Kilometer Sedekah

eLKa Sabili Edisi 20 Th. XIX, 5 Juli 2015

Kilometer Sedekah


Karya : Nurhikmah Taliasih (Tally Syifa)


Kilometer bergerak tak pasti

“Jika kau hidup sampai seratus tahun, aku ingin hidup seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu.”

“Jika ini adalah tahun yang ke-99, apa yang akan kau lakukan untukku?”

“Aku ingin bersedekah dengan menjadi imammu untuk membungkuk, letakkan dahi kita bersama di padang belantara.”

“Kenapa kita tidak melakukannya sekarang?”

Sepasang bola mata terjerembab. Tak bergerak. Dalam-dalam menelan saliva membuat jakunnya lebih menonjol sejenak. Gurat-gurat sendu mengikis ulu hatinya. Seperti luka dicuci dengan sublimat. Bergetar tangannya ketika hendak mengusap kening yang selama ini belum pernah dibasuh air suci. Bibirnya mengatup dan membuka tak bersua. Sesak.

Sementara gadis yang terbujur itu terdiam di atas ranjang melihat jeriji panjang mendekat padanya. Ia hanya bisa meremas dengan jemari lentik kain yang mengalasinya. Memberi kedutan pada rongga dada sebelah atas untuk segera memulai cerita.

***


Kilometer mulai bergerak

Semua hening tersengat tuturan bocah yang sepertinya baru kemarin bisa berjalan. Namun rasa lega menyeringai pada diri bocah itu, Valent, usai ia bicara. Gejolak di hatinya semakin mereda.

Secupak takkan jadi segantang. Api tetaplah api. Seraut kemerahan nampak di wajah seorang lelaki yang tengah menatap lurus ke luar jendela. Meletakkan satu tangan di jeruji jendela dan tangan lainnya diumpat di belakang. Mencerna baik-baik ucapan sang putra.

“Apa yang kau mau, Nak? Mobil mewah? Gadget canggih? Ayah akan belikan!”

“Val tidak butuh itu saat di akherat, Yah.”

“Braakk!!!”

“Anak durhaka! Minta ampunan pada tuhan!” tangan kasar menarik kerah di leher Val, kemudian mendorongnya hingga ia jatuh tersungkur mencium kaki ibunya.

“Tak tahu diri!” ayunan kaki dari seorang wanita menendang pipinya.

“Brukk!” setumpuk buku tebal di atas meja menimpuk punggung Val. Bocah itu meringis karena sakit yang teramat. Keluh hampir tak terdengar. Batinnya serasa dicambuk. Namun kakinya menyorak untuk bangkit begitu di lantai beberapa lembaran jatuh berserakan.

“Ayah, tolong kembalikan.”

“Ini hanya buku dongeng! Buku manusia purba. Buku yang tak pernah diupdate, mengerti!”

“Ayah, Val mohon. Ini ruh Val ... ini pelita Val …” digenggam erat tungkai ayahnya dengan mata berair deras. Mengisut. Kemudian diangkat tubuh itu dan diseret oleh tubuh gempal yang dimiliki lelaki dewasa.

Mencapai sebuah tempat dengan jarak sepuluh meter. Terhenti langkah kaki yang terseok. Melayangkan tendangan hingga darah dagingnya sendiri membentur tembok. Keras. Hati bocah kecil itu berbisik pada dirinya, “adalah sedekah. Adalah sedekah.”

Mendekatlah seorang wanita yang pernah meminjamkan kantung selaputnya pada anak itu. Dia berdiri terdiam, kemudian bersidekap. Mata sang buah hati menatapnya, semakin memilu.

Seisi ruangan terpaku. Ingin menyerbu. Menjadi tameng. Namun tubuh mereka tak dapat bergerak. Denyut sekalipun tidak. Hanya jiwa mereka bergejolak. Sebuah gagang pintu ditarik. Menderit engsel yang lama tak bercumbu dengan zat berlemak.

Sedikitpun gentar tak merancukan pendirian Val. Ia tak mampu menampik perlakuan ayahnya. Tak juga ia tunduk menurut. Dia berpendirian. Tiangnya adalah yang paling kokoh ketika ditegakkan berjejer dengan teman-temannya. Sekalipun ia bocah kurus ceking yang masih belia. Belum cukup umur bergaul dengan yang dewasa. Jari kaki dan tangan masih lebih untuk menghitung usianya.

Sebuah suara menggetarkan jiwa. Alunannya bernada indah merasuki gendang. Bulu kuduk seakan mendengar seruan kebangkitan. Rangkaian waktu terasa berhenti. Matahari seakan beristirahat. Bumi tak berotasi. Hembus angin tak berasa lagi. Semua mendongak. Tak ingin merugi mendengar walau hanya sepenggal sabda Rasulullah saw.

Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.[1]

Val tersenyum. Menarik nafas dan menutup matanya. Bibirnya bergetar. Mengucap kalimat-kalimat tak jelas.

