OWOP Sharing with Penulis ~ Naya Corath [17 April 2015]

 


owop
 

Jumat. Jadwalnya OWOPers sharing dengan penulis. Ini perdana bagi saya karena baru sepekan bergabung di OWOP (One Week One Paper). Perdana tapi malah gabungnya telat. Lagi ada UTS di kampus soalnya :(

Pukul 20.00 WIB, dipandu Mba Rahma dari OWOP 1 yang kemudian dibantu Mba Tutut membuka sesi acara diskusi ini. Mba Rahma memperkenalkan narasumbernya ada yang bilang mirip Chelsea Islan, iya kah? Oke. Yuk intip hasil diskusi semalam.

Tema : "Self Marketing Penulis dengan Bantuan Teknologi"

Narasumber : Naya Corath

1. Imron:

Menurut Kak Naya, urgensi self marketing karya tulis?

Jwb:

Hmm.. Bayangin kita lagi ngedipin mata ke seorang cewek. Tapi ruangan itu gelap, mati lampu. Nggak ada yang tahu kita lagi ngapain.

Sama kayak nulis. Kalo kita nggak ngasih tau siapa-siapa kalo kita itu penulis, yaa.. Siapa yang tahu? Hehe.

Self-marketing itu penting, karena orang yang paling tahu kualitas diri kita dan punya kapabilitas yang paling besar untuk menunjukkannya pada dunia.. adalah diri kita sendiri.

2. Alim:

Apakah ada step-step khusus untuk self marketing di web? Apalagi kalau memanfaatkan search engine optimalisasinya mesin pencari seperti (google, bing, dll).

Jwb:

Untuk strategi self-marketing di web, sebenarnya itu tergantung media apa yang kita pilih untuk mengoptimasi self-marketing kita. Masing2 teknologi punya keunikan sendiri, punya plus minus sendiri.

Nah misalnya, kalau web kita adalah blog (yang provider-nya umum, kayak Wordpress, Blogspot), itu pilihan teknologi yang bagus buat pemula yg masih belum paham IT (atau males ribet). Soalnya engine mereka udah cukup teroptimasi untuk mudab ditemukan oleh search engine kayak Google, Yahoo, dkk...

Nah kalo mau ribet (alias mau belajar IT), cara yang bagus buat masuk di jajaran teratas hasil pencarian di search engine (Google dkk) adalah belajar SEO. Nah, itu aja udah ilmu khusus tuh hehe..

3. Doddy:

Mba kalau mau gabung di caripenulis.com gimana caranya? Biar bisa masuk dalam kolom penulis

Jwb:

Kalo kamu udah pernah nulis buku yang diterbitkan, kamu bisa bergabung ke database penulis CariPenulis.com. Tinggal contact aku aja, nanti aku masukin. Ke depannya, kalian bisa punya username dan kelola sendiri data itu, mau update juga bisa .

4. Alim:

Tips-tips marketing atau promosi tulisan via sosmed

Jwb:

Masing-masing sosmed punya trik sendiri utk bisa dimanfaatkan dengan maksimal utk marketing. Dan juga tergantung pasarnya.

Kalo pasar Indonesia menurutku yang saat ini paling efektif dan paling potensial utk digali itu Twitter. Makanya, aku start dan fokus eksis di Twitter.

5. Junita:

Mbak Naya bisa sebutkan contoh-contoh dari self-marketing itu sendiri, nah ada nggak tips paling ampuhnya?

Jwb:

Contoh self-marketing:

umm.. apa yah.. hehe

Self marketing itu intinya sama aja kayak marketing biasa. Cuma bedanya, kalo self-marketing yaa kita yang mempromosikan diri secara aktif (rata2 penulis cuma mengandalkan penerbit yg promosi ttg bukunya).

Contoh self marketing via teknologi misalnya:

- Promosi di Facebook (akun sendiri atau bikin fan page)

- Promosi di Twitter

- Promosi di Instagram

- Promosi di Youtube (bikin video2 menarik yg merepresentasikan kepribadian, kegiatan, atau buku kita)

- Promosi di Tumblr

- Promosi di web pribadi

- Promosi di Goodreads

- Promosi di Kaskus

- Promosi di forum2

- dkk

Tips paling ampuh:

Ada banyak sih.. Hehehe

- Pilih target pasar yang tepat

- Lakukan pemasaran di tempat yang tempat (misal.... Jangan promosi ttg buku kita di kalangan komunitas penulis, kurang efektif. Promosi buku yaa ke kalangan komunitas pembaca. )

- dst

Kalo menurutku, solusi yg paling tokcer utk self-marketing (bahkan sebelum buku kita diterbitkan, atau sebelum kita nulis sama sekali)... adalah bikin dan memelihara fan base. Fan base ini yang akan siap langsung membeli buku kita begitu kita promosikan.

6. Astika:

Ka, lebih intens mana untuk self marketing via sosmed atau saat bertemu orang banyak/face to face ?

