Pendakian Prau (Via Kalilembu) 9-10 Oktober 2015



Tiket Bandung - Jogja sudah di tangan. Tiga bulan sebelum keberangkatan. Merbabu!
Berawal dari ajakan Mbakayune Siskacika sambil lihat tanggal dan isi dompet tentunya, akhirnya dipustuskan bismillah ikut go to merbabu. Namun beberapa waktu kemudian tepatnya di Bulan Agustus kabar buruk tentang Merbabu melawat. Telah terjadi kebakaran yang melalap sedikitnya 25 hektar lahan seperti yang dilansir situs bbc.com. Harapan pun 50:50.

Singkat cerita, trip berubah haluan menuju ke Gunung Prau di Wonosobo dengan total peserta sebanyak 12 orang terdiri dari:
1. Pak Hasan
2. Om Arul
3. Pak Habibi
4. Pak Irwan
5. Pak Topank
6. Mas Ardi
7. Mas Esis
8. Mba Sofi
9. Mbakayune Siskacika
10. Mba Arum
11. Mba Ufie (dari Jogja)
12. TS (dari Bandung)

Tim berangkat dari tempat masing-masing. Sebanyak 10 orang tergabung menjadi satu tim dari Jakarta, Mba Ufie menyusul langsung ke TKP karena beliau dari Jogja sedangkan TS bertemu dengan rombongan Jakarta di Stasiun Kutoarjo.
Awalnya TS merencanakan pulang dengan bis tapi info dari Mbak Ayyun (temen sekantor yang hobi nanjak dan bulan Agustus lalu ngajakin TS ke Prau tapi dengan berat hati belum berjodoh eh malah sekarang tripnya TS ke Prau :D) perjalanan Bandung ke Wonosobo lebih enak pakai bis. Cukup sekali naik bis jurusan Bandung-Wonosobo dari Terminal Cicaheum lalu turun di Terminal Wonosobo lanjut pakai elf yang ke arah Dieng. Tapi untuk bis pulang ke Bandung harus pesan dulu. Mengingat Wonosobo kota tercintanya Mbak Ayy sekarang sudah menjadi kota terkenal dan banyak penumpang yang tak jauh berbeda tujuan liburannya dengan TS.

Tiket berangkat sudah di tangan. Sampai Kutoarjo kan rencananya langsung ke basecamp Prau, nah kalau pesan tiket bis harus ke terminal dulu. Pikir TS bakal buang-buang waktu yasudah biar lebih lama bareng-bareng rombongan diputuskan pulang naik kereta toh TS juga lebih suka berkendaraan pakai kereta ketimbang bis hehehe.

Tanggal 7 Oktober pagi ngecek di situs KAI kereta Pasundan (keberangkatan dari Kutoarjo ke Kiaracondong jam 15.05 WIB) dan Kahuripan (keberangkatan dari Kutoarjo ke Kiaracondong jam 20.12 WIB) masih tersisa kurang lebih 120 seat. Eh ditinggal makan siang sekaligus istikharah memantapkan hati pulang naik bis atau naik kereta, keduanya (Pasundan dan Kutoarjo) sisa 1 seat! shock!

Langsung ngeluarin dompet cari KTP terus booking Pasundan habis itu gantian yang Kahuripan. Perkara mau dibayar yang mana itu terakhir. Soalnya itenary yang dikasih Pak Hasan, kami pulang sampai stasiun sekitar jam 16.00 WIB kalau Pasundan kegasikan nah kalau Kahuripan kelamaan nunggunya.

Jam 4 sore batas pembayaran di depan ATM istikharah cukup lama. Tadinya mau bayar kedua tiket itu tapi keinget nasehatnya Mba Dila temen sekamar sekaligus kakak sekaligus dosen super; eman-eman kalau beli dua-duanya. Diputuskan transfer yang jadwal keberangkatan jam 20.12 - Kahuripan saja. Alasan lainnya supaya rombongan jakarta tidak grusa-grusu karena satu rombongan yang terdiri dari satu orang dari Bandung ini hehehe.

