Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Hai

Kaca spion yang kauletakan baik-baik
apakah akan terus menyita pandang
gumul kabut mewarna di belakang
sedang sang baskara gagah di depan



TS
Bdg, 29112015

Di Tapak Hijrah

berlari di tapak hijrah
berjalan di tapak hijrah
merangkak di tapak hijrah
terseok
terkoyak
terjerahak
hingga nafas terengah
peluh terperas
sayat menakik darah
maka nikmat manakah yang kamu dustakan?
saat oaseNya rupawan di padang gersang
menggilas kerongkongan nan kering kerontang



TS
Bdg, 21112015

Tafakur #1

saat jiwa terbekap pilu
berjubel bising meracau sepanjang waktu
sayat sayat sembilu masa lalu
ketergesaan menyuruk padu
alufiru bermekaran di dadamu, nona
seperti jamur dalam hati nan lembap
atau mungkin gigil meraja
dedah syukur
denyar pagi masih
bertamu dalam sukma



TS
Bdg, 19112015

Lima Teguk Kopi

Gambar
Lima Teguk Kopi merupakan antologi yang berisi 23 cerita pendek bertemakan 'kisah cinta yang terbegal'. Judul buku diambil dari judul sebuah cerpen karya Doddy Rakhmat. Siapa bilang kisah cinta yang terbegal selalu pahit? Macam-macam rasa yang bisa ditemukan di antologi ini.

Penulis antologi Begal Cinta 2015 (Komunitas One Week One Paper)
1. Dody Rakhmat - 5 Teguk Kopi
2. Norma Gesita - Aku Ketar Ketir
3. Tally Syifa - Sandiwara
4. Deby Teresia - Di Garis Khatulistiwa
5. Junita Finanty - Jingga Di Langit Malam
6. Ecca - Manusia Pencabut Nyawa
7. Helmi Yani - Cinta Jangan Pergi
8. Erma Yasinta - Cinta Rasa Pasar Malam
9. Nurul Maulida - Punguk Dan Awan Hitam
10. Saidah Chumairoh - Cinta Itu Tak Pernah Ada
11. Riska A - Gagal Begal Pegal
12. Sarah L - Lembayung Di Langit Sukohanyar
13. Nurani A - Separuh Senja
14. Ninis - Bunuh Aku Ayah
15. Ibrahim Khalil - Bony and Kinai the Suprise
16. Afatsa - Telikung Angan
17. Lisma - Pengadilan Cinta
18. Said - Hati yang Menjerit
19. Eni - Keputusan Ini Mungk…

Ukhuwah (2)

Tak hanya soal rasa
tapi menggelegak segala indra
menyelami makna
al ukhuwah
bagai hujan setelah kemarau panjang
mengguyur jiwa kerontang
menyemai hijau yang hilang

TS
Bdg, 17112015

Menunduk dalam Tengadah

langit tak sedikitpun retak
jiwa yang rusak
bumi terhampar
gunung menghunjam kokoh
nafsu manusia terkapar
diri reyot merongkoh

TS
Bdg, 14113015

Di Sini, Saat Ini, Entah Nanti

Banyak tempat asri penenang diri
melipur saat hari berganti
melalui bisik daun
alunan burung
aroma pagi
rengkuh
sanubari

TS
Bdg, 13113015

Seongok Manusia Terkapar

terduduk menunduk gugup
gelegak rasa berkecamuk
di bawah pohon yang meranggas
lekat tatap bayang lewat
berharap menangkap
surya pantulkan ragamu
Namun gumulan awan pekat melawat
gelegar gempar jiwa gentar
seongok manusia terkapar
oleh ketakutannya sendiri

TS
08112015

Aku pun Ingin Merdeka

menghimpun fajar dalam jiwa
menawan gelintir rasa
koyak moyak
pandang mata penuh mimpi
terdiam di jendela hari
ruak asa
rambat pada nadi nadi sanubari
rempuh hati nan ceruk berliku luka penuh jelaga
sebab aku tak ingin
hanya
menjadi bayang yang mengikuti subjek subjek merdeka

TS
Bdg, 08112015

[Event - Blogger Cirebon] Smart Live ala Raden Tarulintang

Gambar
Raden Tarulintang tergopoh membawa batu mustika ular. Suasana istana dirundung kepasrahan. Wajah-wajah penduduk pucat kuyu. Begitu pun sang raja yang tampak tak bergairah justru mimik keraguan menggandrungi garis-garis di pipinya. Padahal hari itu adalah hari pernikahan sang putri.

***Dewi Arum Sari. Kecantikannya mampu membius semua pangeran dari kerajaan Cirebon. Hingga berujung pada penculikan dirinya. Wira Gora, raksasa sakti mandraguna membopong dan menyembunyikan sang putri. Tak ada satu pun yang mampu mencegah. Hingga sang raja mengadakan sayembara,

“Barang siapa yang bisa mengembalikan Dewi Arum Sari, jika wanita akan dijadikan anak, jika pria akan dinikahkan dengan Dewi Arum Sari”
Orang-orang dari segala penjuru berbondong-bondong untuk mengikuti sayembara tersebut termasuk si pandai bela diri, Raden Wira Santika.


Di tengah hutan, salah seorang murid Ki Tapak Jagad yang bernama Raden Tarulintang mendapati gadis cantik di tangan raksasa. Gadis itu amat lekat di kepalanya. Ditambah…

Sebelum Gambuh

­čŹémijil
cahaya lahir dari rahim ibunya

­čŹésinom
tumbuh di tengah zaman edan
berbatas sesaput cakrawala
untuk mereka yang eling dan waspada

­čŹémaskumambang
mencecap tiap langkah ambang
gugah diri dari bisik gerecak
meski bibir ibu bapak
jika bukan hal yang patut jadi teladan
mas kumambang di atas riak gelombang
kembang layar dengan kompasNya, petaNya

­čŹéasmaradhana
pelayaran begitu mengoyak
sesorot sinar sambut di gigil malam
tenanglah, itu hanya mercusuar
di pulau mungil bukan darat kauarah
belum saatnya berlabuh
apatah lagi tak jumput gambuh


TS
Bdg, 04112015