Jwb:

Yang paling efisien adalah memanfaatkan social media.

Dengan energi yang sama, kita bisa berinteraksi dengan ribuan orang. Sementara kalo face to face, energi dan jumlah orangnya terbatas.

7. Deni

Kelebihan self marketing dan kekurangannya? Lalu, kegagalan yang pernah dilalui saat ber-self marketing?

Jwb:

Kelebihan self-marketing:

- Kita punya kontrol penuh terhadap apa yang mau kita promosikan. Mau maksimal atau minimal, itu semua ada di tangan kita sendiri

- Kita punya materi yang paling banyak yg bisa dipromosikan. Kalo orang lain yg promosi, mereka cuma tahu seuprit aja dari kepribadian kita. Bahkan, isi buku kita aja mereka mungkin nggak ngerti

- Penulis yang bisa self-marketing lebih cepat dapat respek dari orang lain. Selain itu, posibilitas karyanya untuk dikenal dan didengar orang lain juga akan meningkat tajam. Peluang bukunya dibeli juga akan meningkat. Kenapa? Karena rata-rata orang lebih pengen beli buku yang penulisnya terkenal / dia pernah dengar.

Itu the power of sugesti sih, hehehe

Kekurangan self-marketing:

- Harus belajar

Ehmm.. Lebih tepatnya, harus mau belajar untuk jadi pribadi yang hebat sih... Soalnya kalo orang pemalu, minder, gitu2 yaa gak bisa survive di self-marketing...

Kalo orangnya introvert gimana?

Naah.. Di sini menariknya.

Teknologi memungkinkan siapa pun untuk melakukan self-marketing tanpa harus jadi orang ekstrovert atau introvert. Kenapa? Karena semuanya jadi sangat mudah. Kalo ngga suka sering-sering berinteraksi sama orang, bikin aja schedulling.... atau reply reply via gadget kan juga ngga mesti ketemu orang

Trus kegagalan pas ngelakuin self-marketing..

Apa ya? Paling yaa waktu trial and error milih-milih media self-marketing yang paling cocok buat kita. Aku punya fan page FB dan Twitter dan Tumblr dan Instagram dan.. hehe banyak deh. Ternyata yang paling efektif itu Twitter. Nah sejak saat itu, yg lainnya aku tinggal. Aku fokus belajar cara self-marketing di Twitter.

8. Saidah:

Fan base bisa terbentuk setelah kita jadi siapa dulu ya?

Jwb:

Nope! Nggak. Hehehe

Aku belum nerbitin buku lho... aku orang IT. Aku baru mulai aktif di dunia literasi tahun kemarin, setelah aku resign.

Sekarang ada 2604 follower di Twitter-ku @NayaCorath, dan @CariPenulis_Com udah punya 2476 follower (padahal baru kubikin awal tahun 2015 ini)

Aku sering dikira penulis profesional yang sukses (aamiin deh) dan sering diminta masukan tips menulis. Pernah juga jadi endorse novel. Padahal aku kan orang IT.

Trus gimana caranya punya fan base padahal belum punya buku?

Simpel. Law of Attraction.

Orang sebenarnya nggak terlalu peduli sama siapa kita. Mereka itu peduli sama manfaat apa yang bisa mereka dapat dari kita.

Nah, kalo kita sering2 share, sering berbagi, sering menolong, bikin diri kita bermanfaat buat orang lain.. Fan base itu akan tercipta dengan sendirinya. Intinya, jangan pelit. Kalo mau self-marketing, sering2 ngasih tips dan info bermanfaat buat orang lain. Kalo sosmed kita isinya cuman jualan aja, yaa orang males hehehe..

9. Lisma:

Cara mengoptimalisasikan self marketing yang terbatas pada blog?

Jwb:

Peraturan pertama: KONSISTEN. Entah mau dua hari sekali, seminggu sekali, dua minggu sekali, atau sebulan sekali, yang penting belajar konsisten dulu. Kalo nulisnya anget2 tai ayam, self-marketingnya gak bakal efektif.

Kunci sukses self-marketing itu adalah konsisten. Kalo kita konsisten, kita akan bikin momentum yang bikin orang selalu ingat sama kita.

Nah.. berikutnya tinggal nambah frekuensi dan kualitas tulisannya aja.

Selain itu, manfaatkan sosmed utk selalu mensugesti orang utk mampir ke blog kita. Misal kalo Wordpress ada fitur "Share on Twitter" atau "Share on FB" itu dimanfaatin aja... SOSMED+BLOG = POWERFUL

10. Marisna:

Setiap penulis punya market sendiri-sendiri?

Jwb:

Setuju.

Itulah kenapa pentingnya self-marketing, karena ketika self-marketing kita akan belajar mengenal diri kita sendiri, ciri khas kita, kekuatan kita.