“Aku sudah melarangmu bermain dengan anak kyai itu. Tapi kenapa kau tidak menurut, ha!” bola mata yang hampir melompat keluar itu tiba-tiba hanya berjarak tak lebih dari dua sentimeter.

Semua tersentak. Angin berlari, matahari kembali beroperasi, bumi berotasi.

Tak akan ada habisnya dosa lelaki itu. Jika sang istri tak segera mengambil alih bersama sapu lidinya.

“Ayah, biar ibu yang memberinya peringatan. Istirahatlah.”

“Kak Val!” gadis kecil yang rajin berurusan dengan jarum suntik itu mendekat.

“Sayang, ikut Ayah, ya.” Digendongnya tubuh mungil itu.

“Kak Val, Ayah … Kak Val ….” Sepasang mutiara itu berair. Tak bisa ia melonjak dari tubuh ayahnya. Hanya bisa meratapi sang kakak yang terbujur di lantai

“Ibu ...” mata nan bening itu berharap ada suatu keganjilan yang terjadi.

“Masuk!”

“Greb!!!” begitu Val terjengkang oleh dorongan si ibu, daun pintu gudang kontan terbanting dengan keras.

***


Kilometer terhenti

“Belum saatnya.”

“Kapan Kak? Apakah aku bukan orang yang berhak kau sedekahi? Atau kau menunggu malaikat mengenakan selendang untukku?” gadis itu melempar pandangannya, “aku tidak tahu sampai kapan katup buatan ini akan bertahan. Entah tahun depan, bulan depan, minggu depan, lusa, atau detik ini. Mungkin kau juga akan melakukan ini pada ibu?”

“Ibu?”

***


“Anak tak tahu diri!”
“Plak!!!”

Cambukan lidi-lidi mengamuk. Bunyinya terdengar hingga ke luar gudang. Dari lubang kunci dapat terlihat seorang anak tengah memburaikan air matanya. Memeluk erat tengkuk yang mulai renta.

“Ibu …”

“Menangislah, Nak. Menangislah yang keras.” Suaranya parau. Ia memandang ke depan.

“Plak!!!” lecutan lidi terdengar kembali. Isak tangis seorang bocah semakin meninggi. Suara parau itu mengamuk, makiannya menjadi. Siluetnya bertafsir seekor harimau yang murka karena anaknya salah menggigit area tubuhnya.

“Ibu, jangan memukul-mukul kursi terus…”

“Nak, maafkan ibu. Biarkan ibu begini, dan kau pergilah menemui paman Syam, Kau aman di sana.” wanita itu terduduk memegangi wajah anaknya.

“Bergegaslah!” Dibukanya sebuah jendela yang berada di sisi gudang.

***


Kilometer mulai bergerak kembali

“Setelah kepergianmu lima tahun silam ibu dan ayah sering bersiteru dan berujung pada perceraian. Aku tak tahu kemana ibu pergi karena ayah menahanku. Semalam, nenek Han bilang ibu di rumah sakit. Insomnia akut membuatnya menelan banyak obat tidur.” Bayangan wanita itu mengahantui Val. Menggeliat dengan senyumnya. Kemudian Val bangkit. Tubuhnya berbalik.

“Kemana?” tangan El menahannya.

“Bersedekah dengan menanamkan dua kalimat syahadat di hati ibu.” Pandangannya menerawang ke depan.

“Tunggu.” Suaranya membuat Val berbalik penuh tanda tanya.

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah. Wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” Senyum mengambang. Lafadz itu sungguh menggetarkan. Air mata Val tanpa sadar mengalir.

Kemudian Val mengecup kening adiknya, membisikkan tasbih dan berlalu pergi. Tak banyak waktu yang ia punya kecuali ada keajaiban untuk ibunya. Saat dia membuka pintu kamar rumah sakit, tubuh gempal dengan mata berlensa menghadangnya bersama dua bodyguard tambun. Val menyelusup di antara mereka kemudian berlari sekeras mungkin. Ayahnya sendiri mengejarnya seakan dia adalah teroris.

Dada El bergemuruh. Ingin menahan ayahnya namun mustahil. Mereka sudah melesat jauh. Nafasnya terasa berat. Tasbih yang terpenggal-penggal melantun dari mulutnya. Sedikit demi sedikit sepasang cahaya yang berpendar mulai meredup.

Sosok Val yang tengah tergopoh-gopoh melintas dalam penglihatan jiwanya. Di lain tempat sosok ibunya dengan tubuh keriput sedang kesakitan, tangannya terulur meminta pertolongan.

Tasbih terus melantun. Tiba-tiba cahaya terang menyilaukan pandangan. Banyangan Val melintas kembali. Pada tempat yang sama, sebuah truk pengangkut sampah menari di atas aspal. Ayunan kaki Val semakin kencang. Bunyi dentuman mencegat aliran darah. Terasa beku. Sedetik kemudian ia hilang bergantian dengan datangnya seraut wajah tampan dan seraut wajah wanita tanpa keriput bercahaya. Mereka tersenyum.

***


 

Komentar