Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Daun pun Menangis

Gambar
ANNIDA ONLINE 2014



“Ini gara-gara Kakak. Aku udah terkenal jadi anak cengeng di sekolah. Kakak jahat!”

“Iyan...”

“Brak!!!”

Gebrakan pintu memberatkan langkah kakiku. Kubalikkan tubuh lusuh menuju sofa. Melepaskan ikatan tali sepatu namun seolah tali itu berpindah mengikat dada. Aku sudah biasa menjadi pelampiasannya saat ia diejek di sekolah. Namun belum pernah dengan cara seperti ini. Tak biasanya kepulanganku disambut dentum pintu bahkan dengan cerca adikku sendiri.

Aroma tanah panas diguyur hujan menyedak hidung. Membuatku sedikit lega. Bukan karena aku beruntung bisa mengayuh sepeda dengan kencang dan sampai di rumah tanpa basah kuyup. Perjalanan yang sangat aku harapkan segera sampai tujuan. Sebab Iyan memberiku sms bahwa ingin menceritakan sesuatu.

Andai saja anak itu mengalaminya. Tentang aroma ini. Wanginya yang khas. Setelah terik yang menyengat kemudian rintik-rintik air memberi kedamaian. Mungkin hanya aku saja yang berpikir demikian. Ada pula yang berpikir bahwa itu seperti peng…

Akankah?

Dzu Nuwas tewas tandas
melayang terbang lepas landas
karam di Laut Merah
'Iryadh bangga julang tebas
tahta menyala digilagila
dada sesak benci menyeruak
Abrahah sigap sambut salak
dua perwira di medan laga
hidung ditebas namun menang telak
'Iryadh...
Abrahah...
Najasy naik pitam
Abrahah mengkisut ketakutan
kirim rambut dan tanah Yaman
namun kisruh tetap menyulut di dada
akankAh? akAnkah? Akankah?
dan tewasnya 'Iryadh pun membuatnya menjadi 'Iryadh
kau pun?


TS
Bdg, 24112014

(h)u(j)an

mengatup sepasang kelopak yang merindu mimpi
hirup sejuk tanah basah beraroma kesturi
menyedak hingga merasuk ke hati
wangi
melipur sepi
Lihat!
cacingcacing menggeliat keluar dari persembunyian
seolah telah memasung diri dari ketakutan
akan rutukan yang menggempar bersama jerit halilintar
rutukan pongah cacah menyebut hujan.
Kau!
yang tetap mengalun meski dianggap elegi
yang tetap merinai meski dicerca usai
yang tetap tersenyum dengan warnawarni pelangi
Kau!
yang selalu menyembunyikan bulir dengan bulir
kauku
kasihNya


TS
Bdg, 18112014

Hai masalah yang besar, aku punya Alloh Yang Maha Besar

Teruntuk saudariku yang dirahmati Allah (aamiin)

Mendengar ceritamu aku terdiam. Tak bisa berkata. Takut-takut gumulan rasa yang terpendam dalam dirimu melonjak tidak karuan.

Ya ukhti fillah, aku mengenal dirimu. Seorang wanita tangguh dengan segala keterbatasannya. Tapi engkau lebih mengenal siapa dirimu. Kau bercerita kepadaku bahwa kau jengkel! Marah! Merasa Alloh itu tidak adil.

Alloh memang tidak adil! Itu yang akan kukatakan saat aku melihat teman-temanku memiliki banyak mainan, ayah dan ibu mereka yang selalu memanjakan anak-anaknya di pangkuan, menunjuk sekolah manapun yang sang anak pilih tanpa syarat, harta melimpah ruah, gadget canggih. Itu yang akan kukatakan dengan mata telanjang ini.

Ya ukhti fillah, aku tidak pernah merasakan apa yang engkau rasakan. Rasa sakit secara fisikmu atau sakit yang melukai batinmu. Aku tidak bermaksud sok tahu dalam kehidupanmu. Karena sekali lagi kukatakan, aku tidak pernah merasakan apa yang engkau rasakan.

Aku adalah aku, engkau adalah dirimu se…

OPAPA

Apel merah ranum menggoda
digigit Putri Salju cantik jelita
kress
lena-lena meliuk-liuk
kilau mentereng kinclong silau
Opapa
cantiknya
merah mempesona
SiO berteriak lantang,"Woy, lihatlah di sini ada apel hijau."
Sia berkilah, "Ah Sio, merah sajalah. Ia yang patut dibangga."


TS
Di depan R5405
06102014
___________________________________________________________

SiP beranjak dari tidurnya
"Hoaaam"
lalat jelalat mencelat
"Plak!!!" Sup mengayun raket manyunkan SiP
Opapa
si perut kuning mencumbui apel merah
kedip kedap hening senyap
"Apel tetap cantik, Kok." Sup melangikan senyum



TS
08102014
___________________________________________________________

Apel merah pun hijau adalah apel
merah dibangga, hijau tak diaku
apel merah penyek remuk renyek
Opapa
si APA tersenyum manis
melemparkan akar pohon pada mereka;
penyorak bangga kepada apel merah
"Gigitlah!"
Opapa...



