Sembari

Aku masih di sini. Menunggu. Sembari mendengarkan nyanyian Rumput, memperhatikan tumbuhnya, menyisir serta memotong jika urainya kurasa cukup panjang. "Tetaplah menghijau. Teduh, Rum. Melumat kecemasan."

Aku masih di sini. Menunggu. Merapal Jalan berliku. Membersihkannya dari debu masa lalu pun serakan kerakal. "Agar kau nampak, Ja," aku menghela nafas, "untuk diinjak," lanjutku lirih. Bukan dengan nada kebencian. Namun aku malu.

Aku masih di sini. Menunggu. Sembari menyusun Batu. Membangun rumah. Menjamu pengembara singgah. Lalu cinta kami meruah, menjadi saudara. "Indah kan, Ba? Ini bukan roman picisan, lho."

Aku masih di sini. Menunggu. Kemolekan Pantai menarik langkahku. Kadang aku bercerita apa saja padanya. Ia adalah pendengar istimewa. Dada sesakku ia silakan untuk kuteriak. "Aaaa!" Bukan. Bukan dengan suara cempreng. Dalam. "Aaaa!" Seperti suara ombak mendebur karang. Lalu Tii membuih. Aku tahu itu untukku, pesan sayang. "Terima kasih, Tii."

Aku masih di sini. Menunggu yang tak ingin kutunggu. Aku masih berusaha. Setidaknya belajar berkawan dengan Rum, Ja, Ba, Tii dan Le. Aku menunggu dering Telepon. Entah itu panggilan darimu ataukah dariNya terlebih dahulu.

 

TS
Bdg, 04082015

Komentar