***

7 Oktober 2015
Sekitar pukul 19.30 WIB keluar dari kampus langsung ke kosannya Mbak Ayy ambil keril dll yang dititipkan sekalian minta tolong dianterin ke stasiun Kiaracondong. Alhamdulillah dengan perjuangan ngebutnya Mbak Ayy sampai di stasiun sekitar pukul 19.56 lari-lari bawa keril gede langsung naik ke kereta dan teng! kereta pun berangkat 19.59 WIB.

Eh pas di kereta satu tempat duduk sama mba-mba mau ke cilacap, namanya Mba Ami. Mungkin lihat TS bawa keril gede, arah pembicaraan beliau tentang pendakian. Ternyata Mba Ami juga suka ndaki udah beberapa kali muncak ke Merbabu. Merbabu... keinget lagi rencana awal pendakian. Oh Merbabu. Tapi qadarullah, rencanaNya pasti lebih indah. Semoga Merbabu lekas pulih.

 

Mbaknya ini malah kasih undangan dari Merbabu jal... Udah direquest nanti nikahannya di puncak Rinjani, prasmanannya di Segara Anakan. Tak enteni undangan plus tiket PPnya lho, Mbak ;)

Dan di stasiun Gandrung kita berpisah. Dah Mba Ami...



Hari sudah berganti, perjalanan terus berlanjut. Bapak di depan ini masih saja semangat ajak ngobrol. Hoam...
Sampai akhirnya terlelap sendiri dan TS pun sampai di Stasiun Kutoarjo pukul 03.41 WIB.



Sambil menunggu rombongan dari Jakarta, ngobrol dengan salah seorang penumpang lanjut sholat subuh, ngecharge hp terus cari kiosnya Pak Slamet/Bu Yati (siapa mereka?).

Jadi ceritanya kan tiket KA pulang, TS beli yang jadwal Minggu jam 20.12 WIB sedangkan rombongan dari jakarta pulang 15.30 WIB. Nah TS kan pasti ditinggal di stasiun sendiri tuh daripada bingung mau ngapain makanya tanya-tanya di grup Blogger Muslimah siapa yang tinggalnya dekat Stasiun Kutoarjo barangkali bisa mampir sekalian silaturahim. Dan ternyata ada. Mba Dewi tapi beliau lagi di luar kota. Rumah orangtua beliau dekat stasiun malah punya kios di stasiun. Untuk teman-teman yang suka naik kereta di Stasiun Kutoarjo jangan lupa mampir ke kiosnya Pak Slamet ya sebelah kirinya kantor PUK/schowing. Harga terjangkau, Bapaknya ramah sekali alhamdulilah langsung disambut dengan hangat tapi sayang kami hanya ngobrol sebentar begitu rombongan Jakarta datang langsung pamitan dan sekalian bilang insyaALLAH hari Minggu sore sampai malam mau datang ngerusuh lagi hehe. Oh iya untuk tiket kereta ini ongkosnya 90rb.



Pukul 07.00 WIB kami nyarter angkutan untuk memboyong ke Wonosobo tepatnya basecamp Prau via Kalilembu. Biayanya 600rb sekali jalan.

Alternatif lain untuk yang datengnya ngga rombongan kan mahal tuh buat nyarter
Kalau dari Stasiun Kutoarjo, kita langsung naik angkot warna kuning bawahnya merah. Angkot ini akan membawa kita sampai MPS Purworejo.
Bilang saja ke supir angkot kalau kita mau lanjut ke Wonosobo, dan sang supir akan ngerti dan menurunkan kita di MPS, ongkos Rp 5 ribu. Waktu tempuhnya lumayan, 30 menit.
Nah dari MPS ini kita naik mikro bus tujuan Wonosobo. Jangan harap mikro bus ini akan segera berangkat setelah kita menaikinya, karena dia bakalan ngetem lama banget, pokoknya sampai penuh.
Pengalaman saya, sampai MPS jam 07.00 dan baru berangkat jam 09.00. Itu artinya 2 jam waktu saya habis hanya untuk menunggu mikro bus ini berangkat. Tapi untung-untungan, siapa tau saja pas giliran Anda langsung penuh busnya dan langsung berangkat.
Oh iya, bus ini juga melewati rumah sakit tempat mikro bus Dieng ngetem. Jadi turun dari mikro bus ini, langsung deh lanjut naik mikro bus Dieng.