TS
22102014

Belajar dari Kuda

Perbincangan singkat dengan kusir kuda membuat renungan berharga.

#1 Seekor kuda dengan usia +/- 2 tahun sudah bisa dimanfaatkan untuk menarik delman. Mengangkut penumpang dengan berbagai porsi tubuh. Meski dipecut tetap berjalan tanpa menciut.

Terhenyak diingatkan tentang QS 7:179
"Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."

Tergambar perumpamaan dari Allah tersebut. Bagaimana manusia bisa lebih 'sesat' dari binatang ternak. Na'udzubillah..

Dari kuda saya belajar. Bagaimana binatang bisa membawa manfaat. Sedangkan manusia yang lengah, terperosok jauh dari kemanf…

Perkara

I.
Pelik mencekik ruang sidang menjerit
Eksepsi lumer dimakan bukti saksi investigasi
Ruah jaksa menguatkan gulungan si replik
Kisut mengerut sesal mendalam
Anjing dan teman-temannya masa lalu lidah terdakwa mengakar sangar

RAAAAAAAAAAWR!!!

Advokat berdiri tegak dianggap melindur
Kilahnya itu panggilan kepada teman akrab (aku mengernyit-terdakwa mengangguk)
Ringseklah kepala Pak Hakim
Eksekusi berhasil diusir dari kegentaran terdakwa
Probono tak berduit selangit itu memenangkannya

Hanya fiksi


TS
Bdg, 20082014

Hanya untuk ALLAH

Gambar
Kita mungkin bisa mengelak saat orang menegur hati kita tengah menduakanNya dengan yang tak halal. Tapi, pernahkah bertanya pada nurani? Bahwa kita tengah terombang-ambing dalam kegelapan tanpa parafin?

Sepi menjuntai halangi langkah mengejar mimpi. Seolah butuh semangat untuk diri. Berdiri tegak melangkah dengan genggaman erat si 'dia'. Dia yang bukan mahram. Dia yang parasnya mengelilingi setiap sudut. Dia yang... ah, semoga kau tahu maksudku.

Hari ini aku tak bermaksud menggurui. Tapi, aku pun ingin menjadi pengingat diri sendiri.

Inna Sholati Wanusuki Wamahyaya Wamamati Lillahi Robbil 'aalamiin
Sungguh miris, jika engkau wahai teman, bersedia MATI untuk 'dia'. Sekali lagi kukatakan; Dia yang bukan mahram. Dia yang parasnya mengelilingi setiap sudut. Dia yang... ah, semoga kau tahu maksudku.

Sesungguhnya..
sholatku,
ibadahku,
hidupku,
dan matiku hanya untuk Allah.

‪#‎selfreminder‬

Belajar dari Kuda

Perbincangan singkat dengan kusir kuda membuat renungan berharga.

#1 Seekor kuda dengan usia 1 tahun sudah bisa dimanfaatkan untuk menarik delman. Mengangkut penumpang dengan berbagai porsi tubuh. Meski dipecut tetap berjalan tanpa menciut.

Terhenyak diingatkan tentang QS 7:179
"Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."

Tergambar perumpamaan dari Allah tersebut. Bagaimana manusia bisa lebih 'sesat' dari binatang ternak. Na'udzubillah..

Dari kuda saya belajar. Bagaimana binatang bisa membawa manfaat. Sedangkan manusia yang lengah, terperosok jauh dari kemanfaatan…

Yang Luput Saat Lebaran

Gambar
Ramadhan tahun ini tinggal beberapa hari lagi. Hal yang tak asing saat Ramadhan adalah acara 'salam-salaman' kegiatan silaturahmi antar keluarga, tetangga, sahabat, dll. Di situ saya termenung...






WAHAI WANITA SIAPAKAH MAHRAM KALIAN ?

Mereka adalah para lelaki berikut..
Mereka tidak boleh menikahimu selama lamanya.

Mereka adalah:
1. Anak lelakimu
2. Cucu laki lakimu kebawah dari jalur apapun
3. Ayahmu
4. Kakekmu keatas dari jalur manapun.
5. Saudara lelaki sekandung
6. Saudara lelaki seayah
7. Saudara lelaki seibu
8. Anak laki dari saudara atau saudarimu (sekandung, seayah atau seibu). (Pokoknya si dia keponakan kita)
9. Pamanmu dari jalur manapun baik dari saudara ayah atau saudara ibu
10. Saudara kakekmu dari jalur kakek manapun.
11. Suami ibumu atau mantan suami ibumu( mantan suami yg pernah bersetubuh dg ibumu)
12. Anak laki suamimu yg ia bawa atau anak laki dari mantan suamimu.
13. Mertuamu ( baik ayah dia atau kakek keatas) atau mantan mertuamu
14. Menantumu atau mantan menantumu.
15 Saudar…

Ajari Aku; Caribbean

Gambar
Cerita tentang kematian
Awak kapan inginkan kedamaian
Riuh rendah kericik harta rampasan
Induk yang mati disia-siakan, meninggalkan anaknya
Barbarosa kehilangan pelangi jiwa
Beratus-ratus tahun hidup mati hidup mati hidup mati hidup  hanya berkoma
Enyahlah. Enyahlah! Ia meneriaki diri
Ajaknya kumpulkan medali sepeti
Namun peluh percuma sebab kutukan bersyarat darah bukan milik si putri

*

Jack
Oh ... Kapten Jack Sparrow
Dia menemukan Tuan Turner
William berkait Turner asli, bukan Elizabeth
Darahnya mendarahkan

*

Merah dan emas bersatu
Dingin pun merayap datang memeluk panas
Harta yang tak diduga
Maka nikmat Rabb-mu manakah yang kamu dustakan?

