Daun pun Menangis

ANNIDA ONLINE 2014

Kategori : Cerpen
 

“Ini gara-gara Kakak. Aku udah terkenal jadi anak cengeng di sekolah. Kakak jahat!”

“Iyan...”

“Brak!!!”

Gebrakan pintu memberatkan langkah kakiku. Kubalikkan tubuh lusuh menuju sofa. Melepaskan ikatan tali sepatu namun seolah tali itu berpindah mengikat dada. Aku sudah biasa menjadi pelampiasannya saat ia diejek di sekolah. Namun belum pernah dengan cara seperti ini. Tak biasanya kepulanganku disambut dentum pintu bahkan dengan cerca adikku sendiri.

Aroma tanah panas diguyur hujan menyedak hidung. Membuatku sedikit lega. Bukan karena aku beruntung bisa mengayuh sepeda dengan kencang dan sampai di rumah tanpa basah kuyup. Perjalanan yang sangat aku harapkan segera sampai tujuan. Sebab Iyan memberiku sms bahwa ingin menceritakan sesuatu.

Andai saja anak itu mengalaminya. Tentang aroma ini. Wanginya yang khas. Setelah terik yang menyengat kemudian rintik-rintik air memberi kedamaian. Mungkin hanya aku saja yang berpikir demikian. Ada pula yang berpikir bahwa itu seperti penggorengan yang baru diangkat dari kompor lalu langsung disiram air hingga bunyinya begitu nyaring didengar.

Aku lebih beruntung daripada Iyan. Aku pernah merasakan hujan. Rintik airnya, cipratan-cipratan genangannya yang kusapu dengan  kaki, tanganku yang membuka-menutup mencoba meraih rintik itu. Aku merasakannya! Seperti kupu-kupu yang sangat kecil. Satu per satu hinggap di wajahku kemudian menghilang. Hujan yang tiba-tiba. Aku menikmatinya!

Tapi aku membencinya...

bersambung >> baca selengkapnya

Komentar