Contoh:

Sebagai penulis, gaya penulisanku cenderung ringan dan to the point. Aku pribadi emang gak terlalu hobi baca/nulis tulisan yg terlalu mendayu2.. Nah, berarti marketku pasti bukan orang sastra. Marketku itu pasar pembaca tulisan pop.

Nah.. Kalo aku promosinya ke kalangan komunitas pecinta Sastra Indonesia yang hobi baca diksi berat... Yaa buku-ku gak bakal laku lah... yang ada aku malah di-bully. Pasar yang cocok buatku itu pasar remaja.

Mungkin bisa berubah suatu saat nanti kalo skill-ku udah nambah atau taste-ku berubah atau aku berubah jadi super arif, legowo, dan bijaksana gitu.. heuheuheu..

Intinya, kita harus kenali kelebihan dan kekurangan kita untuk tahu pasar mana yang cocok buat kita.

11. Nifa:

Gimana supaya nggak dicuekin orang?

Jwb:

Harus belajar cara self-marketing efektif.

Pertama, harus tahu pasar yang paling pas buat kita. (Seperti dijelaskan di atas)

Kedua, harus belajar cari tahu teknik dan teknologi yg paling efektif. (Misal, jam-jam efektif nge-post Twitter adalah jam 8-10 malam. Di jam itu orang paling banyak baca Twitter. Jadi, maksimalin energi kita di jam efektif itu. Nah kalo nge-post Twitter jam 10 pagi gitu biasanya sedikit yang baca).

Ketiga, apa pun self-marketing yang kita lakukan, orang-orang akan bertanya "What's in it for me?" ("trus apa gunaya buat gue gitu lohh)

Nah makanya.. Di situ pentingnya sharing... Jangan promosi doang, tapi nggak ngasih apa-apa buat orang lain (alias pelit) hehehe

Sering-sering sharing sama sering2 mainin ilmu pencitraan.. hehehe

12. Cici:

Klo kata Kang Dewa,"Sharing-sharing dahulu selling selling kemudian"

Hehe.. gitu kan Mba Naya?

Jwb:

Nah. Ngomongin Twitter nih.. Hehe

Strategi pertama, kita harus spesifik dulu sama target pembaca kita. Misal, pembaca novel humor. Naah, triknya adalah, kita liat daftar followernya penulis novel humor yg udah terkenal (misal Raditya Dika), trus kita follow2-in followernya. Biasanya akan ada yang followback ke kita, kalo mereka tertarik sama akun Twitter kita.

Naah.. Gimana caranya supaya ada orang yg mau follow back? Yaa.. Kita harus bikin isi Twitter kita menarik laah.. Kalo isinya foto2 narsis atau alay-alay gtu biasanya orang males followback.. Tapi kalo isinya motivasi dan tips-tips (atau kalo kita spesialis humor, kita sering posting status humor) atau apa gitu yang sesuai sama target pasar kita, besar kemungkinan orang follow back.

Status yg bermanfaat juga peluangnya besar utk di-retweet... Jadi channel marketingnya jadi nambah, kita di-promosiin sama orang lain.

Aku pernah dengar dari ahli marketing Twitter, minimal jumlah status yg perlu kita post tial hari itu 20 tweet perhari. Nah dari 4 tweet, 3 itu harus tweet bermanfaat, 1 aja yang tweet promosi. Berarti dari 20 tweet, 5 tweet yg isinya promosi. Sisanya tweet bermanfaat.

Tools buat bantu marketing di Twitter ada banyak kok. Salah satunya TweetAdder (untuk ngebantu follow orang dan unfollow dalam jumlah banyan)... Aku juga pakai TweetAdder (bisa kelola banyak akun)... Atau Hootsuite (bisa bikin schedulling.... jadi kalo misalnya hari ini mau fokus bikin tweet untuk setahun ke depan, bikinnya pake itu)...

Aku awal tahun 1 Januari 2015 kemarin ngabisin malem tahun baruan bikin tweet utk setahun ke depan... sampe gempor nih jari wekekek....

Tapi yaa abis itu udah ongkang-ongkang kaki.... Besok2 kalo pun males atau sibuk, tetep bisa eksis di Twitter.

Kenapa itu penting? Karena kunci self-marketing itu harus konsisten. Harus nongol terus, supaya orang inget sama kita.

Enaknya era teknologi adalah... Sekarang kita gak perlu capek2 lagi buat eksis setiap hari. Udah ada teknologinya

13. Di sinilah Tally Syifa baru bergabung ke ruang diskusi T.T (Btw, nomer kesukaannya Mbak Yul sama Mbak Nad yaa :D)

 

******************************************************************

 

Nah... Mulai dari sekarang katakanlah, "Saya adalah penulis!" dan katakan itu ke semua orang.

Jika kita ingin orang lain mengenal kita sebagai seorang penulis, kita-lah yang harus mengumumkannya pada dunia!

Jangan takut self-marketing! Hehehe

Jadi penulis harus pede.

~Naya Corath

See you kiss emotikon

 

Penyunting : TS

Komentar