*

Ajari aku
Ajarilah, tentang nikmat yang tak mereka dapatkan

TS
Bdg, 04062014


*ilustrasi: http://media.worldbulletin.net/250x190/2013/10/05/korsan.jpg

Cenningrara - LMCR 2013

Nominasi LMCR 2013 yang dibukukan:

“Cenningrara” karya Inayah Syar
“Balada Mbah Kondor, Tanjidor dan Super Junior” karya Arief Sunarya
“Alegori Hujan” karya Resna J Nurkirana
“Gamelan Dari Negeri Impian” karya Isma Farikha Latifatun Nuzulia
“Memories of You” karya Annisa Ramadona
“Senandika Cinta Passiliran” karya Faisal Oddang
“Aku juga Suka Kamu” karya Ronie Permana
“Bayangan Pohon Ranggas Sekarat di Permukaan Telaga” karya Vinny Erika Putri
“Bintang dan Langit Malam” karya Ghina Zakia Nurjaman
“Bisikan Pertanyaan” karya Wildan Ismail
“Bisu Kata Sugih Berada” karya Tally Syifa
“Cold Tea” karya Annisa Maria Nur Tri Pamungkas
“First Love Regret” karya I Gusti Ayu Mita Cestalia Putri
“Gadis Kecil di Taman Kota” karya Willy Aryanto
“Gendut” karya Starin Sani
“Leddi (Si) GaGa” karya Eti Rahmi
“Rumawati” karya Rurin Kurniati
“Sebuah Janji, Sebatang Coklat” karya Shela Puzi Dina
“Tanah yang Kau Sebut Rumah” karya Endah Tri Anomsari

Tanpa Hasrat; tentangnya

Gambar
erat jemariku memeras pena
darah siapakah yang akan menjelma dari tinta
gelak gagak melagu
anak gadis menangis pilu
racauan enigma tentang kematianmu

asphodel yang menggantikan daisy, kau ingat?
lamunanku menikmati alur yang mengalir indah
liku lukamu menggeliat lugu
aku pun terhenyak dengan ceritamu yang bermadah
namun kembali terdegup menganga dengan anyir yang kau ceritakan

pada hasrat yang menggilakan hati
obat fiksimu seolah menjadi candu dalam fiksi
elakku takut, namun ingin sekadar bisa sepertimu untuk bermadah dengan cara yang berbeda-untukNya


TS
Bdg,10042014



*ilustrasi; dari google

Wahai Hati, Bersabarlah

"Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."
QS. Ath Thur (51) ayat 16

Ada rasa kecewa saat apa yang sudah dikerjakan ternyata harus dirubah lagi. Mengulanginya dari awal. Menghapus noda-noda yang mewarnai si putih. Membuatnya bersih lalu menorehkan tinta kembali. Bukan sekadar memberi warna. Pun harus menatap satu demi satu nilai rupiah berbilang. Membuatnya seimbang meski 0,1 rupiah yang belum pernah kudengar cetakannya dari si BI.

Ayat itu melegakan semuanya. Seolah menampar kelenaan hati dengan kekecewaan. Mengingatkan untuk bersabar semasih Allah memberi kesempatan untuk kita bersabar. Sebelum kesabaran tidak ada artinya.

Dan banyak orang yang diuji dengan kesabaran lainnya. Apalagi mereka yang diuji ketaatannya pada Rabb namun mereka tetap sabar. Sungguh indah iman mereka, membuat diri iri kepadanya.

Ishbir...
Ishbir...
Ishbir...

Kata Abu Bakar ra, "…

HARAP

I
Dirundung pilu menyuguh bisu
Dalam persakitan ada kenikmatan
Dekapan tak mendetak
Diamnya melarut suasana

II
Dian retak-retak menua
Daundaun melayu di atas corongnya
Desis angin mencoba bergelut
Dan api mulai limbung

III
Menepi sepi
Membaurkan warnawarna hati
Melukiskan pelangi di atas kanvas ternoda
Merah pekat indah tanpa kuning, kuning dan biru

IV
Ia tersenyum bersama lukisannya
Membentuk pelangipelangi yang lain
Isak tak ada lagi
Menjelma tawa bahagia

I
Dalam kesendirian terkatungkatung
Derap langkah terseokseok
Di sebuah panggung ia tampil mempesona
Duka kuas persembahan untukNya


TS
Bdg, 24032014