dikutip dari http://travel.detik.com/read/2014/06/15/134200/2601890/1025/aneka-cara-murah-mencapai-dieng

Perjalanan dari Stasiun Kutoarjo sampai ke Kalilembu kurang lebih 5 jam (seharusnya 3 jam sih tapi cek ya kita mampir kemana aja)

>> makan
>> pinjem nasting, terus sekalian sholat Jum'at bagi para bapak.


>> belanja!



Pukul 12.36 WIB sampai di basecamp

***
Perjalanan Menuju Puncak

Oh iya dari seluruh peserta kami mengeluarkan biaya untuk bayar basecamp 120rb dan pintu masuk 15rb. Selesai registrasi, packing ulang, doa bersama, dsb. Mba Ufie yang rencananya menyusul dari Jogja dan bertemu di titik ini ternyata tidak bisa hadir. Beliau memberi kabar salah seorang anggota keluarganya ada yang meninggal. Namun acara tetap berjalan. Perlengkapan kelompok seperti tenda yang ditugaskan ke Mba Ufie pun akhirnya kami sewa dari basecamp. Sedangkan Mba Ufie akan tetap menyusul langsung ke Telaga Cebong di hari Sabtunya.

Ba'da Ashar sekitar pukul 15.00 WIB perjalanan dimulai. Katanya sih pendakian via Kalilembu masih sedikit yang tahu dan katanya lagi jalur ini lebih mudah dibanding jalur yang lain. Tapi, di awal perjalanan akan disuguhi jackpot alias tanjakan terus menerus. Baru kemudian sampai di pos 1 jalan mulai ada bonus landai. Waktu kami datang ke sana cuacanya lagi abu-abu. Trus ada salah satu burung yang terbang rendah gitu.. keren jadinya

[caption id="" align="alignnone" width="392"] nyomot jepretan mimin[/caption]

 



 


Daisy dimana-mana

Pos 2



Kabutnya makin tebel



Pejuang sebatang kara (mau bilang pohon jomblo asa gimana gitu)

Hari makin gelap tak jauh dari pohon sebatang kara, kami mendirikan tenda. Lalu beberes, makan, sholat, istirahat. Semakin malam, satu dua rombongan mulai bermunculan. Riuh rendah suara di luar membuat diri terbangun. Belum lagi badan serasa ditusuk dingin. Pas negecek kelembaman pakai alatnya Mba Sof cuma bisa brrrr 90% langsung dioles pakai minyak kayu putih sama Mbakayune juga lanjut maksain diri tidur lagi


***
Pukul 04.30 seusai cari spot, solat, waktunya jadi Pemburu Sunrise

[caption id="" align="alignnone" width="392"] jepretan mimin nih[/caption]





 



seusai berburu sunrise, masak(yang masak cuma Pak Has sama Mba Sofi sih), sarapan terus packing beresin tenda untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya

eh ternyata dari atas bukit bisa lihat cantiknya telaga warna lho. Dan bisa dilihat setiap komplek di sana (nunjuk ke bawah) ada mushola-mushola cantik. Uniknya tuh kalau adzan bisa sahut-sahutan lama sekali sampai hampir menjelang waktu adzan berikutnya (kata Mbakayune, adzannya itu nunggu tukang adzannya pulang dari sawah atau pokoknya nunggu sampai ada yang datang, bisajadibisajadi).

