoga ini menjadi pelajaran untuk kita. Ini kisah yang tercantum dalam Al Quran, tentang suatu kaum. Sabat. Kaum yang Allah tegur karena kedurhakaannya.
"Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.’ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.” (Al-Araf :163-166)

Astaghfirullah. Semoga setiap tindak tanduk kita senantiasa dalam keridhaanNya.

Komentar

  1. Curug ini dah terkenal banget yah. Waktu baru lulus SMA pernah mampir ke sana.

    BalasHapus
  2. makasih mbak sudah sharing, akuku butuh liburan nih hehhee

    BalasHapus
  3. iya mba.. baru lulus SMAnya kapan itu? hehe

    BalasHapus
  4. sama mba..
    yuk liburan *liriktanggalmerah

    BalasHapus
  5. whuuaaa... lengkap pisaaaan
    asik ya, bisa main air jg hehehe

    klo mau ke curug nangka, mesti baca postingan ini dl heheee...

    BalasHapus
  6. Segarnyaaa ... Cari tanggal merah buat liburan, ah :D

    BalasHapus
  7. Dek Kenai mah ngga perlu cari tanggal merah.. semua warna tanggalnya merah kayaknya. Liburan terus si.. hehe

    BalasHapus
  8. Sepertinya pernah ke sini juga, uh menyenangkan

    BalasHapus

Posting Komentar