Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Tanya Pak Jei

Pak Jei, izinkan seongok anak ini
bertanya
bagaimana caranya mencuci diri
sementara matahari membuat gigil
bagaimana caranya membasuh hati
jika sungai-sungai di
pelupuk mata telah
mengering

TS
Bdg, 27082015

Apa

Apa yang hendak kuceritakan kepadamu, ti
bangunan warnawarni bertingkat yang berdiri manis
atau bangunan di tanah gersang yang merekah miris


TS
Bdg, 24082015

Senin

Selamat pagi, senin
kamu menjawabku dengan senyum madu
semoga bukan senyum palsu
ditata olehmu kemeja biru
sudah dikasih pelicin pewangi pelembut jadi satu
klimis tanpa lisu
percaya diri membalut tubuhku
meski fajar masih dini
aku pun tak buru-buru
singset kuikat tali sepatu
sambil tertawa jahat membayangkan wajahnya tunduk malu
tapi nyatanya si dia berdandan selalu ayu
meski bibirnya tanpa gincu
guratgurat pipinya makin lisut
molek parasnya tetap bikin cemburu
teduh hatinya rimbun bedaru



TS
Bdg, 24082015

Pencarian

dari pagi hingga senja
mencari makna merdeka
namun aku terdiam
tak bisa bersuara
hanya senyum lebar yang mengembang
tetap
tanpa
kanan
kiri
depan
belakang
serong
tanpa
o
e
u
i
a
apakah itu merdeka?
aku masih tersenyum.




TS
Bdg, 17082015

Hyah

kuda lari
kendali diri
pegang kemudi
dengan mata terbuka
hati tak ke mana-mana
kanan kiri
kiri kanan
kuda sayang dielus-elus
kanan kanan
kiri kiri
kita yang pegang kendali
bangun
tegap
sadar
hyah!!!

TS
Bdg, 17082015

Tik

tik
tik
tik
bukan bunyi rintik
hari ini tidak ada hujan di atas genting, Sya
tik
tik
tik
jangan
bukan saatnya kaukilik-kilik, Sya
tik
tik
tik
ssst
tahanlah dulu kikikmu itu, Sya
tik
tik
tik
pada satu titik
belajar menyipit
atau mendelik atau
dua-duanya, Sya
titik yang dikelilingi
manik-manik
cantik

TS
Bdg, 17082015

Mendengarkan Lagu

Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini ~ @edcoustic

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

lagi. ada yang bersenandung
itu bukan elegi
dari senarai rinai
aku tahu
tapi ngilu
tanganku lunglai
butir bening menitik
ada rasa tak
terucapkan tak
terdefinisikan tak
bersyarat
mengerat
sebiru hari ini
jangan dulu gerimis dini
aku menengadah
di latar tempat senyummu merekah
mengubak noktahnoktah
mendedah asa
membalur kisah
bertali indah
sebiru hari ini
bukankah hati kita telah lama menyatu?



TS
Bdg, 12082015

Curhat Abang

neng, abang lelah...
namun seketika itu ada yang mengalir di gigir
seakan sedang berada di roller coaster
rodanya menggelinding turun

neng, abang sedang ditunggu
oleh para pejuang waktu
yang tak ingin sepercik pun berlalu
tanpa segerak amal atau seayat ilmu

neng, abang rindu sang guru
beliau begitu menikmati sengatan cinta
hingga teresedot saripatinya
sampai tulang belulang
sampai daging terakhir yang menempel di tubuh renta
tubuh yang luluh lantak diseret-seret
tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari
tentang umat
yang beliau cintai, neng...
dakwah telah menjadi bagian diri
seperti air bagi ikan

beliau menjadi matahari yang tak habis meleleh
hingga Yang Terkasih menghentikannya
namun hangatnya masih terasa
menyelimuti umat
.
.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(Us…

Nelayan

orang-orang bilang demi mencari kehidupan, jah
tubuh
legam beraroma matahari
ceking dikoyak badai
setiap hari membaca
debur ombak yang mengikis karang
menyaksi bualan mulut orator yang berbuih
luber kemana-mana
mendapati sampan tetangga yang terjungkal atau hanya puing-puing di tengah lautan
setelah dikabarkan hilang beberapa hari
parade hujan
pasang surut perjalanan
sendiri keasingan
berdialog dengan kematian
tertegun
aku menciut
aku takut, jah
jika sedayung perjalanan ini tanpa haluan

TS
Bdg,11082015

Ajak

diam
memendam luka bertambah lara
mari kita keluar
tidak hanya mengintip dari jendela
mari kuajak berkelana
membelah cakrawala
menyapa semesta
cukup di luar jeruji hatimu
yang terkungkung pilu
tak usah jauh-jauh, sayang
belajar
mengerti
mengerti
mengerti
harapku menjadi hamba yang mengerti
lalu kaupun ingin kuajak mengerti
semoga Dia membukakan hati
mampukan diri
menyapa prahara yang
kausiram setiap pagi
merindang
hijau, menentramkan hati


TS
Bdg, 08082015

Sembari

Aku masih di sini. Menunggu. Sembari mendengarkan nyanyian Rumput, memperhatikan tumbuhnya, menyisir serta memotong jika urainya kurasa cukup panjang. "Tetaplah menghijau. Teduh, Rum. Melumat kecemasan."

Aku masih di sini. Menunggu. Merapal Jalan berliku. Membersihkannya dari debu masa lalu pun serakan kerakal. "Agar kau nampak, Ja," aku menghela nafas, "untuk diinjak," lanjutku lirih. Bukan dengan nada kebencian. Namun aku malu.

Aku masih di sini. Menunggu. Sembari menyusun Batu. Membangun rumah. Menjamu pengembara singgah. Lalu cinta kami meruah, menjadi saudara. "Indah kan, Ba? Ini bukan roman picisan, lho."

Aku masih di sini. Menunggu. Kemolekan Pantai menarik langkahku. Kadang aku bercerita apa saja padanya. Ia adalah pendengar istimewa. Dada sesakku ia silakan untuk kuteriak. "Aaaa!" Bukan. Bukan dengan suara cempreng. Dalam. "Aaaa!" Seperti suara ombak mendebur karang. Lalu Tii membuih. Aku tahu itu untukku, pesan sayang.…

Denyar Pagi

Teduh selalu hadir di wajahmu
betapa bersyukurnya aku
tak perlu mencuri-curi pandang
menikmati hangat sorot matamu
lembut bibirmu
syahdu suaramu
sejenak, tak tertawar
lalu ambyar
byar...
byar...
kebyar
melesat cepat
Seperti itukah hidup?


TS
Bdg, 03082015