Di sinilah Pak Has coba ngehubungi Mas Juned (penjaga di basecamp) untuk minta tolong bawain tenda, logistik dan berbagai bekal berat turun (biaya 2 orang sekali jalan 250rb). Kami harus menyimpan energi untuk besok dan juga mayoritas kami masih newbie hehehe. Fyi, signal di Puncak Prau yang lancar cuma Telk*s*l jadi kalau mau tetep bisa koordinasi dengan yang lain siap-siap ya. Salah satu anggota yang masih kami harapkan kedatangannya, Mba Ufie (Mba Ufie ini yang tahu jalur untuk ke Gunung Pakuwojo dan susunan jadwal juga dapat sumbangan dari beliau, kalau mau tahu tentang beliau cek ignya ya kk #eh ini mah buat part 2 :D ). Pak Has masih berkoordinasi via telepon...

****
Perjalanan Turun via Dieng



Perjalanan turun tinggal kebalikan dari perjalanan berangkat via Kalilembu. Bedanya saat di pertigaan pos di foto sesuai tanda panah.





 

 







 

Alhamdulillah sampai di gerbang pendakian Jalur Dieng (eh kami mah bukan ndaki tapi turun ya) dan perjalanan berlanjut ke Telaga Cebong dan Gunung Pakuwojo :)

Bersambung >> Danau Cebong hingga Golden Sunrise Sikunir 10 -11 Oktober 2015

Komentar

  1. Paginya bapak saya langsung sms, katanya ada temen saya yg mampir, hihi. Semoga kapan2 bisa ketemu langsung ya mbak...

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah kesampean juga ke Praunya mba Lili, kapan kapan ke Pakuwojo bareng ya :) btw isi blognya menarik bangetttttttttt

    BalasHapus
  3. Wahh... hihihi. Matur nuwun Mba Dew. Aamiin.. semoga bertemu di waktu dan tempat yang tepat

    BalasHapus
  4. Hahaha remidi ke Prau karena belum ke Pakuwojo. Mau banget itu tapi kata Mba Suc kan yang deket-deket dulu biar ngga banyak pengeluaran. Nanti ajak-ajak ya :D

    BalasHapus
  5. kalau ngetem lama di kutoarjo, sekalian mampir rumahku ya de' .. :P
    mb dewi, salam kenal,, aku jg tinggal di semawung (kembaran)

    BalasHapus
  6. Mba.. Tally baru inget kalau Mba Lis tinggal di Kutoarjo itu pun karena Mbakayune yang cerita waktu kondangan sama Mba Nine.
    Hehehe kapan ya ke sana lagi. Mba Lis yang ke Brebes aja yuk :D

    BalasHapus
  7. wihh pemandangannya mantab bangettt uy

    BalasHapus
  8. Hmm blog traveler emang selalu ada lebih banyak cerita untuk diceritakan, btw saya juga suka mendaki tapi sayangnya masih terhalang sama sekolah. :)

    BalasHapus
  9. Saya masih sekolah, kerja juga, Kak. Paling mendakinya sesekali saja

    BalasHapus
  10. Hi, Teh.. Salam kenal juga ya :)
    Saya rencana ke Prau tahun depan, boleh sharing dong pengalamannya sambil kopdaran. Saya kerja di DT hihi.

    BalasHapus
  11. aku ke sana pas lagi banyak kabut, jadi blank deh ga dapet apa2

    BalasHapus
  12. Waah di bagian apa kerjanya, Teh? Hayuk.. Sabtu/ahad libur ngga teh?

    BalasHapus
  13. Meski gitu biasanya ada kesan tersendiri selama perjalanan.. Sharingkan dong mba ev :D

    BalasHapus
  14. Aduuuh...ngiler bener ini lihat foto-fotonya. Udah beberapa kali ke Dieng, belum pernah naik ke gn Prau. Eh, mbak Ratna Dewi asli Wonosobo ya, hihiii, kudu mampir ke kios si bapak nih, membuka silaturahim ya :)

    BalasHapus
  15. Iya, Bund..
    wahhhh jadi pengin kopdar

    BalasHapus
  16. Teringat jaman naik merbabu...waktu perjalanan naik bus...naiknya diatas atap,,,hehehe..pengen lah ke dieng....

    BalasHapus
  17. Wah.. seru banget naik di atapnya, Mba. Goyangannya itu..

    BalasHapus
  18. Lama ga ndaki...terakhir merbabu....mantap pokoke..

    BalasHapus

Posting Komentar