Kasih Ibu Tak Seperti Bunga Waru



 

“Ya Allah, semoga Mba Lili berangkatnya masih lama ….” Lirih Nabila, si adik bungsu membuatku berdecak . Hari ini menjadi ujung dari rangkaian mudik singkat yang memanfaatkan tanggal merah saja. Akhir tahun tanpa cuti.

Mungkin telinga ini hanya mendengar suara si bungsu. Namun rasanya lebih dalam lagi ada lirihan lain. Mata menangkap sepasang mutiara yang terjaga mentapi buah hatinya satu per satu terlelap dalam tidur. Sepasang mutiara yang terus memancarkan cahaya meski guratan kehidupan menyayat sempurna.

Menjadi perantau tak mudah melangkahkan kaki setelah sekian lama pergi dan kemudian meninggalkan rumah kembali. Rumah kami bukan istana megah dengan berbagai kemewahan dan ketersediaan yang sekali teriak langsung ada. Namun, engkau ibu membuat kami selalu rindu rumah. Rindu pulang. Sebab kelezatan setiap masakan. Sebab kehangatan dalam setiap pelukan. Sebab belaian saat kesakitan. Sebab teralu banyak alasan yang tak bisa dikatakan.

Ibu, kami tahu di meja makan tak selalu terhidang nasi pulen dan lauk pauk beraneka ragam. Hanya setiap kami pulang, beberapa pincuk pepes tahu, pecak ikan serta sebaskom sayur asam atau nasi lengko atau soto babad dengan perpaudan tauco dan sambal yang teracik di mangkuk atau sate ayam yang sengaja dihidangkan. Demi anak-anakmu. Setiap piring ibu perhatikan baik-baik. Tanpa sisa sebutir nasi itulah yang menjadi pancaran di mata itu menjadi semakin berbinar. Ada rasa yang belum pernah muncul dalam dadaku. Namun kutahu sepertinya rasa itu begitu menggetarkan. Ibu…

Dalam detik yang hampir tuntas menelan hari ini. Aku tidak tahu bagaimana besok bisa menelan jarak tanpa bening yang mengalir. Bahkan bertemu esok pun aku tidak tahu. Untuk mengungkapkan bahwa aku masih sangat betah, betah dan masih ingin di rumah rasanya ada yang mengganjal.

Ibu, engkau selalu membuat hari-hari anakmu menjadi spesial. Meski kaki pecah-pecah, tangan kram, tulang teremas engkau kuatkan untuk menjemput serta mengantar anakmu menuntut ilmu ke perantauan.

Pilihanmu tak lepas dari anak-anakmu. Namun lisan ini tak jarang gagu mengungkap rindu namun lancang mencaci maki. Membungkam bibirmu karena hanya itu atau itu lagi cerita yang meluncur. Menyalahkan tiap lakumu padahal itu untuk anak-anakmu, termasuk aku. Ibu salah, terus salah, selalu salah. Tanpa memberikan satu patah pun solusi, hanya pergi begitu saja meninggalkanmu dengan hujatan dan rasa bersalah. Ibu, maafkan ananda…

“Mamah boleh menikah lagi, Mba?”

Suatu ketika pertanyaan itu engkau ajukan padaku. Aku tahu setiap pilihanmu tak lepas dari anak-anakmu. Kemudian aku mengiyakan asal siapa dulu, begitu candaku. Oh, ibu. Seorang wanita yang menyandang status ibu dan ayah sekaligus. Membanting tulang mencari nafkah, di sisi lain lembut tangan membelai anak-anaknya di atas ranjang hingga terpejam. Seorang wanita yang begitu tegar menemani suaminya hingga akhir menutup mata.

Pagi tadi aku menemukan Bunga Waru yang jatuh dari tangkainya. Berwarna oranye. Tak seperti Bunga Waru yang masih menggantung, kuning cerah ceria. Kata orang, saat senja datang warnanya akan berubah lalu bunga itu akan gugur. Hanya berjarak fajar dan senja. Ia cantik mekar ceria di atas, lalu tak lama gugur bahkan ada yang tergerus pejalan kaki. Tak seperti kasihmu yang senantiasa mewarna, melenting ceria, Ibu. . .

***



Sajak untuk Ibu


tulang tulangmu mengeluh kelu
tapi jiwa menyeretnya untuk terus melangkah
mengais butir demi butir padi
lalu menumbuk
tak lekas masuk periuk
dengan alu
dengan lesung
berkali-kali hilang
ada yang menggenang
di sudut yang mulai tampak gurat gurat keriput
jemari penuh gores luka kehidupan
cekat mengusap
melawan panas terik
dingin menggigil
tersisip ruku dan sujud
tangis rintih pinta
bocah-bocah kecil
menggetarkan jiwa yang dimakan usia
gelora muda
engkaugunakan apa saja
sekalipun memeras peluh darah air mata
ibu
ibu
ibu


TS
Bdg, 28132015



 

***

Terima kasih, Ibu...

*Album TS dkk

Komentar

  1. Anakku, jika engkau merasa berat berbakti kepada ibumu, kuberitahukan bahwa kewajiban ibu kepadamu jauuuh lebih berat dari semua apa yang dulu, sekarang dan nanti engkau perbuat untuknya. (Ir)

    BalasHapus
  2. Hiks.. Iya.. Saya juga merasa begitu. Tiap pergi meninggalkan rumah mama berasa ada yg tertinggal. Enggan meninggalkan :(

    BalasHapus
  3. Ibu adalah tempat kita pulang, rumah untuk semua anak-anaknya :)

    BalasHapus
  4. Ahhhh rasanya rindu ingin kembali ke kampung halaman untuk bersapa dengan keluarga. Duuuh ceritanya ngena banget mba lili :')

    BalasHapus
  5. Betul, Bunda.. Adem ya kalau pulang ke rumah

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah Ngga usah cuti karna tiap hari ketemu ibu

    BalasHapus
  7. Ctw yang di Cirebon. Ketemu papi juga tiap hari ya

    BalasHapus
  8. Hiks...
    Tak ada yang bisa membalas curahan kasih dan pengorbanan Ibu, hanya doa terbaik semoga kebahagiaan dunia dan kemuliaan akhirat utk Ibu.
    Jd pingin nangis, pdhal blum seminggu pulang kampung dan ketemu Mimi.

    Btw aku baru tahu itu namanya bunga waru...

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah, aku sampe sekarang masih jadi tanggung jawab ibuku mbak. Masih bisa bertemu tiap hari. Entak ketika suatu saat aku harus pergi dari rumah, apakah aku akan siap atau tidak :)

    BalasHapus
  10. ibu memang mutiara kasih tiada tara...

    BalasHapus
  11. Merantau meninggalkan orang tua terutama ibu memang berat :'( Terlebih karena saya anak tunggal.

    BalasHapus

Posting Komentar