Cerita Mereka

Pisau mengkilat. Letaknya dipastikan sesuai. Kanan kiri. Atas bawah. Dengan sedikit tekanan mata pisau menancap ke dalam kulit. Entah di lapisan ke berapa, bergeser membelek. Perut kita.

#Ploy
Pim, ini yang kaupinta
dengan lidah memerah
sebab obat yang harusnya kutenggak
dengan pundak rapuh membungkuk
berat menyandar besar kepalaku
dengan matamu yang kerontang
terkuras air mata di penghujung malam perih dalam sesakmu jua sesakku
Pim, ini yang kaupinta
lalu kau akan bahagia bersama lelaki yang memberikan warna di kanvas usangmu
Aku menarik nafas lega.
Ya, aku tak apa.


#Pim
Ploy, setiap malam
aku ingin berbisik di telingamu
'tidurlah lelap di pundakku'
Ploy, setiap butir beningmu mengucur
aku ingin menahannya
biar aku saja
Ploy, aku tak tahu pasti
namun bagian diri sudah diminta kembali
aku merasakan tubuhku melemah
sebab itu kita berpisah
wangi harummu
bersediakah setubuh dengan bangkai?
aku tak sanggup


#Ploy
Pim...
Aku bermimpi tentangmu. Kau tersenyum manis sekali. Dengan gaun putih berseri. Jilbab baby pink dengan bros kupu-kupu.
Semoga kita berjumpa di sana, ya. Ah, lelaki itu. Kau pasti mendapatkan yang terbaik di sana. Aku? Sudah kukatakan, aku tak apa.

Saat orang lain menginginkan hidup bersama dengan orang yang dicintainya, dalam dekat rapat. Tangan yang menggenggam erat. Tubuh kita menyatu, tapi kita mencintai dengan cara lain. Kita berpisah.

Hening.

Pisau itu telah melakukan pekerjaannya.


TS
Bdg, 04092015

Komentar